Bursa Asia melemah Terseret Sentimen Wall Street

Bursa Asia melemah pada perdagangan pagi ini, Rabu (5/12/2018), terseret oleh anjloknya bursa Wall Street di Amerika Serikat (AS)
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 05 Desember 2018  |  08:54 WIB
Bursa Asia melemah Terseret Sentimen Wall Street
Bursa MSCI Asia - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Bursa Asia melemah pada perdagangan pagi ini, Rabu (5/12/2018), terseret oleh anjloknya bursa Wall Street di Amerika Serikat (AS) saat penurunan tajam dalam imbal hasil obligasi AS bertenor jangka panjang dan isu perdagangan menyulut kekhawatiran investor tentang pertumbuhan ekonomi global.

Indeks MSCI Asia Pacific selain Jepang turun 0,6%, sedangkan indeks Nikkei Jepang melorot 1,15% dan indeks Kospi Korea Selatan melemah 1%. Adapun bursa saham Australia melorot 1,3% menyusul rilis data pertumbuhan kuartal ketiga yang meleset dari ekspektasi.

Dilansir dari Reuters, pasar ekuitas global kembali bergoyang saat kurva imbal hasil obligasi AS yang flat memicu kegelisahan akan resesi dan kekhawatiran atas konflik perdagangan AS-China muncul kembali.

Indeks Dow Jones dan Nasdaq masing-masing anjlok sekitar 3,1% dan 3,8% pada akhir perdagangan Selasa (4/12). Saham keuangan, yang sangat sensitif terhadap perubahan pasar obligasi, pun turun 4,4%.

Sinyal dari Federal Reserve AS pekan lalu mengenai kemungkinan mendekati akhir siklus kenaikan suku bunganya telah mendorong imbal hasil AS bertenor 10 tahun ke posisi terendahnya dalam tiga bulan di bawah 3%.

Kekhawatiran tentang perlambatan pertumbuhan AS telah mempercepat perataan kurva imbal hasil, sebuah fenomena dimana imbal hasil utang bertenor jangka panjang turun lebih cepat daripada yang bertenor jangka pendek.

Spread antara imbal hasil obligasi dua tahun dan 10 tahun berada pada level paling flat dalam lebih dari satu dekade. Kurva yang lebih flat dipandang sebagai indikator resesi.

“Perekonomian AS kemungkinan akan mampu menahan satu atau dua kenaikan suku bunga lebih lanjut, karenanya kurva yang flat terlihat sedikit berlebihan. Meski demikian, memang benar bahwa prospek ekonomi lebih suram daripada sebelumnya,” kata Masahiro Ichikawa, pakar strategi senior di Sumitomo Mitsui Asset Management.

“Ada juga Brexit yang perlu dicermati, dan ini adalah faktor dalam aksi penghindaran aset berisiko yang sedang berlangsung.”

Perdana Menteri Inggris Theresa May pada Selasa (4/12) mengalami kekalahan pada awal masa perdebatan tentang rencananya untuk meninggalkan Uni Eropa, rencana yang dapat menentukan masa depan Brexit dan pemerintahannya.

Pada saat yang sama, pasar aset berisiko juga terbebani menyurutnya optimisme seputar 'gencatan senjata' yang disepakati antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping untuk konflik perdagangan mereka.

Harga minyak mentah bergerak ke posisi lebih rendah di tengah kekhawatiran akan mandeknya permintaan akibat perang dagang antara AS dan China. Harga minyak AS terakhir kali terlihat turun 0,8% ke level US$52,82 per barel.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Bursa Asia

Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top