China Akan Hapus Kuota Impor Sawit, Indonesia dan Malaysia Bakal Untung

Rencana China menghapus kuota tarif impor minyak kelapa sawit diperkirakan menjadi angin segar bagi harga komoditas tersebut.
Dika Irawan
Dika Irawan - Bisnis.com 07 Agustus 2019  |  22:21 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Rencana China menghapus kuota tarif impor minyak kelapa sawit diperkirakan menjadi angin segar bagi harga komoditas tersebut.

Direktur Utama PT Garuda Berjangka Ibrahim mengatakan, jika rencana tersebut terealisasi, China berpotensi memborong lebih banyak minyak sawit atau crude palm oil dari negara-negara produsen, untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri mereka.

Menurutnya, rencana China itu masih berhubungan dengan keputusan mereka belum lama ini untuk berhenti membeli produk-produk pertanian Amerika Serikat, sebagai bagian dari perang dagang. Saat China tak lagi membeli produk pertanian AS, termasuk di dalamnya kedelai, mereka akan memaksimalkan pembelian minyak sawit guna memenuhi permintaan domestik. Sebab minyak tersebut merupakan subtitusi dari minyak kedelai.

“Kalau seandainya benar, China tidak akan membeli produk pertanian AS, yang diuntungkan adalah Indonesia dan Malaysia. CPO merupakan subtitusi kacang kedelai, saat mereka [China] tak impor [kedelai dari AS] mengakibatkan kekurangan pasokan di dalam negeri [dengan mengimpor lebih banyak CPO],” katanya kepada Bisnis, Rabu (7/8/2019).

Selain itu, sambungnya, harga CPO sudah terlalu murah di bawah level 2.000 ringgit per ton. Ibrahim melihat, China memanfaatkan peluang tersebut, karena harga minyak sawit lebih murah dibandingkan dengan minyak nabati lainnya.

Dia menambahkan, langkah China tersebut menjadi sentimen positif bagi harga CPO, karena ada harapan persediaan komoditas ini bakal terserap lebih banyak. “Dari informasi tersebut harga CPO lebih semringah,” ujarnya.

Sebelumnya, Kementerian Perdagangan China berencana menghapus minyak kedelai, minyak lobak, dan minyak sawit dari manajemen kuota tarif impor mereka.

Dikutip dari Reuters, Rabu (7/8/2019), berita tersebut muncul setelah sehari sebelumnya, kementerian tersebut menyatakan, perusahaan-perusahaan China telah berhenti membeli produk pertanian Amerika Serikat, sebagai tanggapan atas keputusan Presiden AS Donald Trump yang memberlakukan tarif pada US$300 miliar impor China lainnya.

Keputusan tersebut dengan tajam meningkatkan sengketa perdagangan antar dua ekonomi terbesar tersebut.

Dalam laman resmi mereka, dilaporkan ole Reuters, komoditas-komoditas tersebut telah dihapus dari daftar rancangan kuota tarif manajemen.

Jika terealisasi, nantinya produk-produk pertanian itu tidak akan dikenakan pembatasan yang mungkin dikenakan pada produk lain seperti gandum, jagung, dan beras. Draf ini terbuka untuk umpan balik publik hingga 22 Agustus.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
sawit

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top