Layanan Bolt Berhenti, BEI Pantau Kinerja First Media

PT Bursa Efek Indonesia tengah memberikan perhatian pada lini bisnis PT First Media Tbk., pascapenghentian layanan 4G LTE di Jabodetabek, Banten dan Sumatra bagian Utara oleh pemerintah.
Novita Sari Simamora | 02 Januari 2019 13:03 WIB
Pekerja menunggu calon pembeli modem internet bolt di Jakarta,Rabu (6/3/2017). - Bisnis/Dedi Gunawan

Bisnis.com, JAKARTA -- PT Bursa Efek Indonesia tengah memberikan perhatian pada lini bisnis PT First Media Tbk., pascapenghentian layanan 4G LTE di Jabodetabek, Banten dan Sumatra bagian Utara milik perseroan oleh pemerintah.

Direktur Penilaian Perusahaan Bursa Efek Indonesia IGD Nyoman Yetna Setya mengatakan pihaknya tengah memperhatikan stabilitas kinerja emiten telekomunikasi dan penyedia konten tersebut.

"Akhir Desember 2018, ada penghentian satu lini bisnis First Media dan kami sedang memantau apakah hal itu memberi pengaruh atau ada hal lain yang bisa mendukung bisnis dan kinerja keuangan emiten tersebut," ungkapnya di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (2/1/2019).

Nyoman menegaskan selama pendapatan First Media tidak Rp0, maka BEI tidak akan memberikan notasi khusus. Kendati demikian, BEI tetap memperhatikan dampak dari penghentian satu lini bisnis di emiten telekomunikasi milik Grup Lippo tersebut.

Dalam keterbukaan informasi yang disampaikan pada Jumat (28/12/2018), Sekretaris Perusahaan Shinta Melani Paruntu menyatakan First Media dan PT Internux (Bolt), anak usaha perseroan, telah menerima surat keputusan Menteri Komunikasi dan Informatika tertanggal 28 Desember 2018 untuk menghentikan layanan Bolt terhitung sejak diterimanya surat keputusan tersebut.

First Media dan Internux menegaskan bakal mengutamakan kepentingan dan pemenuhan hak pelanggan serta memastikan akan memenuhi kewajiban kepada seluruh pelanggan aktif layanan Bolt.

Sekarang, First Media akan fokus memaksimalkan kinerja anak-anak usaha yang bergerak di bidang penyediaan infrastruktur telekomunikasi dan in-building solution, jasa nilai tambah kartu panggil, jasa layanan internet, penyediaan konten berita, serta rumah produksi untuk penyediaan iklan dan konten siaran televisi.

Emiten berkode saham KBLV itu menegaskan akan tetap menjalankan kegiatan usahanya dalam bidang telekomunikasi serta melakukan inkubasi usaha-usaha yang berfokus pada bisnis teknologi, media, dan telekomunikasi.

Hingga September 2018, pendapatan yang dibukukan oleh First Media mencapai Rp695,17 miliar atau turun 6,58% dari posisi Rp744,15 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Pendapatan KBLV didominasi jasa langganan internet dan layanan komunikasi data senilai Rp571,77 miliar, disusul oleh perangkat komunikasi dan lain-lain masing-masing senilai Rp38,51 miliar dan Rp151,24 miliar.

Tag : bei, first media
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top