Merosot Lagi, Ini Sentimen Penekan Harga Minyak

Berdasarkan data Bloomberg, hingga pukul 13:20 WIB, harga minyak mentah West Texas Intermediate melemah 0,50% atau 0,27 poin ke posisi US$54,23 per barel. Harga minyak mentah Brent melemah 0,44% atau 0,26 poin ke posisi US$58,27 per barel.
Dika Irawan
Dika Irawan - Bisnis.com 12 Agustus 2019  |  14:51 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Harga minyak mentah merosot pada Senin (12/8/2019), di tengah kekhawatiran perlambatan ekonomi dan perang dagang Amerika Serikat – China yang telah menyebabkan penurunan prospek pertumbuhan minyak.

Berdasarkan data Bloomberg, hingga pukul 13:20 WIB, harga minyak mentah West Texas Intermediate melemah 0,50% atau 0,27 poin ke posisi US$54,23 per barel. Harga minyak mentah Brent melemah 0,44% atau 0,26 poin ke posisi US$58,27 per barel.

Alfonso Esparza, analis pasar OANDA Toronto mengatakan, harga minyak jatuh pada awal pekan ini karena prospek permintaan yang lebih rendah pada pekan lalu.

“Selain itu juga karena pesimisme tentang kesepakatan perdagangan AS dan China,” katanya seperti dikutip dari Reuters, Senin (13/8/2019).

Perselisihan dagang antara China dan AS telah mengguncang pasar ekuitas global pekan lalu. Sementara itu, kejutan meningkatnya stok minyak mentah AS, makin menambah tekanan pada harga minyak mentah.

Harga minyak telah merosot sekitar 20% dari level puncak tahun ini yang tersentuh pada April 2019.

Dalam sebuah catatan, Goldman Sachs mengatakan, kekhawatiran perang dagang AS-China yang mengarah ke resesi tengah meningkat. Diperkirakan kesepakatan perdagangan antara kedua negara akan terjadi sebelum pemilihan presiden AS 2020.

Badan Energi Internasional (IEA) melaporkan, tanda-tanda pelambatan ekonomi tersebut telah menyebabkan permintaan minyak global tumbuh pada laju paling lambat sejak krisis keuangan 2008.

Badan yang berbasis di Paris itu memangkas prediksi pertumbuhan permintaan minyak global 2019 dan 2020 masing-masing menjadi 1,1 juta dan 1,3 juta barel per hari (bph).

Di tempat lain, produksi minyak Rusia naik menjadi 11,32 juta barel per hari pada 1-8 Agustus, naik dari rata-rata 11,15 juta barel per hari pada Juli. Dua sumber industri yang mengetahui data kementerian energi mengungkapkan hal tersebut.

Pada Juli, Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya termasuk Rusia sepakat untuk memperpanjang pengurangan pasokan hingga Maret 2020 untuk menopang harga minyak.

Dalam tanda produksi yang lebih rendah di Amerika Serikat, hitungan rig minyak AS mingguan, indikator awal output masa depan, turun untuk minggu keenam berturut-turut karena produsen memangkas pengeluaran untuk pengeboran dan penyelesaian baru.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
komoditas, minyak

Editor : Ana Noviani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top