Emas Semakin Berkilauan

Emas melanjutkan reli penguatannya dan mencetak rekor level tertinggi sejak 6 tahun terakhir seiring dengan meningkatnya permintaan aset investasi aman akibat perang dagang yang berlarut-larut, ancaman perang mata uang, dan proyeksi pemangkasan suku bunga The Fed.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 08 Agustus 2019  |  02:03 WIB
Emas Semakin Berkilauan
Emas Comex. - .Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA - Emas melanjutkan reli penguatannya dan mencetak rekor level tertinggi sejak 6 tahun terakhir seiring dengan meningkatnya permintaan aset investasi aman akibat perang dagang yang berlarut-larut, ancaman perang mata uang, dan proyeksi pemangkasan suku bunga The Fed.

Berdasarkan data Bloomberg, pada perdagangan Rabu (7/8/2019) hingga pukul 17.47 WIB, harga emas berjangka untuk kontrak Desember 2019 di bursa Comex bergerak menguat 1,15% menjadi US$1.501,2 per troy ounce. 

Sementara itu, harga emas di pasar spot bergerak menguat 0,98% menjadi US$1.488 per troy ounce.

Kepala Riset dan Edukasi PT Monex Investindo Futures Ariston Tjendra mengatakan bahwa sentimen yang tengah bergulir di pasar masih menjadi katalis positif bagi pergerakan emas sehingga prospek emas pun tetap cerah hingga akhir tahun.

"Isu yang membuat emas menguat seperti perang dagang masih belum hilang. Selain itu, secara teknikal tren pergerakkannya pun masih mendukung emas untuk naik," ujar Ariston kepada Bisnis, Rabu (7/8/2019).

Emas merupakan salah satu aset investasi yang menerima keuntungan terbanyak dari gejolak perang dagang antara AS dan China yang terjadi berlarut-larut sejak tahun lalu.

Logam mulia tersebut menjadi aset yang paling diincar oleh investor ketika banyak ketidakpastian membebani pasar sehingga investor berbondong-bondong mencari tempat perlindungan dan menjauhi pasar aset berisiko.

Adapun, perang dagang AS dan China yang terus memanas telah membebani pertumbuhan ekonomi global. Pasalnya, perang dagang tidak hanya memberikan ancaman perlambatan bagi dua negara dengan ekonomi terbesar di dunia tersebut, tetapi juga akan memberikan efek domino ke negara mitra dagang AS dan China.

Bahkan, Lembaga Moneter Internasional, IMF, telah memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global sebanyak dua kali dalam tahun ini seiring dengan perang dagang yang masih berlanjut hingga saat ini.

IMF memprediksi pertumbuhan ekonomi tahun ini hanya sebesar 3,2%, lebih rendah dibandingkan dengan proyeksi sebelumnya pada April lalu sebesar 3,3%.

Sementara itu, IMF memproyeksi pertumbuhan ekonomi dunia akan tumbuh 3,5%, juga lebih rendah daripada proyeksi pada Arpil sebesar 3,6%.

Oleh karena itu, dengan ketidakpastian berakhirnya perang dagang AS dan China tersebut, dia menilai saat ini merupakan waktu yang tepat untuk memulai berinvestasi emas dibandingkan dengan aset berisiko lainnya.

Jika berkaca pada saat krisis ekonomi global pada 2008 silam, sepanjang tahun emas hanya bergerak menguat 5,8%. Namun, sepanjang tahun berjalan saat ini emas telah bergerak menguat hingga 16,08%.

Dia memprediksi, emas dapat bertahan di atas level US$1.500 per troy ounce hingga akhir tahun, sedangkan pada perdagangan Kamis (8/8/2019) emas diproyeksi bergerak menguat di level US$1.476 per troy ounce hingga US$1.500 per troy ounce.

Proyeksi cerah pun juga diungkapkan oleh beberapa perusahaan keuangan internasional. Citigroup menaikkan prospek harga emas menjadi US$1.525 per troy ounce di kuartal terakhir tahun ini, setelah harga telah menembus di atas target sebelumnya di US$1.450 per troy ounce.

Bahkan, mengutip Bloomberg, Direktur Eksekutif Komoditas dan Valuta Asing Unit Manajemen Kekayaan UBS Group Wayne Gordon mengatakan bahwa harga emas dapat mencapai US$1.600 per troy ounce didorong oleh eskalasi perang dagang AS dan China.

Di sisi lain, untuk mengimbangi prospek perlambatan yang banyak diproyeksikan analis, sepanjang tahun ini tidak sedikit bank sentral di dunia mengubah haluan pandangannya terhadap ekonomi negara masing-masing menjadi lebih dovish.

