Menilik Tren Auto Reject Saham Anyar

Berdasarkan catatan Bisnis.com, terdapat 25 emiten yang terkena auto reject atas saat pertama kali diperdagangkan di bursa. Adapun, sejak awal tahun sudah ada 32 emiten baru yang mencatatkan sahamnya lewat IPO.
Dwi Nicken Tari
Dwi Nicken Tari - Bisnis.com 17 Juli 2019  |  10:30 WIB
Menilik Tren Auto Reject Saham Anyar
Karyawan melintas di dekat papan elektronik yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (27/5/2019). - Bisnis/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA — Performa sejumlah saham emiten baru yang sempat menyentuh level auto reject atas (ARA) sesaat setelah resmi diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia perlu terus dicermati investor.

Analis menilai, auto reject atas yang didapatkan para emiten anyar tersebut belum mampu memperlihatkan bahwa saham-saham tersebut memang diminati ataupun memiliki fundamental yang memang kuat.

Berdasarkan catatan Bisnis.com, terdapat 25 emiten yang terkena auto reject atas saat pertama kali diperdagangkan di bursa. Adapun, sejak awal tahun sudah ada 32 emiten baru yang mencatatkan sahamnya lewat penawaran umum saham perdana (initial public offering/IPO).

Auto reject adalah aturan dari BEI mengenai pembatasan kenaikan maksimum dan penurunan minimum harga saham selama satu hari perdagangan supaya perdagangan saham berjalan lancar.

Berdasarkan aturan tersebut, rentang harga saham Rp50—Rp200 akan dikenakan auto reject apabila kenaikan atau penurunan harga saham sebesar 35% dalam satu hari. Sementara untuk rentang harga saham Rp200—Rp5.000 dikenakan auto reject apabila kenaikan atau penurunan harga saham sebesar 25%, dan untuk rentang harga saham di atas Rp5.000 dikenakan auto reject apabila kenaikan atau penurunan harga saham sebesar 20%.

William Surya Wijaya, Direktur PT Indosurya Bersinar Sekuritas, menjelaskan bahwa saham yang baru dicatatkan (listing) bersifat spekulatif sehingga harga dapat melonjak pada hari pertama,

“Perlu diketahui bahwa saham yang baru listing itu sifatnya spekulatif. Entah itu nanti banyak investor yang berminat, atau karena likuiditasnya kecil, atau memang cukup memiliki prospek yang bagus, tetap sifatnya spekulatif,” kata William kepada Bisnis.com, Selasa (16/7/2019).

Dirinya menjelaskan, hal tersebut terjadi kapan pun dan tidak hanya pada tahun ini. Pasalnya, terdapat sebagian investor yang memang gemar dengan saham-saham IPO maupun transaksi saham yang bersifat spekulatif.

Adapun, pergerakan harga saham yang cenderung melejit pada hari pertama dinilai William tak lantas akan turun pada hari-hari berikutnya. Pasalnya, seiring dengan berjalannya waktu akan ada investor yang mulai nyaman karena fundamental perseroan yang baik dan berprospek cerah, serta bisa saja likuiditas saham itu bertambah sehingga investor masih hold.

“Seiring dengan berjalannya waktu, pola investasi investor bisa berubah. Kalau di awal, tetap sifatnya spekulatif,” ujar William.

William menambahkan, saat ini memang ada beberapa saham IPO yang dapat direkomendasikan. Namun, rekomendasi tersebut masih belum dapat diberikan karena saham tercatat tersebut belum terlalu lama diperdagangkan.

Setidaknya, untuk dapat benar-benar memutuskan untuk investasi jangka panjang dalam saham IPO diperlukan waktu 3—5 tahun untuk benar-benar dapat melihat performanya.

Daftar Emiten Baru yang Listing di BEI 1 Juli-12 Juli 2019

Kode SahamNama EmitenHarga IPO (Rp/Saham)Kinerja Saham Hari Pertama Perdagangan
HDITPT Hensel Davest Indonesia Tbk.52549,52%
SMKLPT Satyamitra Kemas Lestari Tbk.19369,95%
INOVPT Innocyclle Technology Group Tbk.25049,6%
ARKAPT Arkha Jayanti Persada Tbk.23650%
EASTPT Eastparc Hotel Tbk.13370%
LIFEPT Asuransi Jiwa Sinarmas MSIG Tbk,12.12,48%
FUJIPT Fuji Finance Indonesia Tbk.11070%
KOTAPT DMS Propertindo Tbk.20070%
IPTVPT MNC Vision Networks Tbk.240-0,83%
BLUEPT Berkah Prima Perkasa Tbk.13069,23%
ENVYPT Envy Technologies Indonesia Tbk.37035,14%
PAMGPT Bima Sakti Pertiwi Tbk.10070%
KAYUPT Darmi Bersaudara Tbk.15069,33%
ITICPT Indonesian Tobacco Tbk.21950%
KJENPT Krida Jaringan. Nusantara Tbk.20249,50%

Sumber: BEI, Bloomberg, diolah.

Analis Senior CSA Research Institute Reza Priyambada, menjelaskan bahwa sulit untuk menilai ARA yang terjadi pada saham-saham IPO mencerminkan minat pasar maupun kesesuaian dengan faktor fundamentalnya.

Dirinya menjelaskan, investor cenderung memutuskan untuk membeli saham IPO berdasarkan kondisi fundamental yang sudah ada dan hanya melihat positioning emiten tersebut di industri. Sementara itu, mengenai prospek harga saham yang akan naik atau turun baru bisa terlihat dalam beberapa waktu ke depan.

“Kalau berdasarkan minat atau tidak, menurut saya, ini lebih kepada spekulasi apalagi didorong dengan berita-berita yang bernada positif sehingga hari pertama langsung melonjak tajam,” kata Reza kepada Bisnis.com, Selasa (16/7/2019).

Dia menilai, performa harga saham IPO yang terkena auto reject atas akan menyesuaikan dengan fundamental perseroan ke depannya.

Selain itu, ada pula faktor likuiditas yang kecil karena jumlah saham yang dilepas ke pasar tidak banyak. Hal itu akhirnya membuat saham lebih mudah “dimainkan”.

Dengan demikian, Reza menyarankan agar investor tetap mencermati fundamental dan manajemen perseroan. Selain itu, perlu pula diperhatikan iklim industrinya. Kemudian, penyerapan saham seperti kelebihan permintaan juga bisa diperhatikan karena akan memperlihatkan minat pembeli.

Reza pun merekomendasikan beberapa saham yang dinilai masih bagus dari sisi pertumbuhan fundamentalnya seperti NATO, CLAY, dan JAST kendati pergerakan sahamnya cenderung fluktuatif.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
saham, ipo

Editor : Ana Noviani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top