Perang Dagang AS vs China: Yuan Melemah Lagi, Indeks Dolar Tertekan

Pergerakan indeks dolar Amerika Serikat (AS) melemah pada perdagangan pagi ini, Rabu (7/8/2019), seiring dengan melemahnya nilai tukar mata uang yuan China di tengah eskalasi tensi perdagangan AS-China.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 07 Agustus 2019  |  11:41 WIB
Perang Dagang AS vs China: Yuan Melemah Lagi, Indeks Dolar Tertekan
Seorang pembeli menghitung uang Dolar Amerika Serikat yang ditukarnya di gerai penukaran valuta asing, Jakarta, Senin (15/7/2019). - ANTARA/Puspa Perwitasari

Bisnis.com, JAKARTA – Pergerakan indeks dolar Amerika Serikat (AS) melemah pada perdagangan pagi ini, Rabu (7/8/2019), seiring dengan melemahnya nilai tukar mata uang yuan China di tengah eskalasi tensi perdagangan AS-China.

Berdasarkan data Bloomberg, indeks dolar AS, yang mengukur kekuatan dolar AS terhadap sejumlah mata uang dunia, melemah 0,118 poin atau 0,12 persen ke level 97,512 pada pukul 09.33 WIB dari level penutupan perdagangan sebelumnya.

Pada perdagangan Selasa (6/8/2019) indeks mampu berakhir di zona hijau dengan kenaikan 0,11 persen atau 0,108 poin di level 97,630. Indeks mulai tergelincir ke wilayah negatif saat dibuka turun 0,07 persen di posisi 97,561.

Sementara itu, nilai tukar yuan offshore terpantau melemah 0,4 persen ke level 7,0822 per dolar AS, sedangkan nilai tukar yuan onshore melemah 0,41 persen ke posisi 7,0488 pada pukul 09.44 WIB.

Dilansir dari Reuters, nilai tukar yuan offshore China melemah terhadap dolar AS setelah bank sentral China, People's Bank of China, menetapkan titik tengahnya tidak lebih kuat dari penutupan sebelumnya.

Dua negara berekonomi terkuat di dunia itu terkunci dalam konflik perdagangan yang memanas setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan akan mengenakan tarif lebih lanjut pada sisa impor barang-barang asal China.

China merespons pengumuman itu dengan membiarkan mata uangnya melemah hingga melampaui level psikologis penting 7 per dolar pada Senin (5/8). Pemerintah AS pun bereaksi keras dengan menyebut Beijing sebagai manipulator mata uang.

Akibatnya, sentimen pasar telah memburuk dengan cepat. Ini sekaligus mendongkrak daya tarik aset-aset safe haven seperti yen Jepang dan emas, sekaligus mempercepat pelemahan yuan karena tidak tampak resolusi untuk konflik AS-China dalam waktu dekat.

Sentimen untuk aset berisiko semakin terpukul setelah Reserve Bank of New Zealand mengejutkan para pedagang dengan memangkas suku bunga lebih dari yang diperkirakan. Langkah ini menyoroti kekhawatiran para pembuat kebijakan tentang ekonomi global.

“Eskalasi friksi perdagangan AS-China telah memperburuk sentimen pasar, yang pada akhirnya akan membuat imbal hasil Treasury turun dan yen naik,” ujar Tohru Sasaki, kepala riset pasar Jepang di JP Morgan Securities, Tokyo.

Pada Selasa (6/8), Trump menepis kekhawatiran akan perang dagang yang berkepanjangan dengan China. Namun pemerintah China telah mengirimkan peringatan keras bahwa pelabelan negeri ini sebagai manipulator mata uang akan memberi konsekuensi parah bagi tatanan keuangan global.

Seiring melemahnya indeks dolar, nilai tukar yen terpantau menguat 0,37 poin atau 0,35 persen ke level 106,10 per dolar AS, setelah ditutup melemah 0,48 persen atau 0,51 poin di posisi 106,47 pada Selasa (6/8).

Sebagai aset safe haven, yen kerap diburu investor di tengah kondisi kekhawatiran dan ketidakpastian geopolitik.

Posisi indeks dolar AS
TanggalPosisi

7/8/2019

(Pk. 09.33 WIB)

97,512

(-0,12 persen)

6/8/2019

 

97,630

(+0,11 persen)

5/8/2019

 

97,522

(-0,56 persen)

Sumber: Bloomberg

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
dolar as, perang dagang AS vs China

Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top