Ketegangan AS-China Dorong Investor Terus Buru Emas

Berdasarkan data Bloomberg, pada perdagangan Selasa (6/8/2019) hingga pukul 15.29 WIB, harga emas berjangka di bursa Comex bergerak melemah di level US$1.474,5 per troy ounce.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 06 Agustus 2019  |  16:16 WIB
Ketegangan AS-China Dorong Investor Terus Buru Emas
Emas comex - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA - Emas mencetak rekor tertinggi dalam 6 tahun terakhir pada perdagangan Selasa (6/8/2019) didorong oleh kekhawatiran pasar terjadinya perang mata uang di tengah meningkatya ketegangan perdagangan AS dan China.

Berdasarkan data Bloomberg, pada perdagangan Selasa (6/8/2019) hingga pukul 15.29 WIB, harga emas berjangka di bursa Comex bergerak melemah di level US$1.474,5 per troy ounce, menurun 0,14%. Padahal, pada pertengahan perdagangan emas sempat mencapai level US$1.476 per troy ounce, level tertingginya dalam 6 tahun terakhir.

Sementara itu, harga emas di pasar spot bergerak melemah 0,22% menjadi US$1.460,51 per troy ounce.

Analis Bank of Nova Scotia Nicky Shiels mengatakan bahwa penurunan yuan ke level terendahnya dalam 10 tahun terakhir semakin menghilangkan harapan bahwa kesepakatan perdagangan AS dan China dapat dicapai dalam waktu dekat.

Langkah China menurunkan mata uangnya tersebut dilakukan setelah Presiden AS Donald Trump mengancam akan mengenakan tarif impor sebesar 10% untuk produk China senilai US$300 miliar.

Balasan China tersebut, dinilai Presiden AS Donald Trump sebagai upaya China untuk memanipulasi mata uang dan meminta Federal Reserve untuk segera bertindak melawan China.

Berdasarkan perkiraan Bloomberg Economics, perang dagang AS dan China yang masih berlangsung sejak setahun lalu dapat menelan biaya ekonomi dunia hingga US$1,2 triliun. Bahkan, indikator resesi dari pasar obligasi yang diawasi secara luas sudah berada dalam situasi siaga tertinggi sejak 2007.

"Ketegangan perdagangan yang meningkat telah menambah daya tarik emas sebagai aset investasi aman dan lebih kompetitif dibandingkan dengan aset berisiko," ujar Nicky seperti dikutip dari Bloomberg, Selasa (6/8/2019).

Selain itu, pasar ekuitas global yang jatuh di tengah aksi jual besar-besaran dalam aset berisiko juga telah meningkatkan spekulasi pasar bahwa bank sentral di seluruh dunia akan memangkas suku bunga acuannya untuk melawan perlambatan pertumbuhan ekonomi, sebuah langkah yang semakin memperkuat pergerakan emas.

Kemudian, Kepala Penelitian Logam di Bank of America Merrill Lynch Michael Widmer mengatakan bahwa emas merupakan aset yang akan menyimpan banyak nilai lebih menguntungkan bagi investor saat ini.

Logam mulia telah naik ke level tertingginya dalam 6 tahun terakhir, mendekati US$1.500 per troy ounces karena perang perdagangan mengganggu reli indeks S&P 500.

Sementara itu, Perusahaan Keuangan Citigroup menaikkan prospek harga emas untuk tiga bulan ke depan menjadi US$1.525 per troy ounce, setelah harga telah menembus di atas target sebelumnya di US$1.450 per troy ounce.

"Logam ini kemungkinan akan melewati US$1.500 per troy ounce pada kuartal keempat tahun ini," tulis Citigroup dalam publikasi risetnya seperti dikutip dari Bloomberg.

Analis PT Monex Investindo Futures Andian mengatakan bahwa kenaikan emas saat ini juga didukung oleh pelemahan dolar AS yang dipicu oleh revisi data NFP AS periode Juni menjadi 193.000 dari data sebelumnya sebesar 224.000.

"Pelaku pasar memandang bahwa pertumbuhan NFP yang rendah dapat menjadi alasan bagi Federal Reserve AS untuk melakukan pemotongan suku bunga lebih lanjut," ujar Andian seperti dikutip dari publikasi risetnya, Selasa (6/8/2019).

Selain itu, pasar juga tengah menanti data ISM non manufaktur AS yang dapat membatasi pergerakan emas jika berhasil dirilis lebih baik daripada ekspektasi pasar.

Dia memprediksi emas masih akan cenderung menguat, menguji level support di US$1.470 per troy ounce sebelum menempuh level support kedua di US$1.475 per troy ounce. Sementara itu, level resisten emas terdekat berada di US$1.436 per troy ounce.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
emas, komoditas

Editor : Ana Noviani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top