Rupiah Tak Berkutik Lawan Penguatan Dolar AS

Rupiah masih belum mampu melawan tekanan dolar Amerika Serikat (AS) pada akhir perdagangan hari ini, Jumat (29/3/2019).
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 29 Maret 2019  |  18:26 WIB
Rupiah Tak Berkutik Lawan Penguatan Dolar AS
Karyawan menghitung mata uang rupiah dan dolar AS di Jakarta, Senin (1/7/2019). - Bisnis/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA – Rupiah masih belum mampu melawan tekanan dolar Amerika Serikat (AS) pada akhir perdagangan hari ini, Jumat (29/3/2019).

Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah di pasar spot hanya berakhir stagnan di level Rp14.243 per dolar AS, tak mengalami perubahan dari level penutupan perdagangan sebelumnya. Pada perdagangan Kamis (28/3), rupiah berakhir melemah 35 poin atau 0,25%, pelemahan hari kedua berturut-turut.

Padahal, rupiah sempat rebound dari pelemahannya dengan dibuka terapresiasi 1 poin di posisi 14.242 pagi tadi dan menguat hingga kisaran level Rp14.220. Sepanjang perdagangan hari ini, rupiah bergerak di level Rp14.223 – Rp14.246 per dolar AS.

Sementara itu, indeks dolar AS, yang mengukur kekuatan dolar AS terhadap sejumlah mata uang utama terpantau menguat 0,123 poin atau 0,13% ke level 97,325 pada pukul 17.14 WIB.

Indeks dolar melanjutkan penguatannya setelah berakhir menanjak 0,428 poin atau 0,44% di level 97,202 pada perdagangan Kamis (28/3), penguatan hari ketiga beruntun.

Penguatan dolar AS didukung respons positif pasar terhadap kenaikan imbal hasil obligasi AS bertenor 10 tahun dari level terendahnya dalam 15 bulan pada Kamis (28/3).

Dolar AS juga mendapatkan keuntungan dari pelemahan sejumlah mata uang utama seperti euro. Euro, yang memiliki sekitar 58% bobot pada indeks dolar AS, bergerak menuju kinerja bulanan terburuknya sejak Oktober 2018 akibat terbebani oleh kekhawatiran tentang pertumbuhan ekonomi dan sinyal Bank Sentral Eropa (ECB).

Awal bulan ini, para pembuat kebijakan memangkas perkiraan pertumbuhan untuk ekonomi zona euro dan meluncurkan putaran baru pinjaman murah ke bank-banknya.

Euro juga telah terbebani oleh spekulasi bahwa ECB akan memperkenalkan suku buga deposito berjenjang. Hal ini menjadi tanda bahwa pembuat kebijakan berencana untuk mempertahankan tingkat suku bunga rendah lebih lama.

Sementara itu, Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Dody Budi Waluyo menegaskan kebijakan moneter BI tetap fokus pada stabilitas.

“Ekonomi Indonesia terlihat aman di tengah pelemahan ekonomi global saat ini dan masuknya dana asing ke dalam obligasi dan saham menjadi tanda kepercayaan investor pada aset-aset Indonesia,” tutur Dody kepada awak media di Jakarta, Jumat (29/3), seperti dikutip Bloomberg.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, investor asing membukukan aksi beli bersih (net buy) sebesar Rp831,97 miliar pada perdagangan hari ini.

Meski rupiah hari ini tak berkutik menghadapi dolar AS, mata uang lainnya di Asia mayoritas mampu menguat terhadap dolar AS, didorong optimisme tercapainya kesepakatan dagang AS-China.

Penasihat ekonomi Gedung Putih Larry Kudlow mengatakan AS siap untuk terus bernegosiasi dengan pemerintah China selama berpekan-pekan atau bahkan berbulan-bulan guna mencapai kesepakatan.

Penguatan mata uang di Asia dipimpin peso Filipina dan baht Thailand yang masing-masing terapresiasi 0,48% dan 0,45% pada pukul 17.24 WIB.

“Kabar tentang [perundingan perdagangan] AS-China tampaknya telah mengambil separuh perspektif. Isyarat yang dilemparkan Kudlow bahwa tidak ada batas waktu yang pasti mungkin dianggap sebagai indikasi halus komitmen untuk membuat kesepakatan tercapai,” ujar Wisnu Varathan, kepala bidang ekonomi dan strategi di Mizuho Bank Ltd.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Gonjang Ganjing Rupiah

Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top