Dolar AS Melempem, Rupiah Makin Tangguh

Penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) semakin kencang pada perdagangan hari ini, Senin (3/12/2018), di tengah apresiasi hampir seluruh mata uang di Asia.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 03 Desember 2018  |  19:00 WIB
Dolar AS Melempem, Rupiah Makin Tangguh
Dolar AS. - .Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA — Penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) semakin kencang pada perdagangan hari ini, Senin (3/12/2018), di tengah apresiasi hampir seluruh mata uang di Asia.  

Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah di pasar spot berakhir menguat 58 poin atau 0,41% di level Rp14.244 per dolar AS, penguatan hari ketiga berturut-turut. Pada perdagangan Jumat (30/11), rupiah ditutup menguat 81 poin atau 0,56% di level Rp14.302 per dolar AS.

Penguatan rupiah mulai berlanjut ketika dibuka di level Rp14.270 per dolar AS dengan apresiasi 32 poin atau 0,22% pagi tadi. Sepanjang perdagangan hari ini, rupiah bergerak di level Rp14.215 – Rp14.270 per dolar AS.

Hampir seluruh mata uang di Asia memang menguat petang ini, dipimpin yuan onshore China dan won Korea Selatan yang masing-masing terapresiasi 1,02% dan 0,92%. Kendati demikian, mata uang rupee India justru terpantau melorot cukup tajam 1,19% pada pukul 18.12 WIB.

Sementara itu, pergerakan indeks dolar AS yang melacak kekuatan greenback terhadap sejumlah mata uang utama terpantau melemah 0,178 poin atau 0,18% ke level 97,094 pada pukul 18.02 WIB.

Sebelumnya indeks dolar dibuka dengan koreksi 0,139 poin atau 0,14% di level 97,133, setelah pada perdagangan Jumat (30/11) mampu rebound dan berakhir menguat 0,51% atau 0,494 poin di posisi 97,272.

Dilansir dari Bloomberg, mata uang yuan China dan won Korea Selatan memimpin penguatan mata uang di Asia setelah ‘gencatan senjata’ yang disepakati para pemimpin Amerika Serikat (AS) dan China mendorong aksi beli terhadap aset-aset berisiko.

Dalam pertemuan dengan Presiden China Xi Jinping di sela-sela perhelatan KTT G20 akhir pekan kemarin, Presiden AS Donald Trump sepakat untuk menunda kenaikan tarif selama tiga bulan sebagai imbalan atas lebih banyak pembelian barang-barang asal AS.

Trump sebelumnya merencanakan akan menaikkan tarif terhadap barang-barang asal China senilai US$200 miliar menjadi 25% pada 1 Januari dari 10%.

“Meredanya ketegangan perdagangan akan membalik kondisi untuk dolar AS yang memiliki sifat sebagai aset safe haven, dan kita bisa berharap dolar AS untuk melemah terhadap sejumlah mata uang,” ujar Stephen Innes, kepala perdagangan untuk Asia Pacific di Oanda Corp.

Menurut Mitul Kotecha, pakar strategi emerging market di TD Securities, penundaan  tarif antara kedua pemimpin tersebut akan menjadi pertanda bagi rupiah dalam jangka pendek, yang terbantukan dorongan terhadap sentimen aset berisiko.

“Rupiah telah menguat selama beberapa pekan didukung pergantian sentimen dan pengakuan terhadap langkah proaktif oleh Bank Indonesia. Saya pikir rupiah akan terus mendapatkan dukungan hingga akhir tahun.”

Menurut Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo, fokus kebijakan BI tetap pada stabilitas keuangan, inflasi yang terkendali, dan rupiah yang stabil.

“Saat kebijakan “preemptive dan ahead of curve” telah mengarah pada kenaikan suku bunga, BI akan mengambil langkah-langkah untuk mendukung pertumbuhan dengan memastikan likuiditas yang cukup untuk bank-bank,” terang Perry di Jakarta hari ini, seperti dikutip Bloomberg.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Gonjang Ganjing Rupiah

Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top