Steady Safe (SAFE) akan Beroperasi di Luar DKI Jakarta

Emiten transportasi, PT Steady Safe Tbk., berencana melakukan ekspansi layanan armada bis perseroan ke beberapa daerah di luar DKI Jakarta.
Muhammad Ridwan
Muhammad Ridwan - Bisnis.com 13 Februari 2019  |  20:42 WIB
Steady Safe (SAFE) akan Beroperasi di Luar DKI Jakarta
Karyawan beraktivitas di dekat papan penunjuk pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Jakarta, Senin (4/2/2019). - Bisnis/Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, JAKARTA — Emiten transportasi, PT Steady Safe Tbk., berencana melakukan ekspansi layanan armada bus perseroan ke beberapa daerah di luar DKI Jakarta.

Perusahaan bersandi saham SAFE itu akan tetap berfokus pada bisnis transportasi. Melihat keseriusan pemerintah untuk memperbaiki dan menata transportasi umum dinilai menjadi prospek bisnis yang menjanjikan bagi perseroan.

SAFE akan mengembangkan bisnis untuk daerah-daerah dengan bekerja sama dengan pemerintah daerah setempat. Ke depannya, SAFE mengincar tiga kota untuk daerah operasi barunya yaitu Tangerang, Payakumbuh, dan Bandung.

Direktur Utama Steady Safe John Pieter Sembiring mengatakan bahwa akan perseroan akan menyiapkan armada sebanyak 30 unit bus hingga 50 unit bus pada masing-masing daerah.

Lebih jauh, armada yang akan digunakan nantinya adalah bis dengan bertenaga listrik yang akan dibeli melalui PT Mobil Anak Bangsa (MAB) dengan kapasitas angkut sebanyak 24 kursi.

Untuk membeli armada bis tersebut, Pieter mengaku masih belum menganggarkan belanja modal perseroan atau capital expenditure (capex) karena masih menunggu harga yang akan ditawarkan oleh produsen bis tersebut. “Masalah harga kita belum dapat, masih menunggu juga saya, karena nilainya belum tau persis. Pendanaan dari pemegang saham dan dari pihak ketiga,” ujarnya kepada Bisnis.com, Rabu (13/9/2019).

Selain menunggu harga, perseroan masih menunggu regulasi terkait dengan penggunaan kendaraan listrik untuk dapat beroperasi. Namun. dia mengatakan bahwa bus tersebut nantinya akan melayani angkutan umum dalam kota. Rencana tersebut diharapkan dapat teralisasikan pada kuartal III/2019 setelah regulasi tersebut sudah siap.

“Kalau dibilang pionir, bisa juga pionir karena selama ini juga belum ada, karena regulasinya belum keluar, mungkin pas regulasi keluar bisa berbarengan dengan yang lain juga,” ungkapnya.

Sementara itu, pada kuartal III/2018, perseroan membukukan pendapatan sebesar Rp48,80 miliar per 30 September 2018 atau mengalami kenaikkan 100% secara year-on-year

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
transportasi, kinerja emiten

Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top