Harga CPO Lesu, tapi Laba 2 Emiten Sawit ini malah Naik

Emiten perkebunan kelapa sawit menilai kondisi bisnis yang menantang pada 2018 akan berlanjut pada tahun ini, seiring dengan masih berlangsungnya pelemahan harga CPO.
Novita S. Simamora/Yustinus Andri/Puput Ady Sukarno | 26 Maret 2019 13:22 WIB
Kinerja emiten CPO. - Bisni/Nurur Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA — Emiten perkebunan kelapa sawit menilai kondisi bisnis yang menantang pada 2018 akan berlanjut pada tahun ini, seiring dengan masih berlangsungnya pelemahan harga CPO.

Kinerja emiten sawit diangkat menjadi topik headline koran cetak Bisnis Indonesia edisi Selasa (26/3/2019). Berikut laporannya.

Berdasarkan data lima emiten perkebunan kelapa sawit yang telah merilis laporan keuangan, hanya dua perusahaan yang mampu meningkatkan pendapatan pada 2018, yaitu PT Astra Agro Lestari Tbk. dan PT Mahkota Group Tbk.

Sementara itu, dari sisi profitabilitas, sebagian besar mencatatkan penurunan laba. Bahkan ada perusahaan yang membukukan kerugian. (Lihat grafis)

Lucas Kurniawan, Direktur Keuangan PT Austindo Nusantara Jaya Tbk., menuturkan bahwa pada tahun lalu, perseroan memproduksi minyak kelapa sawait mentah (crude palm oil/CPO) sebanyak 246.138 ton atau naik 17,8% secara tahunan.

“Penurunan kinerja keuangan pada 2018 karena harga CPO terus turun,” ujarnya kepada Bisnis, Senin (25/3).

Dia mengungkapkan, penurunan harga CPO pada 2018 telah menyebabkan harga jual rata-rata tergerus 17,8% menjadi US$504 per metrik ton dibandingkan dengan tahun sebelumnya US$613 per metrik ton.

“Prospek bisnis CPO pada tahun ini masih tergantung beberapa faktor, terutama realisasi penyerapan biodiesel dan penerapan rencana B30 serta penyelesaian perang dagang antara AS dan China dan pemulihan perekonomian global.”

Lucas menambahkan, faktor lain yang memengaruhi harga CPO adalah prediksi bahwa El-Nino akan kembali terjadi pada tahun ini, walaupun perkiraan tersebut masih prematur.

Menurutnya, hal terpenting yang harus dapat dijaga adalah keseimbangan antara pasokan dan permintaan. Hingga Februari 2019, volume produksi CPO perseroan naik 6,6% menjadi 34.750 ton, sedangkan produksi inti sawit naik 10,2% menjadi 7.502 ton.

Benny Tjoeng, Presiden Direktur PT Perusahaan Perkebunan London Sumatra Indonesia Tbk., mengatakan produksi CPO perseroan juga meningkat 16,4% menjadi 453.168 ton.

Namun, lanjutnya, penurunan harga jual rata-rata dari produk sawit dan karet berdampak terhadap total penjualan dan laba perseroan. Adapun, penjualan perusahaan pada 2018 mencapai Rp4,02 triliun atau turun 15,2% secara tahunan.

“Kami memperkirakan industri perkebunan tetap kompetitif dan menantang pada tahun ini,” ujar Benny.

Secara terpisah, Sekretaris Perusahaan Mahkota Group Elvi mengungkapkan, produksi CPO perseroan pada 2018 tercatat 219.149 ton dan pada tahun ini diproyeksikan turun menjadi 203.308 ton.

Pada tahun lalu, emiten berkode saham MGRO itu berhasil membukukan pertumbuhan pendapatan dua digit menjadi Rp2 triliun. Pada 2019, perseroan memproyeksikan pendapatan naik menjadi Rp5 triliun.

“Kami mengandalkan pabrik baru refinery yang mulai berkontribusi pada Juli 2019,” tuturnya.

Adapun, pabrik MGRO bakal menghasilkan produk turunan CPO seperti olein atau minyak goreng dan sterin yang merupakan bahan baku margarin atau oleochemical.

Terkait dengan sentimen negatif dari Uni Eropa, katanya, hal tersebut memberikan dampak terhadap ekspor produk CPO dan turunannya. “Namun dengan adanya campur tangan pemerintah, kami harapkan masalah ini bisa terselesaikan.”

UNI EROPA

Sebagai gambaran, pemerintah tengah menyiapkan perlawanan terhadap diskriminasi CPO dan produk turunannya yang dilancarkan oleh Uni Eropa (UE).

Staf Khusus Menteri Luar Negeri Peter F. Gontha optimistis Indonesia dapat memenangkan gugatan di World Trade Organization (WTO) apabila skema Renewable Energy Directive (RED) II disahkan oleh Parlemen Eropa.

Menurutnya, Indonesia selama beberapa tahun terakhir menjadi negara yang paling aktif mematuhi dan mengikuti kesepakatan Konferensi Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa atau Conference of the Parties (COP).

Industri sawit Indonesia juga aktif mematuhi kesepakatan Sustainable­ Development Goal’s (SDGs) yang dikeluarkan PBB.

“Kami akui memang Indonesia pernah melakukan kesalahan dalam 10 tahun lalu, ketika deforestasi mencapai 2 juta hektare. Namun, deforestasi sudah turun menjadi 400.000 hektare pada tahun lalu,” ujarnya, Senin (25/3).

Dia mencurigai, langkah diskriminatif UE terhadap CPO merupakan strategi untuk menekan defisit neraca perdagangannya terhadap Indonesia karena pada 2018, ekspor Indonesia ke UE senilai US$17,1 miliar, sedangkan impor hanya sebesar US$14,1 miliar.

Peter melanjutkan, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI juga telah melayangkan surat kepada Parlemen Eropa untuk meninjau ulang isi dari RED II.

Oke Nurwan, Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan, mengatakan pemerintah sedang berkomunikasi dengan Malaysia terkait dengan rencana gugatan terhadap UE melalui WTO.

“Kita punya pengalaman menang saat melawan UE ketika mereka menerapkan bea masuk antidumping biodiesel. Saat itu, kita bersama-sama dengan Argentina maju ke WTO dan kedua negara saling melengkapi dalam mengajukan tuntutan,” ujarnya.

Adapun, langkah kolaboratif antara Indonesia dengan Argentina berhasil memenangkan gugatan elawan UE di Dispute Settlement Body WTO pada 2018.

Master P. Tumanggor Ketua Bidang Perdagangan dan Promosi Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit (Gapki), mengatakan bahwa para pengusaha siap untuk melakukan gugatan melalui jalur pengadilan UE apabila skema RED II resmi disahkan.

Namun, lanjutnya, Gapki akan menunggu skema RED II menjadi produk hukum resmi agar bisa digugat.

“Kami dari kalangan usaha sangat siap untuk melakukan langkah gugatan kepada UE secara paralel bersama dengan pemerintah,” katanya.

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
minyak sawit, harga cpo

Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup