Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

AS-China Bisa Berdamai, Harga Minyak Melonjak

Harga minyak bangkit dari pelemahannya dan berakhir melonjak pada perdagangan Selasa (29/1/2019), setelah Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin mengisyaratkan kemungkinan tercapainya 'gencatan senjata' dalam perang dagang dengan China
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 30 Januari 2019  |  07:39 WIB
Minyak WTI - Reuters
Minyak WTI - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Harga minyak bangkit dari pelemahannya dan berakhir melonjak pada perdagangan Selasa (29/1/2019), setelah Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin mengisyaratkan kemungkinan tercapainya 'gencatan senjata' dalam perang dagang dengan China di tengah ancaman terhadap pasokan minyak mentah global.

Berdasarkan data Bloomberg, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak Maret 2019 ditutup melonjak US$1,32 di level US$53,31 per barel di New York Mercantile Exchange. Lonjakan tersebut menghapus sebagian besar kemerosotan pada Senin (28/1) yang dipicu tanda-tanda perlambatan pertumbuhan ekonomi.

Adapun harga minyak Brent untuk pengiriman Maret 2019 berakhir melonjak US$1,39 di level US$61,32 di ICE Futures Europe exchange London. Minyak acuan global ini diperdagangkan premium sebesar US$8,01 terhadap WTI.

Kepada Fox Business Network, Mnuchin mengatakan Gedung Putih dapat menghapus tarif terhadap impor barang-barang China jika pemerintah China memberikan konsesi yang cukup.

Pernyataan itu disampaikan hanya beberapa jam setelah pemerintah Amerika Serikat mengumumkan sanksi yang bertujuan menggulingkan Presiden Venezuela Nicolas Maduro dengan menekan ekspor minyak mentah negara itu.

Kampanye Presiden AS Donald Trump melawan produsen minyak Petroleos de Venezuela SA dimaksudkan untuk meningkatkan posisi pemimpin Majelis Nasional Juan Guaido, yang telah diakui Washington sebagai presiden sementara Venezuela.

Pada Senin (28/1), Guaido mengatakan akan mengendalikan akun Venezuela di luar negeri serta menunjuk dewan baru untuk PDVSA dan anak perusahaannya yang berbasis di Houston, Citgo Petroleum Corp.

“Sanksi itu akan menyebabkan aliran minyak global dialihkan. Kilang di China dan India adalah satu-satunya yang dapat memproses minyak mentah Venezuela di luar AS,” tulis analis Grup Eurasia Risa Grais-Targow dalam risetnya.

Menanggapi sanksi tersebut, Valero Energy Corp. dan sejumlah perusahaan penyulingan AS mulai menimbun minyak mentah Kanada yang kualitasnya serupa dengan minyak dari Venezuela. Sementara itu, perusahaan minyak milik negara Venezuela mulai meminta pembayaran di muka dari kilang minyak.

“Seiring dengan bertambahnya detail dari Maduro yang bertahan dan berusaha membuat minyak menjauh dari penyuling Gulf Coast, juga pemerintahan [Presiden Donald] Trump berencana untuk mengunci oposisi, situasinya tengah memanas,” kata John Kilduff, mitra pendiri hedge fund Again Capital LLC di New York, dilansir Bloomberg.

Pada saat yang sama, dengan ramalan cuaca yang sangat dingin untuk wilayah utara AS, peningkatan permintaan minyak pemanas juga mendukung harga minyak. Diesel futures naik 3,3% menjadi US$1,8975 per galon pada Selasa (29/1), kenaikan terbesar dalam sebulan.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Harga Minyak
Editor : Mia Chitra Dinisari

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top