Laba Terkontraksi, Emiten Unggas Andalkan Ramadan untuk Pacu Kinerja

Capaian laba emiten unggas pada 3 bulan pertama tahun ini terkontraksi seiring dengan penurunan harga ayam broiler. Namun, pada kuartal II/2019, pemulihan diprediksikan bakal terjadi karena ada pola musiman. 
Novita Sari Simamora
Novita Sari Simamora - Bisnis.com 06 Mei 2019  |  12:13 WIB

Bisnis.com, JAKARTA — Capaian laba emiten unggas pada 3 bulan pertama tahun ini terkontraksi seiring dengan penurunan harga ayam broiler. Namun, pada kuartal II/2019, pemulihan diprediksikan bakal terjadi karena ada pola musiman. 

Dua pemain raksasa dalam segmen unggas yakni PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk. (CPIN) dan PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk. (JPFA) mencatatkan peningkatan beban pokok penjualan yang lebih tinggi dibandingkan dengan penjualan.

CPIN membukukan penjualan senilai Rp14,45 triliun pada kuartal I/2019, naik 21,94% dari posisi Rp11,85 triliun. Penjualan itu berasal dari pakan, ayam pedaging, anak ayam usia sehari, ayam olahan dan lain-lain masing-masing senilai Rp7,05 triliun, Rp3,96 triliun, Rp1,86 triliun, Rp1,11 triliun dan Rp449,36 miliar.

Namun, beban pokok penjualan CPIN per kuartal I/2019 senilai Rp12,74 triliun, naik 29,2% dari posisi Rp5,38 triliun. Kenaikan paling besar berasal dari komponen bahan baku dan pembelian barang jadi masing-masing naik 32,34% dan 30,18% atau setara Rp1,74 triliun dan Rp987 miliar, masing-masing menjadi Rp7,12 triliun dan Rp4,27 triliun.

Kondisi serupa juga terjadi pada JPFA. Penjualan yang dibukukan per kuartal I/2019 senilai Rp8,56 triliun, naik 8,9% dari posisi Rp7,86 triliun pada kuartal I/2018. 

Tiga segmen yang berkontribusi besar pada penjualan perseroan yakni pakan ternak, ayam umur sehari, serta peternakan dan produk konsumen. Namun, peningkatan penjualan hanya terjadi pada pakan ternak dan ayam umur sehari masing-masing naik 26,18% dan 25,6% year on year, masing-masing menjadi Rp3,47 triliun dan Rp806,81 miliar.

Sementara itu, segmen  peternakan dan produk konsumen turun 9,4% menjadi Rp3,18 triliun pada kuartal I/2019 dari posisi Rp3,51 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Beban pokok penjualan yang dibukukan tumbuh lebih tinggi dibandingkan dengan penjualan. Pertumbuhan beban pokok penjualan JPFA mencapai 16,47% year on year, menjadi Rp7,14 triliun pada kuartal I/2019.

Achmad Damawi, Deputy Head of Commercial Poultry Division Japfa Comfeed Indonesia mengungkapkan, volume penjualan perseroan mengalami kenaikan. Meskipun ada penaikan volume, tetapi harga cenderung menurun sehingga nilai penjualan yang dicatatan tidak terlalu tinggi.

"Secara volume penjualan naik, tetapi secara harga [jual] turun, terutama harga ayam hidup. Kenaikan volume penjualan ini otomatis menambah harga pokok penjualan atau bahan baku, jadi persentase bahan baku lebih naik," katanya saat dihubungi Bisnis.com, Minggu (5/5/2019).

Dia menambahkan, harga pembelian bahan baku tidak mengalami perubahan yang signifikan. Bila pun ada penurunan, hanya sedikit dan tidak sedalam harga penjualan.

Memasuki Ramadan, Damawi optimistis akan ada perbaikan pada harga pokok penjualan ayam. Bila harga penjualan ayam broiler pulih, maka emiten unggas ini akan mencatatkan kenaikan nilai yang sejalan dengan volume.

Mengutip riset Kresna Sekuritas, penurunan laba bersih JPFA disebabkan oleh laba operasi peternakan dan produk konsumen yang mencatatkan kerugian sebesar Rp264,8 miliar, 48,2% dari total laba usaha Rp549,6 miliar. Padahal, pada kuartal I/2018, segmen ini masih membukukan laba operasi senilai Rp246,69 miliar.

Kresna Sekuritas menilai  bahwa pembengkakan kerugian tersebut karena kontribusi segmen terhadap penjualan kedua terbesar yaitu 37,1% yang diikuti pelemahan harga broiler kuartal I/2019 dibandingkan periode yang sama tahun lalu dan kuartal sebelumnya.

"Namun, pelemahan kinerja ini melampaui estimasi kami sehingga kami mengubah rekomendasi, dari buy menjadi hold dengan target harga Rp1.700 hingga Desember 2019 dengan sudah mempertimbangkan perbaikan kinerja di pada kuartal II menjelang bulan Ramadan," katanya melalui riset medio April 2019.

Emiten unggas yang mengalami tekanan yakni PT Malindo Feedmill Tbk. (MAIN) dengan mengantongi pertumbuhan penjualan dan beban pokok penjualan masing-masing 31,9% dan 36% masing-masing menjadi Rp1,94 triliun dan Rp1,7 triliun.

Kresna Sekuritas menilai, pelemahan kinerja MAIN pada kuartal I/2019 disebabkan oleh segmen broiler yang memberatkan laba operasi sebesar Rp20,7 miliar atau 13,2% dari total laba operasi. Hal ini disebabkan oleh penurunan harga broiler pada kuartal I/2019.

Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Mimi Halimin menilai, akan terjadi pemulihan pada kuartal II/2019 karena Ramadan yang dimulai pada awal Mei 2019. Di sisi lain, Mirae Asset Sekuritas Indonesia merekomendasikan beli saham JPFA dengan target Rp1.800 yang mencerminkan price per earning 12,3 kali.

"Biasanya, permintaan ayam meningkat selama bulan puasa, meningkatkan harga," katanya melalui riset medio Mei 2019.

Namun, untuk target 2019, Mimi menilai, akan ada pertumbuhan terbatas untuk harga DOC dan harga ayam, karena masih adanya pasokan dan normalisasi sejak 2018.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kinerja emiten, unggas, emiten perunggasan

Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup