Ekspor Bijih Nikel Akan Dilarang, Bos Antam: Kontribusinya Hanya 7 Persen

PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) mengantongi pendapatan unaudited dari bijih nikel senilai Rp1,76 triliun pada semester I/2019, tumbuh 107% secara tahunan.
M. Nurhadi Pratomo
M. Nurhadi Pratomo - Bisnis.com 21 Agustus 2019  |  18:44 WIB
Ekspor Bijih Nikel Akan Dilarang, Bos Antam: Kontribusinya Hanya 7 Persen
Menteri BUMN Rini M. Soemarno didampingi Direktur Utama PT Inalum (Persero) Budi G. Sadikin dan Direktur Utama PT Antam Tbk Arie Ariotedjo mengunjungi pabrik Zhejiang Huayou Cobalt Company Ltd. dalam kunjungannya ke China (17/5/2018). Kunjungan Menteri Rini ini dalam rangka menjajaki kerja sama untuk mempercepat hilirisasi industri pertambangan di Indonesia. - KEMENBUMN

Bisnis.com, JAKARTA— PT Aneka Tambang Tbk. menyatakan pengaruh larangan ekspor bijih nikel hanya berdampak kecil terhadap pendapatan perseroan.

Direktur Utama Aneka Tambang Arie Prabowo Ariotedjo menjelaskan bahwa komoditas nikel dan feronikel berkontribusi 29persen terhadap total pendapatan perseroan. Dari jumlah itu, kontribusi bijih nikel hanya 7 persen.

“Disetop hanya 7 persen, jadi 22 persen masih oke,” ujarnya di Jakarta, Rabu (21/8/2019).

Lebih lanjut, Arie mengatakan dengan asumsi target pendapatan Rp30 triliun, larangan bijih nikel akan menghilangkan pendapatan perseroan sekitar Rp2 triliun. Nilai tersebut sekitar 6 persen—7 persen dari target yang dibidik tahun ini.

Dia menyebut emiten berkode saham ANTM itu memiliki portofolio produk selain bijih nikel. Komoditas lain yang berkontribusi terhadap pendapatan perseroan, di antaranya emas dan bauksit.

“Bauksit tidak terpengaruh, emas kami tingkatkan jadi akan mengkompensasi pendapatan yang hilang dari bijih bauksit. Jadi, margin akan tergantikan oleh emas, bauksit, dan feronikel,” imbuhnya.

Sebelumnya, ANTM melaporkan penjualan bersih yang tidak diaudit Rp14,43 triliun pada semester I/2019. Nilai itu naik 22 persen dari Rp11,82 triliun periode yang sama tahun lalu.

Secara detail, perseroan pertambangan milik negara itu melaporkan penjualan yang tidak diaudit atau unaudited emas mencapai 15.741 kilogram (kg) pada semester I/2019. Realisasi tersebut tumbuh 14 persen dibandingkan dengan 13.760 kg per akhir Juni 2018.

Komoditas emas merupakan kontributor terbesar terhadap nilai penjualan unaudited ANTM pada semester I/2019. Lini usaha itu menyumbangkan Rp9,61 triliun atau 67 persen dari total nilai penjualan Januari—Juni 2019.

Sementara itu, ANTM melaporkan penjualan unaudited feronikel mencapai 13.157 ton nikel dalam feronikel (TNi) pada semester I/2019. Jumlah tersebut naik 5 persen dibandingkan dengan penjualan 12.579 TNi pada semester I/2018.

Dari sisi produksi, volume unaudited feronikel mencapai 13.017 TNi. Posisi tersebut naik 2 persen dari 12.811 TNi pada semester I/2018.

Penjualan feronikel menjadi kontributor pendapatan terbesar kedua untuk total penjualan unaudited ANTM pada semester I/2019. Komoditas itu berkontribusi sekitar Rp2,31 triliun atau 16% dari total penjualan.

Pada semester I/2019, penjualan unaudited bijih nikel mencapai 3,90 juta wet metric ton (wmt). Posisi itu naik 103% dari 1,92 juta wmt pada semester I/2018.

Volume produksi unaudited bijih nikel tercatat mencapai 4,79 juta wmt sepanjang Januari 2019—Juni 2019. Pencapaian itu tumbuh dari 3,77 juta mwt pada semester I/2018.

ANTM mengantongi pendapatan unaudited dari bijih nikel senilai Rp1,76 triliun pada semester I/2019. Nilai tersebut tumbuh sebesar 107% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
antam, aneka tambang

Editor : Ana Noviani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top