Harga Minyak Terkoreksi di Tengah Meningkatnya Ketegangan Timur Tengah

Harga minyak terkoreksi pada perdagangan Jumat (21/6/2019) meskipun ketegangan di Timur Tengah telah meningkat dan ekspetasi pasar adanya penurunan suku bunga acuan AS yang dapat merangsang pertumbuhan global.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 21 Juni 2019  |  14:08 WIB
Harga Minyak Terkoreksi di Tengah Meningkatnya Ketegangan Timur Tengah
Kilang Minyak - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA – Harga minyak terkoreksi pada perdagangan Jumat (21/6/2019) meskipun ketegangan di Timur Tengah telah meningkat dan ekspetasi pasar adanya penurunan suku bunga acuan AS yang dapat merangsang pertumbuhan global.

Berdasarkan data Bloomberg, pada perdagangan Jumat (21/6/2019) hingga pukul 13.31WIB, harga minyak jenis West Texas Intermediete bergerak di level US$56.99 per barel, melemah 0,11% atau 0,09 poin. Sementara itu, harga minyak jenis Brent juga bergerak melemah 0,08% atau 0,05 poin menjadi US$64,40 per barel.

Analis Pasar Oanda Alfonso Esparza mengatakan bahwa pasar minyak masih dibayangi oleh kekhawatiran pasar adanya gangguan pasokan akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah, rumah bagi lebih dari 20% dari produksi minyak dunia, yang masih berlangsung.

AS menarik kembali perintah untuk menyerang Iran setelah sempat menyutujui pihak militernya melakukan konfrontasi langsung dengan Iran akibat salah satu pesawat tanpa awak (drone) AS ditembak jatuh oleh rudal Iran.

Sebelumnya, ketegangan meningkat di Timur Tengah setelah serangan terhadap dua kapal tanker di dekat Selat Hormuz, titik rute pengiriman minyak. Pemerintah AS menyalahkan Iran atas serangan kapal tanker tersebut, tetapi Iran membantah memiliki peran apa pun atas peristiwa tersebut.

“Potensi gangguan pasokan seharusnya mendorong naik harga minyak yang dikombinasikan dengan pelemahan dolar AS setelah The Fed mengisyaratkan pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat,” ujar Alfonso seperti dikutip melalui Reuters, Jumat (21/6/2019).

Adapun, greenback yang lebih lemah cenderung mendukung harga minyak karena menjadikan harga minyak, yang diperdagangkan dalam dolar AS, lebih murah bagi investor dengan mata uang lain. 

Indeks dolar AS yang mengukur kekuatan greenback di hadapan sekeranjang mata uang asing bergerak menguat tipis 0,07% pada level 96,693.

Selain itu, ekspetasi pemangkasan suku bunga acuan oleh The Fed juga memberikan gambaran yang lebih baik dari sisi permintaan minyak seiring dengan pertumbuhan global yang diprediksi berangsur pulih.

Di sisi lain, Alfonso mengatakan bahwa faktor makroekonomi lain yang mendukung harga adalah rencana pertemuan AS dan China untuk melanjutkan negosiasi guna menyelesaikan sengketa perdagangan yang telah memukul prospek pertumbuhan ekonomi dunia.

 AS dan China sepakat untuk bertemu di sela-sela pertemuan KTT G20 di Jepang yang akan berlangsung akhir bulan mendatang. "Kecemasan perdagangan telah mereda, mendorong harga minyak akan bergerak lebih tinggi karena pertumbuhan global tidak akan tertekan oleh perang tarif yang berkepanjangan," papar Alfonso.

Sebagai informasi, kekhawatiran tentang perlambatan pertumbuhan ekonomi dan sengketa perdagangan AS-China telah membuat minyak diperdagangkan lebih rendah dalam beberapa pekan terakhir. 

Sementara itu, analis PT Monex Investindo Futures Andian mengatakan bahwa potensi minyak untuk melanjutkan reli penguatan yang telah terjadi dalam beberapa perdagangan terakhir sangat besar.

“Pengiriman pasukan AS ke Timur Tengah dan tindakan keras Iran mendorong kekhawatiran pasar, bila ketegangan berlanjut akan mengganggu persediaan minyak,” ujar Andian seperti dikutip dalam publikasi risetnya, Jumat (21/6/2019).

Andian mengatakan bahwa harga minyak berpeluang untuk menguji level US$58,20 per barel dan sentimen naik akan gagal bila harga ditutup di bawah level US$54,50 per barel.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Harga Minyak, harga minyak dunia

Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top