Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Kerugian Investor Obligasi Negara Berkembang Asia Diproyeksi Berlanjut Tahun Depan

Pergerakan aset berisiko di negara berkembang pada tahun depan masih akan bergantung pada keberlanjutan perang dagang antara AS dan China, Brexit yang belum berujung, dan kenaikan suku bunga AS.
Ilustrasi/www.hennionandwalsh.com
Ilustrasi/www.hennionandwalsh.com

Bisnis.com, JAKARTA – Kerugian yang dialami investor obligasi di negara berkembang Asia tahun ini diperkirakan akan terus berlanjut hingga 2019.

Pergerakan aset berisiko di negara berkembang pada tahun depan masih akan bergantung pada keberlanjutan perang dagang antara AS dan China, Brexit yang belum berujung, dan kenaikan suku bunga AS.

Hampir seluruh mata uang di negara berkembang Asia diperkirakan akan melemah pada akhir Juni 2019, sedangkan imbal hasil obligasi akan naik di negara-negara seperti Indonesia, India, dan Thailand.

Pengelola portofolio pasar negara berkembang di Pacific Investment Management Co Roland Mieth mengatakan bahwa emerging market (EM) Asia diperkirakan masih berada dalam tekanan untuk bisa menguat, terutama pada imbal hasil obligasinya, dilihat dari kurva imbal hasil obligasi AS.

“Secara keseluruhan, outlook untuk EM Asia dari obligasi pemerintahnya masih akan mengecewakan,” ujarnya seperti dilansir Bloomberg, Senin (31/12/2018).

Laporan PMI manufaktur China, ekspor Korea Selatan (Korsel), dan Produk Domestik Bruto (PDB) Singapura pada pekan ini kemungkinan akan menunjukkan bukti bahwa perekonomian di wilayah tersebut mulai kehilangan momentum.

Adapun China dan AS dijadwalkan kembali mengadakan pertemuan pada awal pekan kedua Januari 2019 untuk membicarakan perdagangan kedua negara.

Citigroup menjelaskan bahwa meskipun perang dagang tersebut bisa diselesaikan, kerusakan yang disebabkan oleh peristiwa itu tidak bisa pulih secara langsung. China sebagai negara perekonomian terbesar di Asia sudah merasakan akibatnya, mulai dari penjualan ritel yang menurun hingga profit industri yang menyusut yang memicu para pembuat kebijakan negaranya untuk kembali menggelontorkan stimulus.

Namun, setidaknya ada sejumlah faktor yang berpotensi menjadi angin segar pada aset EM Asia tahun depan, misalnya melihat harga minyak yang anjlok hingga nyaris 40% dari puncaknya pada Oktober 2018 sehingga menguntungkan bagi negara-negara pengimpor komoditas tersebut.

Sementara itu, posisi dolar AS yang menguat sepanjang tahun ini dan mendekati level tertingginya dalam dua tahun terakhir membuat sejumlah trader memprediksi bahwa nilai tukar mata uang Negeri Paman Sam itu akan melemah tahun depan.

“Akan ada potensi pembalikan posisi pada pasar lokal Asia, terdorong oleh pelemahan dolar AS yang diperkirakan bisa berlangsung hingga setidaknya awal tahun depan. Namun, perlambatan pertumbuhan perekonomian global dan friksi perdagangan yang masih berlangsung akan memberikan tantangan lebih bagi EM Asia dari sisi perekonomian makro,” tutur pengelola portofolio di Aviva Investors, Stuart Ritson.

Faktor utama yang terpenting pada 2019 adalah perlambatan ekonomi China yang masih akan terus berlangsung dan kemampuan otoritas China untuk mempertahankan kestabilan yuan bersamaan dengan masih berlangsungnya sengketa dagang dengan AS.

Secara keseluruhan, EM pada 2019 masih berpotensi terus tumbuh. Berdasarkan survei Bloomberg pada 30 investor, trader, dan ahli strategi, saham, nilai tukar, dan obligasi di negara berkembang sduah mencapai dasarnya sehingga bisa melampaui pertumbuhan dari negara maju tahun depan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Mutiara Nabila
Editor : Annisa Margrit
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper