HERO Tutup 26 Gerai, Ini Kata Analis Soal Sektor Ritel

Kebijakan efisiensi bisnis yang diambil oleh PT Hero Supermarket Tbk. dinilai analis bukanlah pertanda bahwa bisnis ritel kian meredup.
Dwi Nicken Tari | 13 Januari 2019 21:31 WIB
Gerai Hero supermarket - JIBI

Bisnis.com, JAKARTA — Kebijakan efisiensi bisnis yang diambil oleh PT Hero Supermarket Tbk. dinilai analis bukanlah pertanda bahwa bisnis ritel kian meredup.

Analis Binaartha Sekuritas M. Nafan Aji Gusta Utama menilai dari kinerja makroekonomi, penjualan ritel masih menunjukkan tren positif.

Bahkan, emiten berkode saham HERO tersebut juga mencatatkan kenaikan laba bersih yang ditopang oleh kenaikan laba kotor (gross profit) meskipun pendapatan terpantau menurun.

“Walaupun pendapatan menurun, kinerja labanya mengalami kenaikan. Kalau dilihat dari kinerja fundamentalnya, belum terjadi masalah bagi HERO itu sendiri,” katanya kepada Bisnis, Minggu (13/1/2019).

Oleh karena itu, Nafan menilai, langkah efisiensi bisnis yang diambil HERO dengan menutup 26 gerai dan memberhentikan 532 karyawan merupakan langkah strategis perusahaan untuk meningkatkan efisiensi bisnis.

Selain itu, efisiensi ini dinilai juga sebagai upaya perusahaan untuk dapat menekan biaya operasional yang telah meningkat.

Nafan memaparkan, bisnis di sektor ritel ke depan masih sangat kompetitif, didukung oleh kenaikan data penjualan ritel tanah air sebesar 3,4% yoy pada November 2018 dibandingkan dengan perolehan pada bulan sebelumnya sebesar 2,88% yoy.

Selain itu, momentum tahun politik juga diperkirakan dapat mendorong tingkat konsumsi.

“Sejauh ini, menurut saya, untuk sektor ritel tahun ini masih bisa menopang kinerja pertumbuhan ekonomi nasional karena berkaitan dengan tingkat konsumsi. Jadi menurut saya untuk sektor ritel tidak ada masalah,” tuturnya.

PT Hero Supermarket Tbk. menutup 26 gerai dan merumahkan 532 karyawannya dalam rangka memaksimalkan produktivitas kerja melalui proses efisiensi.

Tony Mampuk, Corporate Affairs GM Hero Supermarket mengungkapkan sampai dengan kuarta III/2018, emiten berkode saha HERO tersebut telah mengalami penurunan total penjualan sebesar 1,1% yoy senilai Rp9,849 triliun dari perolehan pada tahun sebelumnya senilai Rp9,961 triliun.

“Penurunan tersebut disebabkan oleh penjualan pada bisnis makanan yang lebih rendah dibanding tahun sebelumnya,” tulis Tony dalam siaran pers yang diterima Bisnis.com, Minggu (13/1/2019).

Adapun, hingga September 2018, pendapatan bersih HERO yang dibukukan dari segmen makanan tercatat turun ke level Rp7,84 triliun, turun 6% dari posisi Rp8,34 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Sementara itu, penjualan segmen non-makanan HERO hingga September 2018 senilai Rp2 triliun, naik 24,22% year on year dari posisi Rp1,61 triliun.

Lebih lanjut, total gerai yang dioperasikan perseroan sampai 30 September 2018 adalah sebanyak 448 toko, terdiri dari 258 Guardian Health & Beauty, 96 Giant Ekspres, 59 Giant Ekstra, 31 Hero Supermarket, 3 Giant Mart, dan satu toko IKEA.

Bila dibandingkan dengan semester I/2018, jumlah gerai HERO memang mengalami penurunan pada paruh kedua tahun lalu.

Adapun total gerai HERO pada semester I/2018 sebanyak 447 gerai, terdiri dari 257 gerai, 99 gerai Giant Ekspres, 59 Giant Ekstra, 31 Hero Supermarket dan 1 IKEA.

Tag : ritel, hero supermarket
Editor : Miftahul Ulum

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top