IFC Raup Rp2 Triliun dari Green Komodo Bond Untuk Atasi Perubahan Iklim Indonesia

IFC, anggota Kelompok Bank Dunia, untuk pertama kalinya menerbitkan surat utang berwawasan lingkungan (green bond) berdenominasi Rupiah untuk pasar internasional (Komodo bond). Obligasi ini menarik minat yang kuat dari investor dan berhasil mengumpulkan dana Rp2 triliun, setara dengan US$134 juta untuk mengatasi perubahan iklim.
Rinaldi Mohammad Azka | 08 Oktober 2018 10:29 WIB
Logo IFC

Bisnis.com, NUSA DUA, Bali - International Finance Corporation (IFC), anggota dari World Bank Group (WBG), mengeluarkan obligasi rupiah perdananya, dengan judul Green Komodo Bond dengan denominasi rupiah bertepatan dengan pelaksanaan Annual Meeting IMF-World Bank Group 2018 di Nusa Dua, Bali, Senin (8/10/2018).

IFC untuk pertama kalinya menerbitkan surat utang berwawasan lingkungan (green bond) berdenominasi Rupiah untuk pasar internasional (Komodo bond). Obligasi ini menarik minat yang kuat dari investor dan berhasil mengumpulkan dana Rp2 triliun, setara dengan US$134 juta untuk mengatasi perubahan iklim.

Penerbitan “green Komodo bond” di pasar luar negeri berdenominasi rupiah ini merupakan yang pertama dilakukan oleh bank pembangunan multilateral untuk investasi ke proyek-proyek terkait perubahan iklim di Indonesia. Minat yang kuat dari berbagai kelompok investor internasional adalah bukti meningkatnya ketertarikan akan investasi yang bertanggung jawab sosial di Indonesia.

Obligasi berwawasan lingkungan, atau obligasi hijau, berjangka lima tahun yang akan didaftarkan ke Bursa Efek London dan Bursa Efek Singapura ini akan mendukung pasar mata uang lokal di Indonesia, dan mendanai obligasi berwawasan lingkungan pertama yang diterbitkan di Indonesia oleh klien IFC, yakni Bank OCBC NISP. Hasil penjualan obligasi ini akan membiayai infrastruktur juga proyek-proyek yang mengatasi perubahan iklim, sesuai dengan prinsip-prinsip Obligasi Hijau (Green Bond Principles).

"Penerbitan green Komodo bond ini menegaskan komitmen IFC untuk mendukung Indonesia dalam mencapai pertumbuhan ekonomi berkelanjutan yang ramah lingkungan," kata Nena Stoiljkovic, Vice President IFC untuk Asia dan Pasifik, Senin (8/10/2018).

“Obligasi ini memungkinkan kami untuk memobilisasi pendanaan internasional ke dalam proyek-proyek ramah iklim di Indonesia. Kami bermaksud untuk mereplikasi dan meningkatkan skala dari model ini guna mengatasi tantangan iklim negara ini,” sambung Nena.

Jingdong Hua, Vice President dan Treasurer IFC mengatakan 'obligasi hijau Komodo' pertama yang diterbitkan dalam mata uang Rupiah untuk investasi iklim di Indonesia adalah tonggak penting bagi IFC dan bagi Indonesia. Penerbitan obligasi ini juga membantu sektor swasta mengelola risiko valuta asing melalui pembiayaan dengan mata uang lokal, sekaligus menumbuhkan bisnis yang cerdas iklim.

Adrien de Naurois, EMEA Syndicate, BAML mengatakan penawaran perdana Green IDR dari IFC secara tegas menetapkan kehadirannya di pasar Komodo yang akan tumbuh pesat, memanfaatkan stabilnya mata uang Rupiah saat ini dan paska pertemuan Bank Indonesia sehingga mampu mengumpulkan Rp2 triliun untuk penawaran 5 tahun.

Transaksi ini mendapat dukungan global yang kuat dan memungkinkan IFC untuk memaksimalkan jangka waktu dan besaran pinjaman yang dapat dicapai dalam kondisi pasar saat ini.