Langkah China yang sengaja menurunkan mata uangnya menjadi di bawah 7 yuan per dolar AS, level terendah dalam 10 tahun terakhir, menjadi ancaman baru adanya perang mata uang.

Direktur Utama PT  Garuda Berjangka Ibrahim mengatakan bahwa akibat hal tersebut, Bank Sentral AS atau The Fed diprediksi memangkas suku bunga acuannya pada pertemuan September mendatang sebesar 50 basis poin.

Pemangkasan suku bunga acuan tersebut akan melemahkan dolar AS dan membantu emas untuk bergerak naik karena logam mulia akan bernilai lebih murah bagi pemegang mata uang lainnya.

"Secara fundamental dan teknikal, semuanya masih bullish untuk emas. Saya perkirakan level US$1.500 per troy ounce untuk emas di pasar spot dapat dicapai pada perdagangan pekan ini," papar Ibrahim.

Analis PT Maxco Futures Suluh Adil Wicaksono mengatakan bahwa penembusan level psikologis emas di US$1.500 per troy ounce, berhasil dicapai emas berjangka lebih cepat daripada perkiraan.

Namun, dia memperingatkan pasar untuk berhati-hati ketika emas berhasil sentuh level tersebut, karena kecenderungan investor yang akan melakukan aksi profit taking.

"Karena ketika sudah di US$1.500 per troy ounce ke atas, lebih baik ambil short atau sell, tidak dianjurkan untuk mengambil posisi long atau buy. Meski demikian, kalaupun melemah, emas akan turun untuk nantinya naik kembali," papar Suluh kepada Bisnis, Rabu (7/8/2019).

Hal yang sama juga berlaku untuk harga emas di pasar spot, dia menjelaskan bahwa selama harga belum menyentuh US$1.490 per troy ounce hingga US$1.500 per troy ounce, emas masih akan terus bergerak naik.

Sementara itu, untuk pergerakan emas selanjutnya, lanjut Suluh, dapat dilihat dari tiga sisi yang berbeda. Investor melihat bahwa saat ini adalah momentum untuk aksi ambil untung, sedangkan dari sisi teknikal emas saat ini logam kuning tersebut telah overbrought.

Namun, dari sisi fundamentalnya, masih terlalu banyak katalis positif bagi emas untuk terus bergerak naik, seperti perang dagang, pemangkasan suku bunga, dan ketegangan geopolitik lainnya.

"Kalau saat ini, pergerakan masih lebih dominan dari sisi fundamental," ujar Suluh. Dia memprediksi pada perdagangan Kamis (8/8/2019), emas di pasar spot masih akan bergerak cenderung menguat di kisaran level US$1.480 per troy ounce hingga US$1.490 per troy ounce.

Tidak hanya emas global, harga emas batangan PT Aneka Tambang Tbk (Antam) juga berhasil naik cukup signifikan dan diproyeksi dapat menyentuh Rp800.000 per gram pada akhir tahun.

Berdasarkan situs logammulia.com, pada perdagangan Rabu (7/8/2019) logam mulia produk dalam negeri kembali menguat ke level Rp746.000 per gram naik Rp7.000 dari perdagangan sebelumnya.

Level tersebut merupakan level tertinggi emas Antam sepanjang masa.

Sementara itu, harga jual kembali (buyback) emas Antam hari ini dipatok sebesar Rp673.000 per gram. Harga yang ditetapkan naik Rp7.000 per gram dibandingkan harga yang ditetapkan pada Selasa (6/8/2019).

Suluh mengatakan bahwa emas Antam juga memiliki proyeksi yang sama cerahnya dengan perdagangan emas global. Pada perdagangan sepanjang pekan, dia memprediksi emas Antam akan bergerak di kisaran Rp750.000 per gram hingga Rp770.000 per gram.

Analis PT Asia Trade Point Futures Deddy Yusuf Siregar memperediksi emas Antam dapat menyentuh level Rp800.000 per gram pada akhir tahun.

"Bila melihat keadaan saat ini, dalam 6 bulan hingga 12 bulan mendatang, pamor emas sebagai instrumen safe haven akan semakin menarik untuk dikoleksi," papar dia.

Selain tantangan yang ditimbulkan oleh perang dagang, emas masih memiliki risiko lain yang menjadi sentimen positif untuk pasar terus mengumpulkan emas.

Di Eropa, investor melacak kemungkinan Brexit tanpa kesepakatan akhir tahun ini dapat terjadi. Selain itu, ketegangan di Timur Tengah antara Iran dan AS masih berlangsung.

Dukungan lebih lanjut untuk reli emas, datang dari pembelian bank sentral, seperti di China, Rusia, Polandia, dan Kazakhstan telah meningkatkan kepemilikan emas sebagai cadangan devisanya.



Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Harga Emas Hari Ini

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top