Sentimen Pasar Masih Rapuh, Bursa Asia Gundah Gulana

Bursa Asia bergerak cenderung variatif pada perdagangan siang ini, Rabu (7/8/2019), di tengah bertahannya kekhawatiran pasar soal tensi dagang AS-China.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 07 Agustus 2019  |  15:42 WIB
Sentimen Pasar Masih Rapuh, Bursa Asia Gundah Gulana
Bursa Jepang. - Ilustrasi/Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA – Bursa Asia bergerak cenderung variatif pada perdagangan siang ini, Rabu (7/8/2019), di tengah bertahannya kekhawatiran pasar soal tensi dagang AS-China.

Berdasarkan data Bloomberg, indeks Nikkei 225 Jepang ditutup melemah 0,33 persen saat indeks Topix mampu naik tipis 0,05 persen, sedangkan indeks Kospi Korea Selatan melemah 0,41 persen.

Adapun indeks saham Shanghai Composite dan CSI 300 China masing-masing berakhir melemah 0,32 persen dan 0,41 persen, sementara indeks Hang Seng Hong Kong masih bergerak positif dengan kenaikan tipis 0,05 persen pada pukul 14.54 WIB.

Kegelisahan pasar sedikit diredakan oleh pernyataan Gedung Putih mengenai keinginan untuk melanjutkan negosiasi perdagangan dengan China.

Direktur Dewan Ekonomi Nasional Gedung Putih Larry Kudlow pada Selasa (6/8/2019) mengatakan bahwa pemerintahan Presiden Donald Trump ingin melanjutkan perundingan perdagangan dengan China.

Pemerintah AS juga dikatakan masih berencana menjadi tuan rumah bagi delegasi China untuk melakukan perundingan pada bulan September mendatang.

Langkah China untuk menstabilkan pelemahan nilai tukar yuan setelah menembus level 7 per dolar AS, untuk pertama kalinya sejak 2008, turut membantu meredakan sedikit kekhawatiran investor yang mengakibatkan aksi jual besar-besaran dalam beberapa hari terakhir.

Pada Senin (5/8), nilai tukar yuan anjlok terhadap dolar AS setelah Bank Sentral China, People’s Bank of China (PBoC) menetapkan nilai referensi harian lebih rendah dari 6,9 untuk pertama kalinya sejak Desember.

Sebagian investor melihat aksi tersebut sebagai pembalasan atas rencana pengenaan tarif 10 persen terhadap sisa impor China oleh pemerintah AS mulai 1 September. Presiden Trump merespons pelemahan yuan dengan keras dan menyebut China sebagai manipulator mata uang.

Aksi jual terhadap aset berisiko kemuduan mereda setelah Bank Rakyat China mengambil langkah-langkah untuk menstabilkan yuan, dengan menetapkan titik tengah yang lebih kuat dari yang diperkirakan pada Selasa (6/8).

Bank Sentral China, People’s Bank of China, menetapkan tingkat referensi harian pada 6,9683 per dolar, lebih kuat dari perkiraan level 6.9871 dalam survei Bloomberg terhadap 19 pelaku pasar dan analis.

Kendati demikian, tingkat referensi untuk yuan pada Rabu dilaporkan lebih lemah dan tidak jauh terpaut dari level kunci 7 per dolar, sehingga kembali menekan nilai tukar yuan yang sempat menguat sekaligus menyulut keresahan pasar tentang maksud China.

Secara keseluruhan, sentimen pasar masih rapuh. Trump menepis kekhawatiran akan perang dagang yang berkepanjangan dengan China. Namun pemerintah China telah mengirimkan peringatan keras bahwa pelabelan negeri ini sebagai manipulator mata uang akan memberi konsekuensi parah bagi tatanan keuangan global.

“Dengan masuknya isu mata uang ke dalam perang perdagangan, investor yang terekspos pada ekuitas Asia kini dihadapkan dengan berbagai faktor ketimbang prospek pendapatan langsung,” ujar Jim McCafferty, kepala penelitian ekuitas untuk Asia-Jepang di Nomura, dilansir dari Reuters.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Bursa Asia, perang dagang AS vs China

Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top