Ini yang Bikin Emiten Batu Bara Optimistis Harga Bakal Menghangat

Sejumlah emiten produsen batu bara optimistis harga komoditas emas hitam akan kembali menghangat ditopang berbagai katalis baik dari dalam maupun luar negeri.
M. Nurhadi Pratomo
M. Nurhadi Pratomo - Bisnis.com 17 Mei 2019  |  06:49 WIB
Ini yang Bikin Emiten Batu Bara Optimistis Harga Bakal Menghangat
Salah satu lokasi pertambangan batu bara di Kalimantan Timur. - JIBI/Rachmad Subiyanto

Bisnis.com, JAKARTA — Sejumlah emiten produsen batu bara optimistis harga komoditas emas hitam akan kembali menghangat ditopang berbagai katalis baik dari dalam maupun luar negeri.

Presiden Direktur dan Chief Executive Officer PT Adaro Energy Tbk. Garibaldi Thohir menjelaskan bahwa permintaan batu bara sejuah ini masih dalam kondisi baik. Menurutnya, tidak terjadi kenaikan namun dalam level stabil.

Dia menjelaskan bahwa pasokan dari tambang-tambang baru tidak bertambah signifikan. Pasalnya, terdapat kesulitan mendapatkan pendanaan dari perbankan untuk membuka tambang baru.

Dengan tidak adanya pendanaan baru dari perbankan, lanjut dia, pasokan baru tidak meningkat. Kondisi itu membuat harga menjadi lebih stabil. 

“Kalau tidak ada pemain baru berarti harga bisa stabil di atas US$80 per ton,” ujarnya di Jakarta, Rabu (15/5).

Ke depan, dia menyebut permintaan batu bara akan bertambah. Hal tersebut sejalan dengan beroperasinya sejumlah pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) baru di Indonesia, Vietnam, Jepang, dan India.

“Tahun depan kami harus antisipasi karena PLTU banyak yang komersial tetapi saya lihat pasokan akan terbatas,” jelasnya.

Emiten berkode saham ADRO itu menyebut akan mempertahankan produksi batu bara di level 54 juta ton hingga 56 juta ton dalam 15—20 tahun ke depan.

Boy, sapaan akrab Garibaldi, mengatakan perseroan juga akan memacu produksi coking coal melalui dua entitas anak usaha, Kestrel Coal Resources Pty Ltd. (Kestrel) dan Adaro MetCoal (AMC).

Dalam tiga tahun ke depan, ADRO memproyeksikan produksi coking coal Kestrel Coal Resources akan menembus 7 juta ton hingga 8 juta ton dari 6,5 juta ton pada 2019. 

Selain itu, perseroan juga akan mengerek produksi Adaro MetCoal dari 1 juta ton menjadi 3 juta ton dalam 2 tahun—3 tahun ke depan.

Secara terpisah, Direktur dan Sekretaris Perusahaan Bumi Resources Dileep Srivastava mengungkapkan indeks patokan spot batu bara saat ini adalah US$87 per ton. Indikasinya harga dapat menyentuh US$90 ton pada kuartal  III/2019.

Dia menilai harga U$80 per ton adalah konservatif karena masalah China dan Australia berangsur normal. Dengan demikian, indeks patokan masih bisa naik.

“Menurut pandangan kami, angka patokan spot akan mendekati US$90 tahun ini,” jelasnya.

Di sisi lain, dia juga menjelaskan bahwa Indonesia memproduksi sebagian besar batu bara kalori rendah. Menurutnya, kategori tersebut lebih sedikit terkena pengaruh

Sebagai gambaran, saat ini harga batu bara kalori rendah berada di kisaran US$40 per ton. Angka itu lebih tinggi dibandingkan US$29 ton pada kuartal IV/2018.

“Market untuk batu bara kalori rendah sekarang cukup memuaskan,” imbuhnya.

Seperti diketahui, BUMI membidik volume produksi batu bara sekitar 88 juta ton hingga 90 juta ton pada 2019. Target itu naik dari realisasi 80 juta ton pada 2018.

Manajemen Bumi Resources melaporkan entitas anak, PT Kaltim Prima Coal (KPC) merealisasikan penjualan 5,2 metrik ton (MT) pada Maret 2019. Dengan demikian, total penjualan dari KPC mencapai 15 MT pada kuartal I/2019 atau tumbuh 10,29% dari 13,6 MT pada kuartal I/2018.

Adapun, penjualan entitas anak lainnya, PT Arutmin Indonesia (PTAI) tercatat 2,5 MT ton pada Maret 2019. Volume penjualan PTAI sebanyak 5,7 MT pada kuartal I/2019 atau turun 26,92% dari periode yang sama tahun lalu.

Dengan demikian, total penjualan batu bara BUMI mencapai 20,8 mt pada kuartal I/2019. Jumlah itu turun tipis 2% dari 21,3 mt pada kuartal I/2018.

Sementara itu, Direktur Utama Harum Energy Ray Antonio Gunara menjelaskan bahwa rata-rata harga penjualan mencapai US$70,6 per ton pada 2018. Posisi itu naik 7,3% dari US$65,7 per ton pada 2017.

Untuk kuartal I/2019, harga rata-rata penjualan batu bara US$62,1 per ton. Nilai tersebut turun dari 15,9% dari periode yang sama tahun lalu atau turun 7,4% dari kuartal IV/2018.

Kendati demikian, dia menyebut dalam satu bulan terakhir harga batu bara sudah mengalami kenaikan. 

"Harga batu bara saat ini sudah at the bottom jadi tidak akan banyak downside,” tuturnya.

Seperti diketahui, emiten berkode HRUM itu memiliki lima usaha yang bergerak di bidang pertambangan batu bara yakni PT Mahakam Sumber Jaya (MSJ), PT Santan Batubara (SB), PT Tambang Batubara Harum (TBH), PT Karya Usaha Pertiwi (KUP), dan PT Bumi Karunia Pertiwi (BKP).

Selain itu, perseroan juga memiliki satu entitas anak yang bergerak di bidang transportasi dan satu di bidang investasi.

Perseroan dan anak usaha memiliki estimasi sumber daya Joint Ore Reserves Committee (JORC) sekitar 487 juta ton. Jumlah cadangan yang dimiliki sebesar 64 juta ton per 31 Maret 2019.

Sebagai gambaran, MSJ memproduksi batu bara 0,6 juta ton pada kuartal I/2019. Nilai kalori dari entitas anak tersebut yakni 5.800—6.400 kcal/kg.

Selanjutnya, SB memproduksi 0,4 juta ton per 31 Maret 2019. Nilai kalori yang dihasilkan anak usaha tersebut yakni 5.400—6.400 kcal/kg.

Pada 2019, HRUM menargetkan produksi 4 juta ton hingga 5 juta ton. Namun, proyeksi itu dapat berubah tergantung kondisi pasar, kesiapan lahan, dan perizinan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
batu bara, kinerja emiten, adaro

Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top