Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Vale Indonesia (INCO) Tahan Dividen untuk Ekspansi

PT Vale Indonesia Tbk. menahan dividen 2018 sejalan dengan tingginya kebutuhan belanja modal perseroan pada tahun ini.
Manajemen PT Vale Indonesia Tbk. berfoto usai menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) di Jakarta, Selasa (2/4/2019)./Bisnis-M. Nurhadi Pratomo
Manajemen PT Vale Indonesia Tbk. berfoto usai menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) di Jakarta, Selasa (2/4/2019)./Bisnis-M. Nurhadi Pratomo

Bisnis.com, JAKARTA — PT Vale Indonesia Tbk. tidak membagikan dividen untuk kinerja keuangan 2018 sejalan dengan tingginya kebutuhan belanja modal perseroan pada tahun ini.

Direktur Vale Indonesia Bernardus Irmanto menjelaskan perseroan sudah menyampaikan kepada pemegang saham untuk tidak membagikan dividen. Pertimbangan utama yakni kondisi kas perseroan sehingga keuntungan dicadangkan.

“Pada 2019 akan ada kebutuhan capital yang cukup besar dibandingkan dengan 2018,” ujarnya ketika ditemui usai Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) di Jakarta, Selasa (2/4/2019).

Bernardus mengungkapkan dua proyek pengembangan besar yang dibidik perseroan yakni pengembangan smelter feronikel di Bahadopi, Sulawesi Tengah (Sulteng) dan smelter nikel di Pomalaa, Sulawesi Tenggara (Sultra). Pihaknya menyebut proyek tersebut tengah dalam proses negosiasi final.

Bernardus mengatakan perseroan menganggarkan belanja modal senilai US$165 juta pada 2019. Rencana itu naik dua kali lipat dari US$83 juta pada 2018.

Sebagai sumber pendanaan, sambungnya, perseroan akan menggunakan kas internal. Menurut Bernardus, perseroan menghasilkan laba sekitar US$60 juta pada 2018.

“[Sebesar] US$165 juta akan diambil dari kas internal sehingga akan tersedot cukup besar,” jelasnya

Berdasarkan laporan keuangan 2018, emiten pertambangan logam itu membukukan pendapatan sebesar US$776,9 juta pada 2018 atau tumbuh 23,45% secara year-on-year (yoy). Dari situ, perseroan membukukan laba bersih US$60,51 juta, setelah pada 2017 mencatatkan rugi bersih US$15,27 juta.

Berdasarkan catatan Bisnis, salah satu faktor pengerek kinerja perseroan adalah harga jual feronikel pada 2018 yang lebih tinggi 27% dibandingkan tahun sebelumnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor : Annisa Margrit
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper