Rupiah Bertahan Menguat, IHSG Masih Melemah pada Sesi I

Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah pada akhir sesi I perdagangan hari ini, Jumat (30/11/2018).
Renat Sofie Andriani | 30 November 2018 13:21 WIB
Karyawati berkomunikasi di dekat monitor pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (3/7/2018). - JIBI/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA – Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah pada akhir sesi I perdagangan hari ini, Jumat (30/11/2018).

Berdasarkan data Bloomberg, IHSG melemah 0,40% atau 24,33 poin ke level 6.082,84 pada akhir sesi I, setelah mulai tergelincir ke zona merah dengan dibuka turun tipis 0,04% atau 2,53 poin di level 6.104,64.

Sepanjang perdagangan hari ini, IHSG bergerak di level 6.070,99 – 6.117,19. Adapun pada perdagangan Kamis (29/11), IHSG mampu rebound dan berakhir menanjak 1,93% atau 115,92 poin di posisi 6.107,17.

Tujuh dari sembilan sektor bergerak di zona merah, dipimpin sektor finansial (-1,11%), perdagangan (-0,91%), dan industri dasar (-0,33%). Adapun sektor tambang dan aneka industri bertahan di wilayah positif sekaligus membatasi pelemahan IHSG. 

Sebanyak 164 saham menguat, 187 saham melemah, dan 267 saham stagnan dari 618 saham yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia siang ini.

Saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) dan PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) yang masing-masing turun 1,89% dan 0,95% menjadi penekan utama terhadap pelemahan IHSG pada akhir sesi I.

Indeks saham lainnya di kawasan Asia bergerak variatif siang ini, di antaranya indeks FTSE Straits Times Singapura (+0,47%), indeks FTSE Malay KLCI (-0,08%), dan indeks SE Thailand (-0,01%).

Indeks Topix dan Nikkei 225 Jepang masing-masing naik 0,43% dan 0,22%, sedangkan indeks Kospi Korea Selatan turun 0,49%. Di China, indeks Shanghai Composite turun 0,21% dan indeks CSI 300 naik 0,06% pada pukul 12.21 WIB.

Secara keseluruhan, bursa Asia bergerak terhuyung-huyung pada perdagangan hari ini di tengah kehati-hatian investor menjelang pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping yang dapat menentukan arah perkembanganperang dagang antara kedua negara.

Indeks MSCI Asia Pasific selain Jepang bergerak antara wilayah positif dan negatif pada awal perdagangan, saat bukti perlambatan di China mengurangi sentimen untuk aset berisiko.

Laporan terbaru menunjukkan melesunya pertumbuhan manufaktur China pada November. Pertumbuhan manufaktur yang lemah memperkuat perkiraan bahwa pemerintah China akan menggulirkan lebih banyak langkah-langkah dukungan ekonomi.

Purchasing Managers’ Index (PMI) resmi, yang dirilis oleh Biro Statistik Nasional (NBS) China, dilaporkan turun menjadi 50 pada November, meleset dari ekspektasi pasar sekaligus turun dari 50,2 pada Oktober.

Menambah kekhawatiran menjelang pertemuan Trump-Xi Jinping adalah komentar dari seorang pejabat pemerintah AS yang mengungkapkan rencana kehadiran penasihat perdagangan Gedung Putih, Peter Navarro, dalam pertemuan tersebut. Navarro diketahui telah menganjurkan sikap lebih keras terhadap China soal perdagangan.

“Alih-alih menelan bulat-bulat pemberitaan, pasar telah mengambil pendekatan yang fleksibel sampai kita mendengar hasil dari pertemuan itu,” ujar analis di National Australia Bank dalam risetnya, seperti dikutip Reuters.

Berbanding terbalik dengan IHSG, nilai tukar rupiah terpantau lanjut menguat 80 poin atau 0,56% ke level Rp14.303 per dolar AS, setelah rebound dan berakhir melonjak 146 poin atau 1% di level Rp14.383 per dolar AS pada Kamis (29/11).

Sepanjang perdagangan hari ini, rupiah bergerak di kisaran Rp14.277-Rp14.355 per dolar AS.

 

 

Tag : IHSG, Gonjang Ganjing Rupiah
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top