Investor Masih Demam Emas

Berdasarkan data Bloomberg, pada perdagangan Kamis (8/8/2019) hingga pukul 13.39 WIB, harga emas di pasar spot bergerak stabil di level US$1.500,13 per troy ounce.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 08 Agustus 2019  |  14:37 WIB

Bisnis.com, JAKARTA - Harga emas di pasar spot berhasil menembus US$1.500 per troy ounce pada perdagangan Kamis (8//8/2019), menyusul emas berjangka yang telah lebih dulu menembus level psikologis tersebut pada perdagangan sebelumnya.

Berdasarkan data Bloomberg, pada perdagangan Kamis (8/8/2019) hingga pukul 13.39 WIB, harga emas di pasar spot bergerak stabil di level US$1.500,13 per troy ounce. Sementara itu, harga emas berjangka untuk kontrak Desember 2019 di bursa Comex mulai bergerak terkoreksi 0,48% menjadi US$1.512,3 per troy ounce.

Mengutip publikasi Societe Generalis, harga emas berhasil menembus US$1.500 per troy ounce untuk pertama kalinya sejak 6 tahun terakhir, karena investor tengah demam emas seiring dengan kekhawatiran pasar terhadap meningkatnya ketidakpastian global.

"Demam emas oleh investor ditopang oleh banyak sentimen, termasuk tahap siklus ekonomi saat ini, pencarian tempat perlindungan, dan pembelian emas oleh bank sentral," tulis Societe Generalis seperti dikutip dari Reuters, Kamis (8/8/2019).

Sementara itu, Direktur Perdagangan Logam High Ridge Futures David Meger mengatakan bahwa terdapat banyak alasan mendasar di balik kekuatan emas sehingga menambah ekstensi harga emas ke atas US$1.500 per troy ounce dan menjadikan emas sebagai bintang pertunjukan.

"Pelonggaran kebijakan moneter oleh bank sentral, yang juga terus-menerus menumpuk emas sebagai cadangan devisanya, pembacaan ekonomi yang lemah secara global, dan ketegangan perdagangan yang sedang berlangsung, memicu laju emas," papar David.

Seperti yang diketahui, dua negara dengan ekonomi terbesar di dunia, AS dan China, telah terkunci dalam pergolakan perdagangan yang pahit sejak setahun lalu.

Perang dagang kembali meningkat ketika Presiden AS Donald Trump mengatakan, akan mengenakan tarif impor tambahan 10% untuk produk China dan Negara Panda pun membalas ancaman tersebut dengan melemahkan yuan melewati level 7 yuan per dolar AS.

Adapun, eskalasi perang dagang semakin memperburuk proyeksi pertumbuhan ekonomi global sehingga meningkatkan pamor emas sebagai aset safe haven.

Di sisi lain, Kepala Strategi komoditas di TD Securities di Toronto Bart Melek mengatakan bahwa kemorosotan imbal hasil obligasi AS dan saham-saham Wall Street juga menjadi faktor yang memicu reli penguatan emas.

"Dengan volatilitas yang secara signifikan lebih tinggi dan risiko koreksi di pasar ekuitas tumbuh setelah aksi jual beberapa hari yang cukup buruk, emas sepertinya menarik investor pada tingkat yang sangat cepat," papar Bart.

Selain itu, emas tidak hanya menguat terhadap dolar AS, logam mulia tersebut pun berhasil menguat dalam pound Inggris, yen Jepang, dolar Australia, dan rupee India hingga mencapai rekor tertinggi.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
emas, komoditas

Editor : Ana Noviani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top