John Lee Tin, Kepala SSA DCM, J.P. Morgan mengatakan investor bereaksi positif terhadap transaksi Komodo (Rupiah) IFC yang pertama. Penerbitan obligasi di luar negeri berdenominasi valuta asing (eurobond) ini menghasilkan permintaan yang lebih besar dari yang ditargetkan, mengingat tingkat volatilitas di pasar negara berkembang, kelebihan permintaan pada transaksi ini merupakan keberhasilan yang besar.

Selain itu, IFC memperluas cakupan investor dari obligasi hijau menggunakannya sebagai peluang untuk menambah denominasi mata uang baru, dan dengan demikian menambah basis investor baru, untuk upaya kesadaran iklim penerbit obligasi.

Henrik Raber, Kepala Global, Pasar Kredit, Standard Chartered Bank mengatakan Standard Chartered berkomitmen untuk mengembangkan solusi pembiayaan yang lebih hemat karbon di pasar utama kami, dan kami bangga bermitra dengan IFC dalam penerbitan obligasi yang penting ini.

Respons yang kuat dari investor atas transaksi IFC menunjukkan meningkatnya fokus dan pentingnya komunitas investor global dalam mendukung solusi pembiayaan berkelanjutan guna membantu mengatasi perubahan iklim.

Sejak meluncurkan Program Obligasi Hijau, IFC telah berhasil mengumpulkan miliaran dolar untuk energi bersih, kota-kota pintar iklim, bangunan berwawasan lingkungan (green building) dan keuangan berwawasan lingkungan (green finance).

Sebagaimana diungkapkan dalam laporan mengenai dampak yang dihasilkan oleh obligasi berwawasan lingkungan (IFC’s Green Bond Impact Report) yang diterbitkan hari ini, IFC telah menerbitkan 32 obligasi berwawasan lingkungan senilai US$1,8 miliar — pencapaian tertinggi untuk IFC — dalam tahun fiskal yang berakhir pada 30 Juni 2018.

Jumlah proyek yang didukung oleh Program Obligasi Berwawasan Lingkungan IFC telah melonjak menjadi 52 proyek di tahun fiskal 2018, dari 32 proyek di tahun fiskal 2017. Pencapaian ini merupakan yang tertinggi dalam jumlah dan nilai proyek yang dibiayai green bond sepanjang masa.

Portofolio ini diharapkan akan dapat mengurangi emisi gas rumah kaca setiap tahun sebesar setara dengan 6,3 juta metrik ton karbon dioksida — peningkatan dari 2,2 juta metrik ton pada tahun fiskal 17.

Pada penutupan TF18, obligasi hijau dari IFC ini telah mendukung sebanyak 177 proyek investasi. IFC menerbitkan obligasi hijau pertamanya pada tahun 2010 dan pada akhir TF18 telah mengeluarkan sebesar total US$7,6 miliar untuk 111 obligasi hijau dalam 13 mata uang dan membantu bank klien di Filipina, Indonesia, dan negara lain untuk melakukan hal yang sama.

Syarat dan Ketentuan IFC Green Komodo Bond

  • Penerbit/Issuer: IFC (International Finance Corporation)
  • Peringkat/Rating: S&P AAA (stable) / Moody's: Aaa (stable)
  • Tanggal Settlement/Settlement date: 9 Oktober, 2018
  • Tanggal Jatuh Tempo/Maturity date: 9 Oktober, 2023 (5 tahun)
  • Nilai/Size: IDR 2 triliun
  • Harga Penawaran Kembali/Re-offer Price :100%
  • Imbal Hasil Penawaran Kembali/Re-offer Yield: 8.00% s/a
  • Kliring/Clearing: Euroclear / Clearstream
  • FX Settle: Coupon/Principal settled USD at applicable FX
  • FX Fixing Date: T+1 from Pricing date (October 1st, 2018)
  • Hukum yang digunakan/Governing Law: New York
  • Denominasi/Denomination: IDR 100 juta
  • Listing: London Stock Exchange / Singapore Exchange
  • Penjamin Emisi Efek/Underwriters: Bank of America Merrill Lynch/J.P. Morgan /Standard Chartered Bank
Tag : Obligasi, ifc
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top