Anggota OPEC Proyeksikan Harga Minyak di Kisaran US$75 per barel Hingga Akhir 2019

Menteri Energi Oman Mohammed bin Hamad al-Rumhy memperkirakan harga minyak global tetap berada di kisaran antara US$ 65 dan US$ 75 per barel sampai akhir tahun.
Dika Irawan
Dika Irawan - Bisnis.com 01 April 2019  |  10:31 WIB
Anggota OPEC Proyeksikan Harga Minyak di Kisaran US$75 per barel Hingga Akhir 2019
Harga Minyak WTI - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA - Menteri Energi Oman Mohammed bin Hamad al-Rumhy memperkirakan harga minyak global tetap berada di kisaran antara US$ 65 dan US$ 75 per barel sampai akhir tahun.

Badan Berita Oman (ONA) yang dikelola pemerintah melaporkan pada Sabtu (30/3/2019) seperti dikutip dari Reuters, Minggu (31/3/2019). Dia juga memastikan, Oman tetap berkomitmen pada perjanjian OPEC + sampai akhir 2019.

Di bawah kesepakatan yang dicapai pada Desember 2018, anggota Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (Organization of the Petroleum Exporting Countries/OPEC) bersama dengan Rusia dan produsen non-OPEC - aliansi yang dikenal sebagai OPEC + - sepakat untuk mengurangi pasokan minyak sebesar 1,2 juta barel per hari dari Januari  selama enam bulan ke depan.

Aliansi OPEC + dibentuk pada 2017. Sejak awal, harga minyak naik dua kali lipat menjadi lebih dari US$ 60 per barel, terutama sebagai hasil dari serangkaian pemangkasan produksi oleh para anggotanya.

Menurut perhitungan Reuters berdasarkan data dari Dubai Mercantile Exchange (DME) pekan lalu menunjukkan, harga jual resmi untuk minyak mentah Oman pada Mei akan naik US$ 2,50 menjadi US$ 66,98 per barel, tertinggi dalam lima bulan.

Namun, Arab Saudi mengalami kesulitan meyakinkan Rusia untuk tinggal lebih lama dalam pakta yang dipimpin OPEC. Moskow mungkin hanya menyetujui perpanjangan tiga bulan. Jika Rusia menarik diri dari kesepakatan terbaru tentang pengurangan produksi, harga minyak akan turun.

Secara terpisah, Al-Rumhy mengatakan, Oman Oil Co sedang melakukan studi kelayakan mengenai mengambil 30% saham dalam proyek kilang minyak baru di pantai selatan Sri Lanka.

Proyek ini akan menjadi kilang baru pertama Sri Lanka dalam 52 tahun, setelah Iran membangun kilang 50.000 barel per hari di dekat ibu kota, Kolombo.

Sebelumnya, harga minyak kembali memanas di tengah pengurangan pasokan yang dipimpin OPEC dan sanksi AS terhadap Iran dan Venezuela, menempatkan pasar minyak mentah di jalur kenaikan kuartalan terbesar sejak 2009.

Berdasarkan data Bloomberg, pada perdagangan Jumat (39/3/2018) pukul 17.50 WIB, harga minyak jenis West Texas Intermediete (WTI) bergerak di level US$60,06per barel, menguat 0,76%. Harga minyak mentah berjangka WTI telah bergerak naik selama 4 minggu berturut-turut dan berada di jalur hijau naik sekitar 30% dalam 3 bulan pertama tahun ini.

Sementara itu, minyak mentah jenis Brent bergerak di level US$68,59 per barel, telah menguat 0,77%. Harga minyak jenis Brent pun naik lebih dari 1,5% pada pekan ini dan naik lebih dari 25% pada kuartal pertama tahun ini.

Pada perdagangan kuartal pertama tahun ini, kedua kontrak berjangka tersebut mengalami kinerja kuartalan terbaik sejak 2009 dan telah bergerak di zona hijau, menguat sekitar 40%.    

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Harga Minyak, opec

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top