China Tutup Tambang Bijih Besi demi Dukung Kampanye Antipolusi

Pertambangan bijih besi di wilayah produksi terbesar di China dipaksa untuk tutup seiring dengan kebijakan antipolusi Beijing yang semakin mencuat. Kebijakan tersebut diperkirakan akan memicu kenaikan pasokan dari luar China dan membawa harga bijih besi menuju US$70 per ton.
Mutiara Nabila | 24 Juli 2018 00:03 WIB
Seorang pekerja sedang meratakan bijih besi di atas kereta cargo di stasiun kereta Chitradurga, di Karnataka, India (9/11/2012)/Reuters/Danish Siddiqui

Bisnis.com, JAKARTA – Pertambangan bijih besi di wilayah produksi terbesar di China dipaksa untuk tutup seiring dengan kebijakan antipolusi Beijing yang semakin mencuat. Kebijakan tersebut diperkirakan akan memicu kenaikan pasokan dari luar China dan membawa harga bijih besi menuju US$70 per ton.

“Sebagian besar pabrik kecil dan menengah akan ditutup pada waktu mendatang karena tidak mampu mengadakan fasilitas yang dibutuhkan untuk bisa memenuhi persyaratan kebijakan lingkungan,” ujar Ivan Ho, konsultan Wood Mackenzie Ltd, dilansir dari Bloomberg, Senin (23/7/2018).

Ho menuturkan bahwa biaya produksi domestik bijih besi di China diperkirakan melonjak hingga 37% dengan semakin ketatnya kebijakan lingkungan itu.

Kebijakan lingkungan China yang mengubah skema industri bijih besi domestiknya itu dinilai akan memberikan keuntungan lebih besar bagi pertambangan di luar China, termasuk Rio Tinto Group, BHP Billiton Ltd., dan Vale SA, yang beroperasi dalam skala besar, biaya produksi lebih rendah, dan kualitas produksi yang lebih tinggi.

Berdasarkan studi dalam laporan resmi WoodMac, peraturan antipolusi Beijing akan membuat pertambangan baru lebih sulit untuk berkembang di China dan mencegah tambang-tambang skala kecil baru untuk memulai operasinya.

“Dengan semakin banyak pertambangan yang ditutup karena peraturan lingkungan dan adanya penyelidikan keamanan yang akan segera diberlakukan, produksi domestik tidak akan punya kesempatan untuk bertumbuh,” kata Ho.

Pada penutupan perdagangan Jumat (20/7), harga patokan bijih besi berkandungan 62% berada pada posisi US$64,65 per ton, memperpanjang periode kenaikan yang melampaui US$60-an per ton dalam 4 bulan terakhir.

Kebijakan antipolusi itu telah memberikan dorongan bagi bijih besi berkualitas tinggi dengan kadungan 65% yang harganya mendekati US$95 per ton dan menuju kenaikan harga selama 4 bulan berturut-turut. Pada perdagangan Senin (23/7), saham berjangka SGX AsiaClear terkerek naik 0,7%.

Laporan Kementerian Ekologi dan Lingkungan China menyatakan bahwa Hebei, yang merupakan rumah bagi kota Tangshan di pesisir Utara China sebagai pusat pembuatan baja bersama dengan ibu kota Shijiazhuang, masuk kedalam peringkat 20 besar kota dengan kualitas udara terburuk pada semester I/2018.

Aturan penutupan sejumlah tambang di China menjadi bercabang. Setelah aturan tersebut, China juga meminta pertambangan skala besar untuk mengurangi hasil produksinya termasuk produksi baja dan penyepuhan logam, serta melakukan penyelidikan pada pertambangan untuk mengendalikan debu dan meningkatkan pengendalian limbah.

“Inspeksi tersebut saat ini dilakukan pada tingkat yang tak terduga,” ujar Ho.

Dampak dari kampanye antipolusi China itu mulai dirasakan, terutama oleh operator tambang pribadi, karena perusahaan milik negara dinilai Ho akan lebih mudah menghadapi kebijakan baru tersebut.

“Sejumlah pertambangan yang kami kunjungi dipaksa tutup karena tidak bisa memenuhi persyaratan fasilitas yang diberikan dari kebijakan lingkungan China. Tambang-tambang tersebut memiliki catatan keamanan yang sangat buruk, praktik yang tidak stabil, dan kontrol pencemaran yang tidak memadai.”

Sumber : Bloomberg

Tag : komoditas, bijih besi
Editor : Pamuji Tri Nastiti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top