Rupiah Ungguli Kinerja Mata Uang Asia  

Rupiah berhasil ditutup menguat pada perdagangan Senin (10/6/2019) dan menjadi satu-satunya mata uang Asia yang berhasil terapresiasi melawan dolar AS.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 10 Juni 2019  |  17:57 WIB
Rupiah Ungguli Kinerja Mata Uang Asia  
Warga menukarkan uang baru pada layanan kas keliling Bank Indonesia di Mataram, NTB, Kamis (16/5/2019). - ANTARA/Ahmad Subaidi

Bisnis.com, JAKARTA - Rupiah berhasil ditutup menguat pada perdagangan Senin (10/6/2019) dan menjadi satu-satunya mata uang Asia yang berhasil terapresiasi melawan dolar AS.

Berdasarkan data Bloomberg, pada penutupan perdagangan Senin (10/6/2019), rupiah berada pada level Rp14.250 per dolar AS, menguat 0,133 persen atau 14 poin. Secara year to date, rupiah telah bergerak menguat 0,94 persen.

Adapun, rupiah berhasil mempertahankan posisi menjadi yang terkuat sepanjang perdagangan kali ini disaat tren pelemahan terjadi di antara kelompok mata uang Asia. Bahkan, rupiah berhasil mengungguli kinerja yen, sebagai salah satu aset investasi aman, di tengah ketidakpastian pasar yang meningkat.

Pada pembukaan perdagangan, rupiah di pasar spot menguat 0,49 persen menjadi Rp14.200 per dolar AS. Analis PT Monex Investindo Futures Faisyal mengatakan sentimen penguatan rupiah masih dipicu oleh keputusan Standar & Poor's (S&P) yang menaikan peringkat utang Indonesia dari BBB- menjadi BBB dengan outlook stabil.

Rating tersebut telah membantu menaikkan daya tarik rupiah dan menambahkan kepercayaan pelaku pasar terhadap prospek perekonomian Indonesia, tercermin dari masuknya modal asing di pasar saham.

"Rupiah juga mendapat keuntungan dari membaiknya hubungan AS dan Meksiko setelah kedua negera tersebut mencapai kesepakatan terkait imigrasi sehingga AS membatalkan kenaikan tarif dagang yang harusnya berlaku mulai 10 Juni," ujar Faisyal saat dihubungi Bisnis.com, Senin (10/6/2019).

Walaupun demikian, Faisyal mengatakan bahwa hubungan AS dan Meksiko yang membaik juga mendorong penguatan dolar AS. Indeks dolar AS yang mengukur kekuatan greenback di hadapan mata uang mayor bergerak menguat 0,3 persen menjadi 96,829.

Itulah yang menyebabkan semua mata uang Asia lainnya terdepresiasi di hadapan dolar AS.

Apalagi mengingat adanya potensi pelemahan ekonomi global, dimana euro dan poundsterling kembali tertekan akibat proyeksi pertumbuhan ekonomi Eropa dan Inggris yang melambat, sehingga ada potensi dolar AS terus menguat di balik mata uang mayor yang bergerak melemah.

Oleh karena itu, Faisyal menilai penguatan rupiah kali ini hanya sementara dengan proyeksi pergerakan pada perdagangan Selasa (11/9/2019) berada di sekitar level Rp14.200 per dolar AS hingga Rp14.350 per dolar AS.

Sementara itu, analis PT Asia Trade Point Futures Deddy Yusuf Siregar mengatakan bahwa penguatan rupiah ditopang oleh data domestik yang berhasil dirilis di atas ekspektasi pasar.

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan inflasi Mei 2019 mencapai 0,68 persen, lebih tinggi daripada perkiraan pasar yaitu 0,53 persen.  Adapun secara tahunan, inflasi Mei 2019 tercatat 3,32 persen year on year.

"Tampaknya satu faktor kunci adalah pertumbuhan ekonomi Indonesia yang kuat, meskipun World Bank memangkas pertumbuhan ekonomi global tahun ini," ujar Deddy kepada Bisnis.com, Senin (10/6/2019).

Deddy memprediksi rupiah akan rentang terkoreksi pada perdagangan Selasa (11/6/2019) dengan bergerak di kisaran level Rp14.190 per dolar AS hingga Rp14.300 per dolar AS.

Hal tersebut seiring dengan potensi indeks dolar AS yang akan terus menguat.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Gonjang Ganjing Rupiah, Rupiah

Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top