Hensel Davest Indonesia Siap Jadi Emiten Tekfin Pertama yang Melantai di BEI

PT Hensel Davest Indonesia Tbk. akan menjadi perusahaan tekfin pertama yang akan mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia lewat penawaran umum perdana saham (initial public offering/IPO).
Dwi Nicken Tari
Dwi Nicken Tari - Bisnis.com 18 Juni 2019  |  15:49 WIB
Hensel Davest Indonesia Siap Jadi Emiten Tekfin Pertama yang Melantai di BEI
Ilustrasi teknologi finansial - Flickr

Bisnis.com, JAKARTA — PT Hensel Davest Indonesia Tbk. akan menjadi perusahaan tekfin pertama yang akan mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia lewat penawaran umum perdana saham (initial public offering/IPO).

Perusahaan yang bergerak dibidang pengembangan aplikasi perdagangan melalui internet (e-commerce) serta pendistribusian produk digital tersebut akan menawarkan sebanyak-banyaknya 381,17 juta saham atau sebesar 25% dari modal ditempatkan dan disetor penuh dengan nilai nominal Rp100.

Dengan demikian, perseroan bakal meraup dana segar senilai total Rp38,11 miliar. Dalam IPO ini, bertindak sebagai penjamin pelaksana emisi efek yang telah ditunjuk oleh perseroan adalah PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia.

Perseroan dan penjamin pelaksana emisi efek merencanakan periode bookbuilding  pada periode 17-24 Juni 2019 dan pencatatan saham di Bursa Efek Indonesia direncanakan pada 12 Juli 2019.

Dalam pemaparannya, Direktur Utama Hensel Davest Indonesia Hendra David menjelaskan bahwa seluruh dana hasil dari IPO ini—setelah dikurangi seluruh biaya-biaya emisi saham—akan dialokasikan sekitar 65% untuk peningkatan modal kerja Davestpay.

Selain itu, perseroan juga akan menggunakan dana IPO untuk akuisisi marchant berupa UMKM (warung) dan individu, pembelian persediaan barang dagang, uang muka persedian barang dagang, serta pembiayaan piutang usaha kepada pelanggan.

Sementara itu, sekitar 10% dana IPO akan digunakan untuk meningkatkan teknologi komunikasi informasi, serta pengembangan SDM. Sisanya, sekitar 25% dari dana IPO akan digunakan untuk pembelian bangunan untuk oprasional perusahaan.

“Perkembangan teknologi informasi dan perubahan pola konsumsi di era digital saat ini tentu menjadi tantangan sekaligus potensi pasar yang cukup menjanjikan untuk perusahaan-perusahaan berbasis teknologi (e-commerce) di Indonesia, terlebih kita akan memasuki era revolusi industri 4.0,” kata Hendra melalui keterangan resmi yang diterima Bisnis.com, Selasa (18/6/2019).

Hendra menyampaikan bahwa sambil mengutip data, perekonomian digital Indonesia akan tumbuh dari menjadi  US$78,8 miliar pada 2025 dari US$7,8 miliar pada 2015. Adapun, pertumbuhan terbesar akan berasal dari sektor e-commerce dan teknologi finansial. 

“Pertumbuhan ini akan menjadikan Indonesia sebagai negara dengan perekonomian digital terbesar di Asia Tenggara” lanjut Hendra

Hensel Davest Indonesia didirikan pada 2013 sebagai perusahaan yang memproses transaksi multi-biller. Perseroan memulai usaha dari pulsa elektrik hingga ke prepaid listrik dan biller lainya seperti BPJS dan PDAM. 

Pada 2015, perusahaan yang berfokus di sektor B2B ini meluncurkan aplikasi DavestPay untuk menyasar segmen B2C. Saat ini, Hensel Davest Indonesia memiliki lebih dari 150.000 jaringan agen yang tersebar di seluruh Indonesia dan memproses lebih dari 600.000 transaksi dari ratusan produk per harinya.

Perusahaan yang berlokasi di Makassar, Sulawesi Selatan ini juga merupakan perusahaan distribusi produk digital, perdagangan online atau e-commerce dan teknologi dengan fokus menyasar pasar di wilayah Indonesia bagian timur. 
 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
ipo, kinerja emiten, fintech

Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup