Ancaman Tarif AS Pukul Pasar Saham China

Ancaman pengenaan tarif yang lebih tinggi terhadap impor China oleh pemerintah Amerika Serikat (AS) meningkatkan kekhawatiran investor tentang perang dagang antara kedua negara sekaligus menekan bursa saham di negeri Tirai Bambu.
Renat Sofie Andriani | 02 Agustus 2018 16:45 WIB
Bursa China SHCI - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Ancaman pengenaan tarif yang lebih tinggi terhadap impor China oleh pemerintah Amerika Serikat (AS) meningkatkan kekhawatiran investor tentang perang dagang antara kedua negara sekaligus menekan bursa saham di negeri Tirai Bambu.

Pada perdagangan hari ini, Kamis (2/8/2018), indeks Shanghai Composite ditutup merosot 2% atau 56,51 poin di level 2.768,02. Indeks Shanghai berakhir melemah 1,80% atau 51,87 poin di posisi 2.824,53 pada Rabu (1/8).

Adapun indeks CSI 300 di Shenzhen yang berisi saham-saham bluechip berakhir merosot 2,22% atau 76,43 poin di level 3.370,96, setelah ditutup melemah 2% di level 3.447,39 pada perdagangan Rabu.

Presiden AS Donald Trump meningkatkan tekanan pada China untuk mereformasi praktik perdagangannya dengan mengusulkan tarif yang lebih tinggi terhadap impor senilai US$200 miliar asal China menjadi 25% dari rencana 10% sebelumnya.

AS menuding ekspor China diuntungkan karena mendapatkan subsidi yang tidak adil selain melakukan pencurian teknologi dengan melangar hak cipta teknologi AS. Trump pun mengancam akan menaikkan tarif pada hampir semua ekspor China ke Amerika Serikat.

Sebelumnya, AS telah memberlakukan tarif 25% terhadap barang-barang China senilai US$34 miliar dan akan mengenakan tarif labih lanjut terhadap tambahan barang-barang China senilai US$16 miliar.

Dilansir dari Reuters, saat isu seputar proteksionisme perdagangan meluas di pasar, kulminasi faktor tersebut dengan data ekonomi yang lesu beserta skandal vaksin menambah sentimen kondisi yang bearish.

Sementara itu, pemerintah China mengatakan bahwa pertumbuhan pendapatan yang lebih lambat berikut penjualan rumah yang lesu menghalangi pertumbuhan belanja konsumen yang lebih tinggi di China.

Di sisi lain, Kaiwen, analis China Fortune Securities, mengatakan perusahaan-perusahaan konsumen menderita "krisis kepercayaan diri" yang menyebar dari perusahaan-perusahaan kesehatan setelah skandal keamanan vaksin baru-baru ini memicu kemarahan luas serta mendorong para investor untuk mengurangi eksposur mereka.

“Sentimen saat ini sedang bingung, sulit untuk menentukan arah pasar dan investor tidak tahu bagaimana situasi akan berkembang dari sini,” kata Xiao Shijun, seorang analis di Guodu Securities.

Sejalan dengan bursa China, indeks Hang Seng Hong Kong lanjut berakhir merosot 2,21% atau 626,18 poin di level 27.714,56, setelah ditutup melemah 0,85% di posisi 28.340,74 pada Rabu (1/8).

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bursa china, perang dagang AS vs China

Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top