Malaysia Ajak Indonesia Ajukan Aduan Pembatasan CPO oleh UE ke WTO

Malaysia mengajak Indonesia untuk bekerja sama  mengajukan pengaduan terkait dengan regulasi pembatasan biofuel kelapa sawit oleh Uni Eropa ke World Trade Organization atau WTO.
Malaysia Ajak Indonesia Ajukan Aduan Pembatasan CPO oleh UE ke WTO Finna U. Ulfah | 24 Mei 2019 14:52 WIB
Malaysia Ajak Indonesia Ajukan Aduan Pembatasan CPO oleh UE ke WTO
Tandan buah segar - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA - Malaysia mengajak Indonesia untuk bekerja sama  mengajukan pengaduan terkait dengan regulasi pembatasan biofuel kelapa sawit oleh Uni Eropa ke World Trade Organization atau WTO.

Seperti dilansir dari Bloomberg, Menteri Industri Primer Malaysia Teresa Kok mengatakan bahwa pihaknya akan mengatur pertemuan dengan para pejabat dari negara produsen CPO utama pada Juli untuk membicarakan masalah pembatasan CPO oleh UE.

Selain itu, Teresa juga berencana untuk bertemu dengan anggota Komisi Uni Eropa yang baru untuk menegosiasikan perdagangan minyak kelapa sawit setelah pemilihan umum Uni Eropa berakhir.

"Kami berharap dapat meyakinkan UE bahwa tidak ada alasan untuk menghentikan penggunaan kelapa sawit dalam bahan baku biofuel, karena tanaman tersebut dapat diproduksi secara berkelanjutan," ujar Teresa seperti dikutip dari Bloomberg, Jumat (24/5/2019).

Malaysia pun telah mendesak petani kelapa sawitnya untuk mengajukan sertifikasi berkelanjutan terhadap area perkebunannya.

Saat ini, Malaysia baru memiliki sekitar 30% dari total area perkebunan kelapa sawit yang telah disertifikasi oleh lembaga sertifikasi minyak kelapa sawit berkelanjutan Malaysia.

Seperti yang diketahui, pada Selasa (22/5/2019) Uni Eropa telah merilis regulasi yang menerapkan kriteria baru tentang penggunaan sawit dalam biofuel yang akan mulai diberlakukan pada 10 Juni mendatang. Regulasi tersebut akan memiliki sistem sertifikasi dan pembatasan jenis biofuel dari minyak sawit, yang merupakan bagian dari energi terbarukan UE.

Selain itu, UE menetapkan batasan penggunaan kelapa sawit untuk periode 2021-2023 di level yang sama dengan 2019, yang kemudian akan diikuti dengan pengurangan bertahap pada 2030.

Di sisi lain, harga CPO berjangka masih melanjutkan pelemahannya pada perdagangan Jumat (24/5/2019) seiring dengan proyeksi penurunan permintaan dari Eropa yang semakin nyata.

Berdasarkan data Bloomberg, hingga pukul 14.05 WIB, harga CPO di bursa Malaysia melemah 0,64% menjadi 2.003 ringgit per ton, melanjutkan pelemahannya sejak 3 hari berturut-turut. Sepanjang tahun berjalan, harga CPO telah bergerak melemah sebesar 2,2%.

Adapun, mengutip data Malaysian Palm Oil Board, persedian CPO Malaysia untuk periode April menurun 6,6% menjadi 2,73 juta ton dibandingkan dengan bulan lalu. Produksi CPO Malaysia periode April pun menurun 1,4% menjadi 1,65 juta ton.

Namun demikian, ekspor CPO Malaysia berhasil tumbuh 2% menjadi 1,65 juta ton dibandingkan dengan periode sebelumnya.

Teresa menambahkan, kini Malaysia tengah berupaya untuk meningkatkan ekspor produk CPO ke China melalui promosi dengan asosiasi perdagangan dan kamar dagang dan tengah mencari cara baru untuk memasarkan CPO di pasar China. "China memiliki kapasitas besar untuk menyerap minyak kelapa sawit," tutur dia.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
cpo, malaysia, harga cpo

Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top