Ini Alasan Penghimpunan Dana di Pasar Modal Meleset dari Target

Penghimpunan dana di pasar modal sepanjang tahun ini diprediksi tidak mencapai target. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menargetkan, total penghimpunan dana di pasar modal hingga penghujung tahun mencapai lebih dari Rp250 triliun.
Tegar Arief | 08 Oktober 2018 16:54 WIB
Chairman MNC Group Hary Tanoesoedibjo (kiri) berbincang dengan Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Hoesen di sela-sela pembukaan perdagangan saham di Jakarta, Senin (8/10/2018). Pada kesempatan tersebut diluncurkan IDX Channel New Look dan portal idxchannel.tv. - JIBI/Dedi Gunawan

Bisnis.com, JAKARTA -- Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengungkapkan  bahwa penghimpunan dana oleh korporasi di pasar  modal pada tahun ini tidak akan mencapai target.

Awalnya, total penghimpunan dana di pasar modal hingga penghujung tahun ditargetkan tembus Rp250 triliun. Adapun, berdasarkan data otoritas per 21 September, total penghimpunan dana yang terdiri dari initial public offering (IPO), penawaran umum terbatas, serta obligasi dan sukuk korporasi hanya senilai Rp130 triliun.

Jumlah pada periode tersebut turun sebesar 23,23% dibandingkan dengan total penghimpunan dana pada periode Januari hingga pekan ketiga September tahun lalu yakni mencapai Rp169,35 triliun.

"Memang kondisinya seperti itu, yang datang ke kami [untuk penghimpunan dana] memang tidak banyak," kata Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK Hoesen di Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (8/10/2018).

Dari data OJK, penawaran umum saham pada tahun ini memang terbilang sangat besar dibandingkan dengan tahun lalu., Namun, kondisi berbeda terjadi pada penawaran untuk obligasi dan sukuk korporasi maupun penawaran umum terbatas.

Per 14 September 2018, total nilai penawaran umum terbatas hanya Rp23,2 triliun, turun hingga 60,54% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu yakni Rp58,8 triliun.

Adapun obligasi dan sukuk korporasi pada periode yang sama turun sebesar 15,12% yakni dari Rp100,23 triliun pada tahun lalu menjadi Rp85,07 triliun pada periode yang sama tahun ini.

Hoesen mengatakan, minimnya fundraising pada tahun ini disebabkan oleh banyaknya emiten yang melakukan aksi korporasi pada tahun lalu. Dengan demikian, pada tahun ini mayoritas menggunakan dana hasil penawaran untuk belanja.

Dengan kata lain, 2018 adalah tahun ekspansi atau belanja bagi sebagian besar perusahaan. Dia menambahkan, pada tahun ini aktivitas fundraising masih cukup menggeliat, tetapi tidak akan sebesar tahun lalu. "Mungkin tidak akan banyak dan nilainya tidak akan sebesar tahun lalu," ujarnya.

Hoesen menegaskan, sepinya fundraising ini bukan karena kondisi market yang tertekan akibat pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Sebab, mayoritas emiten menggunakan laporan keuangan dengan mata uang dalam negeri.

"Karena berdasarkan laporan keuangan per Juni kinerja emiten masih banyak yang tumbuh. Coba nanti dilihat laporan keuangan per September atau Desember," ujarnya.

Tag : Obligasi, pasar modal, ipo
Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top