Ini Strategi Kalbe Farma (KLBF) untuk Jaga Margin Laba

Belanja modal yang telah diserap PT Kalbe Farma Tbk. mencapai Rp912 miliar hingga semester I/2019 dari total belanja modal senilai Rp1,5 triliun - Rp2 triliun pada tahun ini.
Azizah Nur Alfi
Azizah Nur Alfi - Bisnis.com 21 Agustus 2019  |  12:47 WIB
Ini Strategi Kalbe Farma (KLBF) untuk Jaga Margin Laba
Presiden Direktur PT Kalbe Farma Tbk. Vidjongtius (kedua kiri), memberikan paparan didampingi Presiden Komisaris Irawati Setiady (dari kiri), Direktur Bernadus Karmin Winata, dan Direktur Bujung Nugroho, saat RUPST di Jakarta, Selasa (5/6/2018). - JIBI/Dwi Prasetya

Bisnis.com, JAKARTA - PT Kalbe Farma Tbk. menaikkan harga jual untuk beberapa produk di segmen obat bebas hingga 5% untuk menjaga margin laba perseroan.

Direktur Kalbe Farma Bernadus Karmin Winata mengatakan, perseroan melakukan penyesuaian harga penjualan untuk obat batuk maksimal 5%. Kenaikan harga jual produk ini seiring dengan kenaikan harga bahan baku seiring fluktuasi rupiah.

Pada awal semester II/2019 ini, perusahaan farmasi itu belum menaikkan harga jual produk. Meski demikian, emiten dengan kode saham KLBF ini tidak menutup kemungkinan kembali kenaikan harga jual hingga akhir tahun ini.

"Harga jual tentu harus disesuaikan dengan kondisinya. Kalau sekarang OTC semua stabil, ya tidak ada perlunya menaikkan harga," katanya, Selasa (20/8/2019).

Dalam paparan publiknya, KLBF memproyeksikan dapat menjaga margin laba sebelum pajak di level 14,5%-15,5%. Adapun, penjualan dan laba bersih ditargetkan dapat tumbuh 6%-8% pada tahun ini.

Hingga semester I/2019, perseroan mengantongi penjualan senilai Rp11,18 triliun atau tumbuh 7,69% secara tahunan. Demikian pula, laba bersih senilai Rp1,26 triliun atau tumbuh 3,48% secara tahunan pada periode itu.

Ekspansi Pabrik

Adapun, belanja modal yang telah terserap mencapai Rp912 miliar hingga semester I/2019 dari total belanja modal senilai Rp1,5 triliun - Rp2 triliun pada tahun ini. Belanja modal digunakan untuk pembangunan fasilitas produksi Kalbe di Myanmar, fasilitas produksi Saka Farma, fasilitas produksi Bintang Toedjo.

Bernadus menjelaskan, pembangunan fasilitas produksi untuk obat bebas di Myanmar telah dilakukan sejak awal tahun ini. Perseroan memperkirakan konstruksi dapat selesai pada akhir tahun ini.

Investasi fasilitas produksi salah satunya untuk obat Mixagrip ini menelan investasi senilai Rp250 miliar - Rp300 miliar. Fasilitas produksi yang bertujuan melayani penjualan ke negara Asean itu, diperkirakan dapat beroperasi komersial dalam 2-3 tahun mendatang.

Perseroan berharap fasilitas produksi tersebut dapat mendorong penjualan ekspor yang saat ini 5% dari total penjualan menjadi 10% terhadap penjualan dalam 5 tahun mendatang.

Lebih lanjut, Bernadus memperkirakan belanja modal pada 2020 sekitar Rp1 triliun - Rp1,5 triliun.

"Capex maintain di sekitar Rp1 triliun - Rp1,5 triliun karena kami yakin capex yang besar-besar sudah selesai. Lima tahun kemarin banyak sekali pembangunan pabrik," imbuhnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kalbe farma

Editor : Ana Noviani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top