Bursa Eropa Melorot Terseret Kekhawatiran Pertumbuhan Global

Kekhawatiran tentang pasar obligasi di Amerika Serikat (AS) yang menandakan resesi serta berlanjutnya gejolak isu perang perdagangan antara AS dan China menyeret turun bursa saham Eropa pada perdagangan Rabu (5/12/2018).
Renat Sofie Andriani | 06 Desember 2018 06:39 WIB
Indeks Stoxx 600 - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Kekhawatiran tentang pasar obligasi di Amerika Serikat (AS) yang menandakan resesi serta berlanjutnya gejolak isu perang perdagangan antara AS dan China menyeret turun bursa saham Eropa pada perdagangan Rabu (5/12/2018).

Indeks Stoxx 600 Eropa berakhir melorot 1,2% ke level terendahnya sejak 23 November, diikuti indeks saham zona euro dan indeks saham DAX Jerman yang juga turun 1,2%.

Sehari sebelumnya, pada perdagangan Selasa (4/12), bursa saham Wall Street di AS terjungkal, dengan tiga indeks saham utamanya berakhir anjlok lebih dari 3% masing-masing. Aktivitas perdagangan di pasar saham AS tetapi ditiadakan pada Rabu demi menghormati mangkatnya mantan Presiden George H.W. Bush.

Fokus para investor telah tertuju pada imbal hasil obligasi AS, dimana imbal hasil bertenor 10 tahun turun ke titik terendahnya sejak pertengahan September.

Spread antara imbal hasil bertenor 10 tahun terhadap tenor dua tahun juga menyusut ke yang terkecil dalam lebih dari satu dekade. Ini menjadi hal yang dicermati karena apa yang disebut “inversi” kurva imbal hasil mengawali semua resesi dalam 50 tahun terakhir.

Sebagian dari kurva itu membalik, dengan imbal hasil obligasi bertenor dua tahun dan tiga tahun bertahan di atas imbal hasil lima tahun untuk hari kedua.

Alhasil, sektor-sektor siklis di bursa saham Eropa seperti konstruksi dan penambang terseret dan membukukan penurunan terbesar, masing-masing 2,2% dan 1,8%, setelah investor melepaskan saham yang sangat sensitif terhadap pertumbuhan ekonomi.

“Sektor-sektor siklis benar-benar bergantung pada percepatan pertumbuhan, mereka sangat peka terhadap ekonomi untuk pendapatan yang lebih tinggi,” kata John Ricciardi, CEO dan manajer portofolio utama di Kestrel Investment Partners, seperti dilansir Reuters.

“Pembalikan bagian kurva hasil AS berarti investor mulai panik tentang pertumbuhan dan inflasi di masa depan,” tambahnya.

Sejumlah analis memangkas estimasi mereka untuk pertumbuhan laba 2019 karena pasar berubah suram musim gugur ini.

Sektor bank juga turun 0,7%, meskipun penurunannya dibatasi oleh lonjakan yang dialami bank Italia saat imbal hasil obligasi pemerintah Italia terus turun tajam di tengah harapan bahwa pemerintah Italia dapat memangkas rencana pengeluaran anggarannya.

Sementara itu, saham teknologi turun 1,8% menyusul aksi jual pada sektor teknologi di bursa AS. Saham produsen chip AMS, STMicroelectronics, dan Infineon masing-masing turun 2,3%-6,1% menyusul penurunan tajam saham chip di Wall Street.

Di sisi lain, kinerja produsen mobil Jerman sedikit mengungguli indeks DAX ketika investor mencermati apa yang tampak sebagai hasil yang relatif positif dari pertemuan sejumlah eksekutif bisnis otomotif di Gedung Putih.

Presiden AS Donald Trump menekan produsen mobil untuk meningkatkan investasi di Amerika Serikat. Para eksekutif merespons baik hal ini tetapi juga mengatakan tidak akan dapat melakukannya jika pemerintah AS lanjut melancarkan ancaman tarif.

Penasihat ekonomi Gedung Putih Larry Kudlow, salah satu yang menghadiri pertemuan itu, mengatakan bahwa dia tidak berpikir tarif mobil akan dikenakan dalam waktu dekat. Saham Daimler, BMW, dan Volkswagen pun turun kurang dari 0,9%.

Tag : bursa eropa
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top