Cuaca Ekstrim, Aktivitas Tambang Tembaga di Beberapa Negara Terhenti

Hujan lebat dan banjir yang telah mempengaruhi negara penghasil tembaga terbesar di dunia, Chili, selama sepekan terakhir memaksa beberapa perusahaan tambang untuk menghentikan operasinya.
Finna U. Ulfah | 10 Februari 2019 18:22 WIB

Bisnis.com, JAKARTA - Hujan lebat dan banjir yang telah mempengaruhi negara penghasil tembaga terbesar di dunia, Chili, selama sepekan terakhir memaksa beberapa perusahaan tambang untuk menghentikan operasinya.

Analis BTG Pactual Santiago Cesar Perez mengatakan, hingga saat ini sudah terdapat tiga pertambangan yang berada di dekat kota Calama, Chili yang sudah berhenti beroperasi akibat cuaca buruk dalam sepekan terakhir.

"Ini akan menjadi masalah yang lebih besar karena badai juga mulai berdampak di kawasan selatan Peru, walaupun masih terlalu dini untuk mengukur dampak dari penghentian tambang ini," ujar Cesar seperti dikutip dari Bloomberg, Minggu (10/2/2019).

Adapun, tiga pertambangan yang telah berhenti beroperasi tersebut, yaitu tambang Chuquicamata dan Ministo Hales milik perusahaan tambang milik negara telah berhenti sejak Kamis (7/2) malam, dan tambang El Abra milik Freeport-McMoran yang telah berhenti beroperasi sejak Senin (4/2).

Hujan deras disertai badai dan petir telah mengguyur Chili dan diperkirakan akan terus berlanjut. Badai diperkirakan akan bergerak ke selatan, mempengaruhi wilayah Andean dan pra-Andean di wilayah Arica y Parinacota, Tarapaca dan Antofagasta.

Walaupun demikian, tambang lain di wilayah tersebut seperti tambang Gabriela Mistral dan Radomiro Tomic milik Codelco, Escondida and Spence milik BHP Group, Zaldivar, yang dimiliki bersama oleh Antofagasta Plc. dan Barrick Gold Corp., dan Collahuasi milik Anglo American Plc dan Glencore Plc, masih berjalan normal.

Padahal, akses jalan menuju tambang Collahuasi telah terputus sebagian dan perusahaan mengatakan bahwa tidak akan membawa pekerja baru ke situs setidaknya sampai Minggu, atau cuaca membaik.

Sementara itu, badan cuaca Peru, Senamhi, mengumumkan peringatan cuaca khusus di 14 wilayah sepanjang pegunungan Andes. Hujan sedang kuat disertai badai petir hingga hujan es dan salju juga dapat terjadi di beberapa daerah.

Prakiraan cuaca tersebut juga akan mempengaruhi beberapa wilayah utama Peru, termasuk Apurimac, Arequipa, dan Cuzco. Walaupun demikian, Tambang Cerro Verde, pertambangan tembaga terbesar di Peru, masih beroperasi secara normal hingga saat ini.

Meski belum diketahui akan menganggu pasokan cadangan dunia, berdasarkan data Bloomberg, harga tembaga di bursa London Metal Exchange (LME) pada penutupan perdagangan pekan lalu (8/2) bergerak di zona merah, melemah 0,58% atau turun 36 poin menjadi US$6.210 per metrik ton.

Sementara, harga tembaga di bursa Comex juga bergerak melemah, turun 0,64% atau 1,8 poin menjadi US$281,05 per pon.

Tag : komoditas tembaga
Editor : Ana Noviani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top