HARGA SUN : Pelemahan Masih Akan Berlanjut, Investor Agar Wait and See

Pilarmas Investindo Sekuritas memperkirakan bahwa pada perdagangan hari ini, Kamis (25/4/2019) pasar obligasi masih akan dibuka melemah dengan potensi melemah terbatas. 
Emanuel B. Caesario
Emanuel B. Caesario - Bisnis.com 25 April 2019  |  09:09 WIB
HARGA SUN : Pelemahan Masih Akan Berlanjut, Investor Agar Wait and See
Ilustrasi - www.hennionandwalsh.com

Bisnis.com, JAKARTA — Pilarmas Investindo Sekuritas memperkirakan bahwa pada perdagangan hari ini, Kamis (25/4/2019) pasar obligasi
masih akan dibuka melemah dengan potensi melemah terbatas. 

Maximilianus Nico Demus, Direktur Riset dan Investasi Pilarmas Investindo Sekuritas, mengatakan bahwa keterbatasan ini datang dari mulai sempitnya ruang pelemahan, meskipun tidak menutup kemungkinan harga obligasi akan menembus titik bawah. 

Nico mengatakan, pada perdagangan kemarin, Rabu (23/4/2019), pasar obligasi masih inline dengan prediksi Pilarmas Sekuritas kemarin yang masih melanjutkan penurunan. Menurutnya, kekhawatiran akan politik dalam negeri masih menjadi ganjalan dalam pergerakan pasar modal, baik saham maupun obligasi. 

"Mungkin hal ini akan berlangsung lebih lama dari yang diperkirakan hingga KPU memberikan pengumuman resmi yang memberikan kepastian lebih terhadap stabilitas politik dalam negeri," katanya dalam riset harian, Kamis (25/4/2019).

Kemarin, imbal hasil obligasi Indonesia 10 tahun ditutup naik dibandingkan hari sebelumnya di 7,66% menjadi 7,68%. Imbal hasil obligasi Indonesia 20 tahun ditutup naik dari sebelumnya 8,23% menjadi 8,26%. Rupiah ditutup melemah dari sebelumnya di Rp14.080 menjadi Rp14.104.

Nico mengatakan, penantian berita hari ini datang dari hasil rapat dewan gubernur (RDG) Bank Indonesia yang akan memberikan hasilnya disore hari nanti. 

"Meskipun kami melihat tingkat suku bunga Bank Indonesia tidak akan berubah, tetapi pandangan dan strategi kedepannya amat sangat dinantikan ketika potensi kenaikkan tingkat suku bunga di dunia sedang berada dalam posisi dovish, yang memberikan potensi Bank Indonesia dapat menurunkan tingkat suku bunganya minimal 25 bps," katanya.

Nico memperkirakan Bank Indonesia mungkin akan menanti terlebih dahulu kepastian mengenai pemilihan presiden yang sudah dilakukan beberapa waktu lalu. Namun, potensi turunnya suku bunga Bank Indonesia juga sedang diamini oleh beberapa lembaga keuangan non bank lainnya.

Saat ini, perhatian juga tertuju kepada Bank of Japan karena berpotensi untuk mengucurkan kembali stimulus di tengah perlambatan ekonomi Jepang dan rendahnya inflasi. Pengumuman Bank of Japan juga dilakukan hari ini, mungkin lebih awal sebelum Bank Indonesia.

Fokus berikutnya adalah pertemuan antara Amerika dan China yang akan terjadi pada 30 April 2019 yang akan dipimpin oleh Liu He. Beralih dari sana, di China pasar tampaknya mendapat sedikit bantuan dari Bank Sentral untuk mendukung likuiditas dalam sistem perbankan untuk mendanai pinjaman. Bank Sentral China menyuntikkan pinjaman setara dengan US$40 miliar untuk pinjaman jangka menengah.

Hari ini pula Shinzo Abe dari Jepang akan bertemu para pemimpin Uni Eropa untuk menghadiri Konfrensi Tingkat Tinggi Bersama Presiden Trump. Percikan api antara Amerika dan Jepang tampaknya mulai meminta kedua negara untuk dapat duduk bersama. "Kami masih merekomendasikan wait and see hari ini dengan potensi jual," katanya.
 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Obligasi, surat utang negara, pasar obligasi

Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top