Telkom (TLKM) Kucurkan Belanja Modal untuk Kebut Jaringan 4G

Belanja modal PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk. digunakan untuk pembangunan jaringan akses serat optik ke rumah, serta jaringan backbone.
Duwi Setiya Ariyanti
Duwi Setiya Ariyanti - Bisnis.com 12 Agustus 2019  |  18:15 WIB
Telkom (TLKM) Kucurkan Belanja Modal untuk Kebut Jaringan 4G
Direktur Utama PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk Ririek Adriansyah (kedua kiri) menyapa wartawan di sela-sela Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST), di Jakarta, Jumat (24/5/2019). - Bisnis/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA - PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) fokus mengejar realisasi belanja modal pada jaringan 4G pada sisa tahun ini. Perseroan mengalokasikan capex sebesar 27% dari pendapatan.

Ririek Adriansyah, Direktur Utama Telekomunikasi Indonesia, mengatakan pada semester I/2019 perseroan merealisasikan belanja Rp15,1 triliun. Pada paruh pertama 2019, perseroan membelanjakan modal guna mengembangkan infrastruktur broadband untuk mobile maupun fixed broadband.

Pada bisnis mobile, belanja modal dialokasi untuk pengembangan kualitas dan kapasitas jaringan 4G serta pengembangan sistem IT. Sementara untuk fixed broadband, belanja modal digunakan untuk pembangunan jaringan akses serat optik ke rumah, serta jaringan backbone.

Sebagai gambaran, hingga semester I/2019, perseroan mengoperasikan 204.198 base transceiver station (BTS). Perinciannya, 15.117 BTS berbasis 4G sehingga total BTS 4G Telkomsel menjadi sebanyak 71.789 unit. Dengan demikian, 75,4% dari total BTS adalah BTS 3G dan 4G.

Serat Optik

Sementara itu, hingga medio 2019, Telkom telah membangun tambahan backbone serat optik sepanjang sekitar 2.600 km sehingga mampu merealisasikan penambahan sambungan rumah Indihome dengan pertumbuhan jumlah pelanggan 45,1% menjadi 6 juta.

Adapun, dia menyebut pada sisa tahun ini pihaknya menargetkan bisa membelanjakan 27% dari porsi pendapatan pada tahun ini. Fokus belanja modal perseroan, katanya, masih pada jaringan seluler 4G.

"Realisasi capex kami Rp15,1 triliun. Rencana ke depan (hingga akhir tahun) kira-kira di 27% revenue. Setengahnya di mobile, setengahnya di tempat lain," ujarnya, belum lama ini.

Dia menuturkan pengembangan jaringan 4G pun sebagai salah satu cara meningkatkan EBITDA margin. Menurutnya, pengoperasian jaringan 4G lebih efisien dibandingkan dengan pengoperasian BTS 3G sekaligus mendorong peningkatan konsumsi data pelanggan.

Oleh karena itu, pihaknya tak lagi melakukan penambahan BTS 3G. Bahkan dia pun menuturkan secara bertahap akan mengurangi pengoperasian BTS 3G bila ketersediaan BTS 4G telah memadai.

"Enggak invest lagi di 3G karena secara cost, 4G lebih efisien," katanya.

Menurutnya, pada sisa tahun ini pertumbuhan pelanggan Indihome terus digenjot sehingga bisa berkontribusi 15% terhadap pendapatan perseroan. Dengan berbagai layanan yang ditawarkan, dia mendorong penetrasi yang lebih luas termasuk melalui konten gim.

"Indihome ada layanan beberapa layanan, triple play. Itu yang akan kami dorong. Game yang juga akan didistribusikan ke rumah-rumah," katanya.

Ririek menyebut bisnis internet rumah masih menjanjikan kendati bila mengandalkan sambungan serat optik, investasi yang dikeluarkan terlalu besar. Bahkan, untuk beberapa wilayah, penetrasi internet rumahan melalui serat optik tak memenuhi skala ekonomi karena faktor geografis.

Dia pun berencana agar bisa menyediakan layanan internet ke rumah tak hanya dengan serat optik, tetapi lewat jaringan nirkabel dan satelit.

"Nantinya tidak hanya dengan fiber optic tapi juga dengan wireless, satelit. Saya yakin di negara kami untuk membangun fiber enggak banyak, per homepass terlalu mahal," katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
telkom, kinerja emiten

Editor : Ana Noviani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top