Obligasi Korporasi Banyak Diburu Manajer Investasi

Para manager investasi reksa dana cenderung lebih banyak memburu instrumen obligasi korporasi untuk meracik portofolionya sepanjang kuartal pertama tahun ini, ditengarai karena tingkat imbal hasilnya yang relatif lebih tinggi dibandingkan instrumen lainnya.
Emanuel B. Caesario
Emanuel B. Caesario - Bisnis.com 30 April 2019  |  08:39 WIB
Obligasi Korporasi Banyak Diburu Manajer Investasi
Ilustrasi - www.hennionandwalsh.com

Bisnis.com, JAKARTA— Para manager investasi reksa dana cenderung lebih banyak memburu instrumen obligasi korporasi untuk meracik portofolionya sepanjang kuartal pertama tahun ini, ditengarai karena tingkat imbal hasilnya yang relatif lebih tinggi dibandingkan instrumen lainnya.

Berdasarkan data OJK, hingga akhir Maret 2019, total aset manager investasi reksa dana pada akhir kuartal I/2019 mencapai Rp333,73 triliun, meningkat 2% atau Rp6,43 triliun dibandingkan posisi akhir 2018 lalu yang senilai Rp327,3 triliun.

Peningkatan tertinggi penempatan investasi reksa dana pada kuartal pertama tahun ini berada di obligasi korporasi, yakni mencapai Rp4,5 triliun, atau meningkat dari Rp102,85 triliun pada akhir 2018 menjadi Rp107,34 triliun pada akhir Maret 2019.

Sementara itu, pada instrumen saham, kepemilikan reksa dana berkurang Rp268 miliar, sedangkan pada surat utang negara (SUN) berkurang Rp524 miliar. Namun, pada instrumen sukuk negara meningkat sebesar Rp781 miliar.

Adapun, total outstanding obligasi korporasi hingga akhir kuartal pertama tahun ini mencapai Rp409,2 triliun, naik Rp8,2 triliun atau 2% dari posisi akhir 2018 yang sebesar Rp401 miliar. Artinya, peningkatan kepemilikan reksa dana yang sebesar Rp4,5 triliun mencakup 55% dari total peningkatan outstanding reksa dana.

Rudiyanto, Direktur Panin Asset Management, mengatakan bahwa masing-masing manajer investasi tentu memiliki strategi yang berbeda dalam meracik portofolio investasinya. Dirinya menduga, ada cukup banyak manager investasi yang mendapatkan mandat penempatan dana yang cukup besar dari investornya pada instrumen obligasi korporasi.

Panin Asset Management juga mendapatkan mandat serupa dari salah satu investor korporasi besar untuk menempatkan investasinya pada instrumen obligasi korporasi. Menurutnya, hal tersebut lebih banyak disebabkan karena kebijakan investasi dari investor yang bersangkutan.

Rudiyanto mengatakan, pihaknya sendiri secara aktif masih melirik instrumen ekuitas atau saham untuk meracik reksa dana saham. Dirinya memaklumi bila ada beberapa MI yang kemungkinan menghindari saham karena gejolak IHSG yang cukup tinggi di awal tahun ini.

“Namun, kami malah cukup agresif di saham karena kami melihat view-nya bagus untuk saham hingga akhir tahun ini,” katanya, Senin (29/4/2019).

Sementara itu, turunnya penempatan MI pada instrumen SUN kemungkinan karena terdorong oleh aksi profit taking. Pasalnya, sepanjang kuartal pertama, tingkat keuntungan atau return di instrumen SUN sudah sekitar 3%.

Secara umum, dirinya menilai prospek instrumen pendapatan tetap seperti SUN dan obligasi korporasi akan cukup menjanjikan hingga akhir tahun ini, sehingga pihaknya tetap menaruh perhatian besar pada instrumen jenis ini.

Dirinya memperkirakan, hingga akhir tahun return reksa dana pendapatan tetap bisa mencapai antara 8% hingga 12%. Adapun, berdasarkan data IBPA, kinerja indek obligasi komposit ICBI hingga awal pekan ini, Senin (29/4/2019) sudah tumbuh 4,38% ytd, sedangkan IHSG 3,74% ytd.

Ramdhan Ario Maruto, Associate Director Fixed Income Anugerah Sekuritas Indonesia, mengatakan bahwa sepanjang kuartal pertama tahun ini pasar memang cenderung dibanjiri instrumen reksa dana pendapatan tetap dan reksadana campuran.

Sementara itu, instrumen utama penopang reksa dana pendapatan tetap dan campuran tersebut adalah obligasi korporasi. Pasalnya, yield-nya masih cenderung tinggi dibandingkan dengan yield SUN terus turun karena penguatan pasar, sedangkan saham cenderung volatile dan sulit naik lebih tinggi.

Saham pun cenderung terbatas porsinya dalam reksa dana campuran di awal tahun ini, karena karakternya yang cukup valatil dan cenderung berat untuk bisa naik lebih tinggi dari level terkini.

Berdasarkan data Pefindo, kupon surat utang korporasi sepanjang kuartal pertama tahun ini dari peringkat AAA hingga BBB untuk tenor 3 tahun berkisar antara 8,78% hingga 11,15%. Padahal, sepanjang 2018 lalu, rata-rata kuponnya adalah 7,68% hingga 10,63%.

Di sisi lain, yield SUN 10 tahun pada akhir Maret 2019 ditutup di level 7,6%, sedangkan pada awal pekan ini sudah turun ke level 7,56%. Level ini sudah turun cukup banyak dibandingkan posisi akhir 2018 yang sebesar 7,94%.

“Para manager investasi harus dongkrak return mereka, sehingga obligasi korporasi menjadi incaran. Apalagi, hingga saat ini pun yield obligasi korporasi masih cukup tinggi. Jadi, di satu sisi pasar obligasi tertekan yieldnya, tetapi di sisi lain muncul juga banyak produk baru yang mencari insturmen ini,” katanya.

Menariknya, pasokan baru obligasi korporasi sepanjang kuartal pertama tahun ini juga sangat terbatas, hanya Rp25,5 triliun. Ini belum dikurangi nilai yang jatuh tempo. Alhasil, para manager investasi ini harus berebut dana di pasar sekunder.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Obligasi, obligasi korporasi, reksa dana

Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top