Indo-Rama Synthetics (INDR) Tambah Kapasitas Produksi

Emiten produsen polyester dan tekstil PT Indo-Rama Synthetics Tbk. mengalokasikan belanja modal sebesar US$44 untuk meningkatkan kapasitas produksi pabrik poliester dan benang pintal pada 2019. 
Azizah Nur Alfi
Azizah Nur Alfi - Bisnis.com 28 Mei 2019  |  09:01 WIB

Bisnis.com, JAKARTA - Emiten produsen polyester dan tekstil PT Indo-Rama Synthetics Tbk. mengalokasikan belanja modal sebesar US$44 untuk meningkatkan kapasitas produksi pabrik poliester dan benang pintal pada 2019. 

Presiden Direktur Indo-Rama Synthetics Vishnu Swaroop Baldwa mengatakan bahwa perseroan mengalokasikan belanja modal sebesar US$44 juta yang bersumber dari kas internal pada tahun ini. Hingga kuartal I/2019, belanja modal telah terserap US$12 juta. 

Belanja modal itu untuk ekspansi produk poliester dan benang pintal. Perseroan memiliki kapasitas produksi poliester dan benang pintal sebesar 410.000 ton per tahun. 

Pada tahun ini, perseroan akan meningkatkan kapasitas produksi 5%-7% dari kapasitas exsisting. Targetnya, kapasitas baru dapat beroperasi mulai kuartal IV/2019.  "Saat ini sudah berjalan [penambahan kapasitas]. Kapasitas akan berjalan pada akhir tahun. Benefitnya akan dirasakan di 2020," katanya, Selasa (28/5/2019).

Perseroan mengincar laba bersih sebesar US$55 juta pada tahun ini. Sekitar 60%-65% berasal dari penjualan ekspor. Target laba bersih ini telah memperhitungkan hasil penjualan saham yang dimiliki di PT Indorama Petrochemicals Indonesia (PTIP) dengan nilai penjualan US$55,14 juta pada Januari 2019. Hasil penjualan saham itu sebagian digunakan pelunasan sebagian kewajiban untuk memperbaiki arus kas. 

Adapun, sebesar US$30 juta di antaranya tercatat pada laba di kuartal I/2019. Hingga kuartal I/2019, perseroan mencapai laba bersih sebesar US$32,8 juta, naik 141,18% dari laba kuartal I/2018 sebesar US$13,6 juta. Dengan demikian, perseroan mengantongi laba dari operasional pabrik hanya US$2,8 juta atau lebih rendah dari periode yang sama pada tahun sebelumnya. 

Vishnu menjelaskan, laba operasional yang tertekan pada 3 bulan pertama tahun ini karena permintaan pasar turun akibat perang dagang AS-China. Dia memproyeksikan, permintaan yang melambat masih berlanjut pada kuartal II/2019. 

Meski demikian, perseroan optimistis permintaan mulai meningkat pada kuartal III dan kuartal IV. Apalagi, setelah kapasitas pabrik baru beroperasi yang menghasilkan produk poliester dan benang pintal bernilai tambah. 

"Tahun 2018 adalah tahun yang baik. Profitnya paling besar dalam 10 tahun terakhi. Tapi itu tidak bertahan. Mulai kuartal IV/2018, pasar global mulai sulit," imbuhnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kinerja emiten, indorama

Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top