Volume Penjualan Prima Cakrawala (PCAR) Berpotensi Menurun Tahun Ini

Pengelolahan rajungan, PT Prima Cakrawala Abadi Tbk. (PCAR) memproyeksikan volume penjualan sebanyak 245 ton pada tahun ini, turun 41,2% dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
Novita Sari Simamora | 16 Mei 2019 15:20 WIB
Karyawan melintas di depan layar pergerakan saham di Plaza Mandiri, Jakarta, Senin (29/4/2019)./ANTARA FOTO - Rivan Awal Lingga

Bisnis.com, JAKARTA -- Pengelolahan rajungan, PT Prima Cakrawala Abadi Tbk. (PCAR) memproyeksikan volume penjualan sebanyak 245 ton pada tahun ini, turun 41,2% dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Direktur Utama PCAR Raditya Wardhana mengungkapkan bahwa pada tahun ini, perseroan akan fokus pada pabrik di Makassar karena kualitas dan harga bahan baku di daerah tersebut cukup baik. Penyebab penurunan volume penjualan adalah penghentian pabrik di Indramayu, Cirebon.

Penutupan pabrik di Indramayu dilakukan PCAR karena adanya persaingan yang tidak sehat dalam pengadaan bahan baku ditingkat supplier. Dia pun tak menampik bakal terjadi potensi penurunan nilai penjualan.

"Pada kuartal II/2019 diharapkan lebih baik karena beberapa beban sudah kami tekan di awal bulan ini. Kami sudah mendapatkan order tetap dari pelanggan," ungkapnya kepada Bisnis.com, Kamis (16/5/2019).

Dia mengungkapkan, perseroan juga berencana untuk melakukan diversifikasi produk. Namun, Raditya enggan memerinci detail diversifikasi yang direncanakan karena masih dalam tahap pembahasan internal.

Di sisi lain, dampak positif dari penutupan pabrik di Indramayu adalah menghentikan kerugian yang dialami akibat tidak adanya pendapatan yang diterima, mengurangi risiko kerugian di masa depan karena bahan baku berkualitas rendah dan melakukan penghematan biaya fixed cost.

Pada 2018, penjualan bersih PCAR mencapai Rp176,5 miliar, naik 30,3% dari posisi Rp135,43 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, beban pokok penjualan PCAR pada 2018 senilai Rp168,16 miliar, naik 42,9% dari posisi Rp117,64 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Pada tahun lalu, perseroan membukukan rugi tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk senilai Rp8,38 miliar, dari posisi Rp370,46 juta pada 2017.

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kinerja emiten, rajungan

Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup