Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

SEMESTER I/2019 : Kepemilikan Investor Asing di SBN Hampir 40 Persen

Prospek penurunan suku bunga dan meredanya tensi perang dagang antara AS--China telah membawa kembali aliran modal asing ke pasar modal domestik, khususnya ke pasar obligasi.
Dwi Nicken Tari
Dwi Nicken Tari - Bisnis.com 02 Juli 2019  |  17:23 WIB
Ilustrasi - www.hennionandwalsh.com
Ilustrasi - www.hennionandwalsh.com

Bisnis.com, JAKARTA -- Prospek penurunan suku bunga dan meredanya tensi perang dagang antara AS-China telah membawa kembali aliran modal asing ke pasar modal domestik, khususnya ke pasar obligasi.

Berdasarkan Data Direktorat Jendral Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR), total kepemilikan asing dalam instrumen surat berharga negara yang dapat diperdagangkan telah bertambah sebesar Rp95,27 triliun menjadi Rp988,75 triliun per 28 Juni 2019, naik 10,69% dari posisi pada akhir tahun lalu.

Adapun nilai tersebut kontras dengan aksi jual investor asing dalam SBN yang dapat diperdagangkan pada periode yang sama tahun sebelumnya senilai -Rp6,86 triliun menjadi Rp830,17 triliun per akhir semester I/2018. Saat ini asing memegang porsi 39,07% dari total kepemilikan disusul oleh bank konvensional sebesar 21,90%.

Adapun aliran modal masuk asing (foreign capital inflow) terpantau memang lebih deras ke pasar obligasi ketimbang pasar saham. Di pasar saham, investor asing mencatatkan beli bersih sebesar Rp68,797 triliun yang di dalamnya terdapat transaksi skema crossing saham dari MUFG Bank Ltd. di PT Bank Danamon Indonesia Tbk. dan PT Bank Nusantara Parahyangan Tbk. senilai total Rp49,6 triliun. 

CIO Eastspring Indonesia Ari Pitojo menjelaskan positifnya pasar obligasi ditopang oleh prospek penurunan suku bunga pada paruh kedua tahun ini.

Adapun berdasarkan konsensus, Bank Sentral AS (Federal Reserve) berpotensi akan menurunkan suku bunga sebanyak 2—3 kali hingga akhir tahun. Dengan kondisi demikian, Eastspring Indonesia pun memperkirakan yield obligasi pemerintah bertenor 10 tahun bisa ke level 7% pada akhir tahun ini.

Bahkan, apabila penurunan suku bunga terjadi nantinya juga akan menjadi pendorong pergerakan saham. Pasalnya, faktor fundamental dari pertumbuhan laba korporasi dinilai masih belum banyak terlihat. “Ketika suku bunga acuan AS turun, kami berharap ada aliran ke sini [Indonesia]. Tapi memang selalu kekhawatirannya inflow itu berupa ‘uang panas’,” kata Ari.

Menurutnya, permasalahan hot money yang masuk ke pasar keuangan domestik merupakan tantangan terbesar saat ini. Hal itu pun harus diselesaikan dengan kebijakan-kebijakan yang dapat membuat inflow asing bisa bertahan lama dalam bentuk investasi.

Ke depannya, apabila kurs rupiah dapat terjaga, diperkirakan aliran modal asing akan masuk lebih banyak lagi ke dalam negeri karena Indonesia terbilang menarik dibandingkan dengan negara-negara lain yang memiliki rating yang sama.

Sementara dari sisi sentimen perang dagang AS--China, Ari meyakinkan bahwa saat ini investor telah lebih mantap bahwa hal itu tidak akan mempengaruhi arah aliran modal dunia.

Lebih lanjut, aliran modal masuk asing juga diperkirakan bisa merembes ke pasar saham ditopang oleh masih baiknya pertumbuhan ekonomi domestik, yaitu di atas 5%.

Senada, Direktur Utama PT MNC Asset Management Frery Kojongian menjelaskan bahwa aliran modal asing yang banyak masuk ke dalam negeri memang cenderung memburu aset-aset obligasi pemerintah. 

Hal itu, kata dia, menandakan bahwa kepercayaan investor asing terhadap pasar domestik kian tinggi. Ditambah lagi pada akhir Mei, Indonesia mendapatkan revisi naik peringkat dari Lembaga Pemeringkat Internasional S&P menjadi BBB dari sebelumnya BBB-.

“Kalau memang ada penurunan suku bunga di luar, mungkin Indonesia bisa mendapat inflow yang lebih tinggi juga mengingat suku bunga BI memiliki interest rate differential yang baik,” ujarnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Obligasi investor asing pasar obligasi
Editor : Riendy Astria
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top