Indosat, Dari America Cable & Radio Sampai Ooredoo

Indosat pernah tercatat sebagai BUMN sejak 1980-2002, setelah itu emiten berkode ISAT berganti kepemilikan dari Temasek sampai Qtel (berubah nama menjadi Ooredo). Ini perjalanan panjang kisah Indosat, si pelopor penyedia layanan telekomunikasi internasional di Indonesia.
Surya Rianto | 05 November 2018 19:30 WIB
Indosat sebagai emiten telekomunikasi pertama dan masih eksis di Bursa Efek Indonesia memiliki kisah panjang. Sempat dijual ke pemerintah, emiten berkode ISAT itu kembali dijual negara kepada Temasek Grup pada 2003.

Bisnis.com, JAKARTA -- PT Indosat Tbk.memiliki cerita panjang  dalam sejarah industri telekomunikasi di Indonesia. Mulai dari pelopor layanan telekomunikasi internasional di Indonesia sampai kisah divestasi saham pemerintah.

Indosat didirikan tidak langsung sebagai perusahaan pelat merah, tetapi penanaman modal asing (PMA). Pemilik pertama Indosat adalah American Cable & Radio, entitas dari IT&T.

Pada 10 November 1967, perseroan didirikan dan menjadi perusahaan pertama yang menyediakan layanan telekomunikasi internasional di Indonesia.

Setelah beroperasi selama 13 tahun, American Cable & Radio melepas seluruh kepemilikannya di Indosat kepada pemerintah Indonesia senilai US$43,8 juta.

Akhirnya, Indosat pun resmi menjadi perusahaan pelat merah dan mendapatkan embel-embel 'persero' dibelakang namanya.

Kemudian, pada 23 September 1994, perseroan memutuskan melantai di Bursa Efek Jakarta (BEJ), sekarang Bursa Efek Indonesia (BEI). Saat itu, Indosat melepas 103,55 juta lembar sahamnya ke publik dengan harga penawaran Rp7.000 per saham.

Selain melantai di BEJ, Indosat juga menawarkan saham perdana di Bursa Efek New York. Perseroan menawarkan harga saham perdana senilai US$32,05 per American Depositary Shares (ADS).

Dua tahun pasca melantai di bursa, Indosat membuat perusahaan patungan dengan dengan PT Telkom (Persero) Tbk. bernama PT Telkomsel. 

Indosat -Telkom Tukar Guling Saham Patungan

Sayangnya, Indosat hanya memiliki telkomsel sesaat. Pada 2001, Indosat harus melepas 35% saham telkomsel sebagai implementasi restrukturisasi industri jasa telekomunikasi di Indonesia saat itu.

Kebijakan itu pun harus menghapus status kepemilikan bersama Telkom dan Indosat atas Telkomsel.

Indosat memperoleh dana senilai US$346 juta atau Rp3,3 triliun dari transaksi pelepasan Telkomsel. Meskipun, nilai saham milik Indosat di anak usaha Telkom itu ditaksir senilai US$945 juta.

Terkait transaksi Telkomsel itu, Indosat harus membeli 22,5% saham PT Satelindo milik Telkom senilai US$186 juta.

Selanjutnya, Indosat membeli 45% saham PT Bimagraha Telekomindo senilai US$372 juta. Dengan memiliki saham Bimagraha, Indosat menguasai 75% saham Satelindo.

Pada tahun yang sama, perseroan juga mendirikan PT Indosat Multimedia Mobile atau IM3.

Indosat melakukan aksi korporasi yang cukup besar pada 20 November 2003. Perseroan memutuskan bergabung dengan tiga anak usahanya yakni, Satelindo, Bimagraha, dan IM3.

Perseroan menjadi entitas yang dipertahankan dari aksi merger tersebut.

Pemerintah Divestasi Saham Indosat

Sebelum aksi merger Indosat dengan tiga perusahaan lainnya, pemerintah Indonesia memutuskan divestasi 517,5 juta saham atau 50% sahamnya di Indosat pada 2002.

Pemerintah melakukan divestasi itu dalam dua tahap. Pada tahap pertama, pemerintah menargetkan bisa melepas 11% kepemilikannya di Indosat, tetapi yang terjual hanya 8,1% senilai Rp1,1 triliun.

Lalu, pada tahap kedua, Singapore Technologies Telemdia (STT), grup Temasek, memenangkan tender divestasi sebanyak 41,94% saham Indosat dengan nilai transaksi US$630 juta atau setara Rp5,62 triliun.

Kala itu, pemerintah dinilai menjual Indosat dengan harga murah. Pasalnya, harga perusahaan telekomunikasi itu ditaksir bisa mencapai US$1,3 miliar.

Apalagi, setelah melihat fakta Temasek menjual Indosat ke Qatar Telecom (Qtel) senilai Rp16,8 triliun pada 2008. Nilai itu melonjak tinggi sebesar 198,93% dibandingkan ketika Temasek membelinya dari pemerintah Indonesia. 

Di sisi lain, Qtel langsung menambah kepemiikan sahamnya di Indosat dengan membeli 24,19% saham seri B milik publik. Secara total, perusahaan Qatar itu menjadi pemegang 65% saham Indosat.

Sementara itu, pada 2013, Indosat memutuskan untuk delisting di bursa New York. Alasannya, pihak direksi saat itu menilai pasar modal di Indonesia sudah berkembang dengan sangat baik sehingga tidak perlu melantai di dua bursa.

Di sisi lain, aksi delisting itu juga berasal dari permintaan pemerintah Indonesia yang meminta peninjauan kembali saham di Bursa New York.
Apalagi, kondisi di Bursa New York sedang mengalami tren penurunan.

Kondisi Terkini

Isu rencana merger Indosat kembali mencuat pasca penunjukkan Presiden Direktur anyar yakni, Chris Kanter.

Pada catatan Bisnis.com, Chris sempat memunculkan kembali wacana konsolidasi industri telekomunikasi. Salah satunya, penggabungan perusahaan seperti, Indosat dengan XL Axiata.

Hal itu disebut bisa menghasilkan kinerja industri telekomunikasi yang lebih kuat. Namun, pada keterbukaan IDX, perseroan enggan berkomentar terkait berita yang bersifat rumor.

Sampai kuartal ketiga tahun ini, Indosat mencatatkan penurunan laba bersih sebesar 25,7% menjadi Rp16,76 triliun dibandingkan dengan Rp22,56 triliun pada periode sama tahun lalu.

EBITDA perseroan juga mengalami penurunan sebesar 47,9% menjadi Rp5,15 triliun dibandingkan dengan Rp9,9 triliun.

Sampai penutupan perdagangan Senin (5/11), harga saham Indosat naik 2,12% menjadi Rp2.400 per saham dibandingkan dengan Rp2.350 per saham pada akhir pekan lalu.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
telekomunikasi, indosat

Editor : Surya Rianto

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top