Kalbe Farma (KLBF) Jaga Margin Laba Sekitar 11 Persen

PT Kalbe Farma Tbk. (KLBF) memperkirakan penjualan bersih perseroan tumbuh sekitar 6%-8%. Lebih lanjut, dia mengatakan rupiah di level saat ini akan membantu menstabilkan margin perusahaan pada semester II/2019.
Azizah Nur Alfi
Azizah Nur Alfi - Bisnis.com 18 Juli 2019  |  07:37 WIB
Kalbe Farma (KLBF) Jaga Margin Laba Sekitar 11 Persen
Presiden Direktur PT Kalbe Farma Tbk, Vidjongtius (kiri) bersama Kepala Kalbe Learning Centre (KLC) Micha Catur Firmanto memberikan paparan di sela-sela acara kunjungan ke fasilitas Kalbe Learning Centre di Kawasan Industri Pulo Gadung, Jakarta, Rabu, (6/2/2019). - Bisnis/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA - PT Kalbe Farma Tbk. optimistis meraih pertumbuhan penjualan sekitar 6 persen hingga 8 persen pada 2019.

Presiden Direktur Kalbe Farma Vidjongtius memperkirakan penjualan bersih perseroan tumbuh sekitar 6%-8%. Lebih lanjut, dia mengatakan rupiah di level saat ini akan membantu menstabilkan margin perusahaan pada semester II/2019.

Berdasarkan data Bloomberg, kemarin nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup melemah 48 poin atau 0,34 persen ke level Rp13.983 per dolar AS. Kemarin rupiah bergerak pada kisaran Rp13.941–Rp13.985 per dolar AS.

"[Top line] masih dalam kisaran 6%-8% sebagaimana kalbe rencana sejak awal tahun," katanya kepada Bisnis.com, Rabu (17/7/2019).

Pada 2018, Kalbe Farma mengantongi penjualan bersih Rp21,07 triliun dan laba bersih Rp2,45 triliun. Dengan demikian, margin laba bersih perseroan sekitar 11,62%.

Merujuk target pertumbuhan top line 6%-8%, Kalbe farma membidik penjualan bersih Rp22,33 triliun hingga Rp22,75 triliun pada 2019.

Sementara itu, pada kuartal I/2019, Kalbe Farma meraih penjualan bersih Rp5,36 triliun dan laba bersih Rp595,07 miliar sehingga net profit margin-nya masih berada di level 11,09%.

Di sisi ekspansi, Vidjongtius mengungkapkan perseroan siap memproduksi produk biologis pada awal 2020. Dia memperkirakan, ekspansi produk ini dapat memberikan tambahan pendapatan sekitar 1%-2% terhadap penjualan perseroan pada tahun depan.

"Ada tambahan sekitar 1%-2% masih relatif kecil karena masih produk baru," katanya.

Kalbe juga merancang investasi untuk mengembangkan erythropoietin (EPO) sebagai bahan baku obat untuk penyakit kanker dan ginjal. Perusahaan farmasi ini mengalokasikan Rp250 miliar-Rp300 miliar untuk penelitian dan pengembangan produk bioteknologi pada tahun ini, lebih besar dari Rp243 miliar pada 2018 dan Rp240 miliar pada 2017.

Setelah produksi EPO, pemilik merek Diabetasol itu menargetkan dapat menghasilkan produk insulin pada 2021. Perseroan berkomitmen terus melakukan pengembangan produk biologi untuk mengurangi ketergantungan terhadap produk impor.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kinerja emiten, kalbe farma

Editor : Ana Noviani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top