Bakal RUPST, Begini Kata Kementerian BUMN Soal Pergantian Direksi Garuda Indonesia (GIAA)

Kementerian Badan Usaha Milik Negara mengatakan belum berencana mengubah susunan direksi PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. dalam rapat umum pemegang saham tahunan kinerja 2018 yang berlangsung pada 24 April 2019.
M. Nurhadi Pratomo | 22 April 2019 11:54 WIB
CEO Citi Indonesia Batara Sianturi (kiri) bersama CEO Garuda Indonesia I Gusti Ngurah Askhara Danadiputra mengamati replika pesawat, usai penandatanganan kerja sama, di Jakarta, Senin (15/4/2019). - Bisnis/Endang Muchtar

Bisnis.com, JAKARTA — Kementerian Badan Usaha Milik Negara mengatakan belum berencana mengubah susunan direksi PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. dalam rapat umum pemegang saham tahunan kinerja 2018 yang berlangsung pada 24 April 2019.

Dalam keterbukaan informasi di laman Bursa Efek Indonesia (BEI), emiten berkode saham GIAA itu mengumumkan akan melangsungkan rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST) kinerja 2018 pada 24 April 2019. Salah satu mata acara dari tujuh yang diagendakan yakni perubahan susunan pengurus perseroan.

Dalam panggilan RUPST, Manajemen GIAA menyebut agenda perubahan susunan pengurus perseroan merupakan usulan tambahan mata acara dari Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) selaku pemegang saham Seri A Dwiwarna. Hal tersebut disampaikan melalui surat nomor S-149/MBU/D5/03/2019 tanggal 14 Maret 2019 perihal usulan tambahan agenda RUPST buku 2018.

Saat dimintai konfirmasi, Deputi Bidang Usaha Jasa Keuangan, Jasa Survei dan Jasa Konsultasi Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Gatot Trihargo menampik kabar pergantian Direktur Utama Garuda Indonesia I Gusti Ngurah Askhara Danadiputra yang sempat beredar.

“Direksi Garuda oke-oke saja, kan masih baru,” ujarnya di Kementerian BUMN, Senin (22/4/2019).

Sebagai catatan, Kementerian BUMN merombak direksi GIAA pada September 2018. Saat itu, dilakukan pergantian pucuk pimpinan dari Pahala N. Mansury kepada I Gusti Ngurah Askharadana Diputra.

Sebelumnya, Ari Askhara, sapaan akrabnya, menjabat Direktur Utama PT Pelabuhan Indonesia III (Persero) sejak Mei 2017. Dia juga mengisi kursi jajaran Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Garuda Indonesia periode Desember 2014—April 2016.

Seperti diketahui, GIAA telah melaporkan pendapatan US$924,93 juta pada kuartal I/2019. Realisasi itu naik 11,64% dari periode yang sama tahun lalu.

Dari situ, perseroan mencetak laba bersih US$20,48 juta pada pada kuartal I/2019. Posisi itu berbanding terbalik dari kerugian US$65,34 juta pada kuartal I/2018.

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
garuda indonesia, kinerja emiten, pergantian direksi garuda

Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup