Sektor Tambang Tertekan Prospek Batu Bara, IHSG Turun Hampir 1%

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melanjutkan pelemahannya pada akhir perdagangan hari ini, Rabu (21/11/2018).
Renat Sofie Andriani | 21 November 2018 17:32 WIB
Karyawan melintas di dekat monitor Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (16/10/2018). - JIBI/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melanjutkan pelemahannya pada akhir perdagangan hari ini, Rabu (21/11/2018).

IHSG ditutup melemah 0,95% atau 57,24 poin di level 5.948,05, penurunan terbesar sejak berakhir melemah sekitar 1,7% pada 12 November.

Indeks melanjutkan pelemahannya pada perdagangan hari kedua berturut-turut setelah berakhir terkoreksi 0,12% atau 7,05 poin di posisi 6.005,30 pada perdagangan sebelum libur nasional, Senin (20/11).

Pelemahan IHSG mulai berlanjut ketika dibuka melorot 1,05% atau 63,1 poin di posisi 5.942,20 pagi tadi. Sepanjang perdagangan hari ini, IHSG bergerak negatif di level 5.908 – 5.978,59.

Dari 616 saham yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI), sebanyak 131 saham menguat, 273 saham melemah, dan 212 saham stagnan.

Enam dari sembilan sektor menetap di teritori negatif, dipimpin tambang (-5,02%), pertanian (-1,57%), dan finansial (-1,51%). Tiga sektor lainnya mampu mengakhiri pergerakannya di zona hijau, dipimpin sektor properti yang menguat 0,80%.

Sektor tambang memimpin pelemahan sejumlah sektor hari ini saat harga batu bara bertahan di bawah level US$100 per ton.

“Prospek pertumbuhan global yang lebih lesu akibat perang dagang antara AS dan negara-negara termasuk China dapat mengurangi permintaan untuk komoditas, terutama batu bara,” ujar Richard Suherman, Analis Sinarmas Sekuritas, seperti dikutip Bloomberg.

Berdasarkan data Bloomberg, harga batu bara di bursa ICE Newcastle untuk kontrak teraktif Februari 2019 hanya berakhir rebound tipis 0,05% atau 0,05 poin di level US$98,20 per metrik ton pada Selasa (20/11), setelah melemah selama lima sesi perdagangan beruntun sebelumnya.  

“Pembatasan impor China juga mengurangi permintaan untuk batu bara Indonesia,” tambah Suherman.

Persediaan batu bara China mendekati rekor tertinggi, dengan prospek musim dingin yang lebih ringan dari biasanya sehingga membatasi permintaan energi yang digunakan untuk pemanasan.

Saham emiten perbankan yakni PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) yang masing-masing turun 2,56% dan 2,68% menjadi penekan utama terhadap pelemahan IHSG hari ini, selain saham PT Adaro Energy Tbk. (ADRO) yang berakhir melorot 11,78% (lihat tabel).

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tergelincir dari reli penguatannya dan berakhir terdepresiasi 15 poin atau 0,10% di level Rp14.603 per dolar AS, setelah masih mampu ditutup terapresiasi 24 poin di posisi 14.588 per dolar AS pada Senin (19/11.

Reli aksi beli bersih atau net buy oleh investor asing pun terpatahkan pada perdagangan hari ini. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), investor asing membukukan aksi jual bersih atau net sell senilai Rp587,04 miliar.

Sejalan dengan IHSG, indeks Bisnis 27 melanjutkan koreksinya pada hari kedua. Indeks Bisnis 27 ditutup melemah 1,31% atau 7,08 poin di level 533,97, setelah berakhir terkoreksi 0,31% di posisi 541,05 pada Senin (19/11).

Mayoritas indeks saham di Asia terpantau memerah, di antaranya indeks PSEi Filipina (-0,56%) dan indeks FTSE KLCI Malaysia (-0,90%). Adapun indeks Topix dan Nikkei 225 Jepang masing-masing berakhir turun 0,60% dan 0,35%, sedangkan indeks Kospi Korea Selatan ditutup turun 0,29%.

Meski demikian, indeks Shanghai Composite dan CSI 300 China mampu membalik pelemahannya dan berakhir di zona hijau dengan kenaikan 0,21% dan 0,25% masing-masing.

Perubahan positif di bursa saham China didorong rebound saham properti dan kesehatan yang megimbangi penurunan pada energi menyusul berlanjutnya aksi jual di bursa Wall Street dan anjloknya harga minyak mentah.

Namun rebound di pasar saham China mampu memulihkan sebagian pelemahan yang dialami bursa Asia pada perdagangan hari ini, setelah terdampak anjloknya harga minyak mentah sebesar lebih dari 6% baik di New York dan London pada perdagangan Selasa (20/11).

Pasar juga tampak berjaga-jaga untuk kehilangan momentum dalam pertumbuhan ekonomi global saat China menerima pukulan dari tarif perdagangan yang dilancarkan pemerintah Amerika Serikat (AS).

“Pascapertumbuhan kinerja keuangan lebih dari 20% di perusahaan-perusahaan AS, sejumlah investor kecewa dengan tanda-tanda bahwa pertumbuhan akan melambat menjadi satu digit karena efek stimulus yang berkurang,” jelas David Vickers, manajer portofolio senior di Russell Investments, seperti dikutip Reuters.

Saham-saham penekan IHSG:

Kode

(%)

BBRI

-2,56

BMRI

-2,68

UNTR

-7,12

BBCA

-1,20

ADRO

-11,78%

Saham-saham pendorong IHSG:

Kode

(%)

TPIA

+4,55

BRPT

+6,77

GGRM

+1,50

MPRO

+25,00

PNBN

+4,74%

Sumber: Bloomberg

Tag : IHSG
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top