Harga Sawit Melemah, Terpapar Perang Dagang AS dan China

Harga minyak kelapa sawit berjangka di Malaysia memerah, terdampak kecemasan perang dagang antara Amerika Serikat dan China. Selain itu, sawit juga terpapar sentimen bearish akibat tingginya produksi pada bulan lalu.
Dika Irawan | 09 Mei 2019 16:11 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Harga minyak kelapa sawit berjangka di Malaysia memerah, terdampak kecemasan perang dagang antara Amerika Serikat dan China. Selain itu, sawit juga terpapar sentimen bearish akibat tingginya produksi pada bulan lalu.

Data Bloomberg menunjukkan, hingga pukul 15.19 WIB, harga crude palm oil (CPO) kontrak Juli di Bursa Derivatif Malaysia amblas 1,42% atau 29,00 poin menjadi 2.008 ringgit per ton. Pada pembukaan perdagangan, harga sawit pun sudah melemah 0,59% atau 12,00 poin ke level 2.025 ringgit per ton.

Seorang trader yang berbasis di Kuala Lumpur mengatakan bahwa kedua faktor tersebut, yaitu perang dagang dan produksi tinggi pada April lalu telah menyebabkan harga sawit jatuh pada hari ini, Kamis (9/5/2019). Menurut data Malaysian Palm Oil, produksi sawit April mengalami peningkatan 2,3% secara bulanan.

Hal ini melebihi perkiraaan pasar. Sebuah jajak penadapat Reuters menunjukkan, proyeksi produksi sawit Malaysia pada bulan lalu mencapai 1,64 juta ton, atau turun 1,9% dari Maret.

Sementara itu, Dewan Sawit Malaysia (Malaysian Palm Oil Board) dijadwalkan akan mengumumkan data resmi seputar produksi, stok akhir, dan ekspor sawit pada besok, Jumat (10/5/2019).

Meskipun demikian, pasar sawit juga mendapat dukungan dari ringgit yang melemah di hadapan dolar AS. Pada perdagangan siang hari ini, Kamis (9/5/2019), mata uang transaksi sawit tersebut melemah 0,1% terhadap dolar AS menjadi 4,15 ringgit, melanjutkan penurunan selama tujuh hari berturut-turut.

Sebagai informasi ringgit yang lebih lemah biasanya mendukung harga minyak sawit, karena membuatnya lebih murah untuk pembeli mata uang asing.

Pasar saham dan komoditas global terpukul awal pekan ini, usai Presiden AS Donald Trump mengancam akan menaikkan bea impor pada barang-barang China.

AS mengumumkan, tarif impor barang China senilai US$200 miliar akan meningkat menjadi 25% dari 10% pada besok, Jumat (10/5/2019). Pemberlakuan tarif itu tepat di tengah pertemuan 2 hari Wakil Perdana Menteri China Liu He dan pejabat perdagangan utama Trump di Washington.

Dalam perkembangan minyak nabati lainnya, harga minyak kedelai Chicago kontrak Juli turun 6,0%, sedangkan harga komoditas sejenis kontrak Mei di Dalian Commodity Exchange naik tipis 0,1%. Sedangkan minyak sawit kontrak Mei di Dalian tergelincir 0,5%.

Untuk diketahui, harga minyak sawit dipengaruhi oleh pergerakan harga minyak kedelai. Keduanya bersaing untuk pangsa pasar global.

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
minyak sawit, harga cpo

Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup