Acset Indonusa (ACST) Incar Proyek Strategis Nasional

PT Acset Indonusa Tbk. mengincar pekerjaan infrastruktur yang masuk ke dalam kategori proyek strategis nasional sejalan dengan strategi perseroan yang selektif dalam memilih kontrak.
M. Nurhadi Pratomo | 24 Juli 2018 21:24 WIB
Presiden Direktur PT Acset Indonusa Tbk Jeffrey Gunadi (kedua kiri) didampingi direksi lainnya memberikan penjelasan mengenai kinerja perusahaan seusai rapat umum pemegang saham tahunan dan luar biasa di Jakarta, Rabu (11/4/2018). - JIBI/Dedi Gunawan

Bisnis.com, JAKARTA — PT Acset Indonusa Tbk. mengincar pekerjaan infrastruktur yang masuk ke dalam kategori proyek strategis nasional sejalan dengan strategi perseroan yang selektif dalam memilih kontrak.

Sekretaris Perusahaan Acset Indonusa Maria Cesilia Hapsari menjelaskan bahwa emiten berkode saham ACST itu membidik proyek dengan nilai yang cukup besar dan kompetensi rumit. Dari situ, perseroan bisa mendapatkan margin yang diincar.

Dia mencontohkan untuk pekerjaan fondasi dengan tingkat ke dalaman di atas 90 meter. Untuk proyek gedung, ACST membidik proyek dengan tingkat kesulitan tinggi dan nilai besar yang juga memberikan nilai tambah bagi konsumen.

“Untuk proyek infrastruktur, tender pemerintah yang kami incar adalah yang termasuk dalam proyek strategis nasional [PSN] karena proyek tersebut lebih diutamakan untuk dilaksanakan,” ujarnya kepada Bisnis.com, Selasa (24/7/2018).

Dalam pengerjaan proyek infrastruktur, sambungnya, ACST akan menggandeng kontraktor Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Langkah tersebut ditempuh untuk melengkapi kompetensi yang dimiliki.

Sebagai catatan, Acset Indonusa dan PT Adhi Karya (Persero) Tbk. tengah berkolaborasi membidik tender proyek jalan tol dengan perkiraan nilai kontrak mencapai Rp4,7 Triliun. Beberapa tender yang tengah dikuti antara lain pekerjaan jalan tol JakartaCikampek (Japek) dan tol SerpongBalaraja.

Berdasarkan laporan keuangan semester I/2018, Acset Indonusa mengantongi pendapatan Rp1,65 triliun pada semester I/2018. Pencapaian itu naik 62,21% dari periode yang sama tahun lalu Rp1,02 triliun.

Beban pokok pendapatan juga merangkak naik 56,24% secara tahunan pada semester I/2018. Tercatat, terjadi kenaikan dari Rp852,23 miliar menjadi Rp1,33 triliun.

Dengan demikian, ACST mendapatkan laba yang dapat diatribusikan ke entitas induk Rp73,44 miliar pada semester I/2018. Jumlah tersebut tumbuh 14,48% dibandingkan dengan hasil yang dibukukan pada semester I/2017.

Adapun, kontraktor swasta tersebut tercatat memiliki total ekuitas Rp1,49 triliun per 30 Juni 2018. Sementara, liabilitas naik dari Rp3,86 triliun pada 31 Desember 2018 menjadi Rp5,56 triliun pada semester I/2018.

“Sektor infrastruktur berkontribusi sebesar 77%, konstruksi sebesar 14%, fondasi sebesar 4% dan sektor lainnya sebesar 4%. Besarnya kontribusi sektor infrastruktur dilatarbelakangi oleh kemajuan progres fisik pengerjaan proyek infrastruktur perseroan,” ujar Sekretaris Perusahaan Acset Indonusa Maria Cesilia Hapsari, Selasa (24/7/2018).

Dia menambahkan, sejumlah proyek infrastruktur yang tengah dikerjakan perseroan yakni jalan tol layang Jakarta—Cikampek II, Jakarta Outer Ring Road II ruas Kunciran—Serpong, dan light rail transit ruas Cawang—Dukuh Atas.

Equity Technical Analyst Reliance Sekuritas Indonesia, Lanjar Nafi memproyeksikan ACST akan memeroleh margin pertumbuhan EBITDA di level 10%—14% pada 2018. Tingginya margin laba operasi membuat perseroan berada di level 13% secara forward berbanding 8% dari rata-rata kontraktor lainnya.

“Estimasi target harga pada 2018 berada pada kisaran Rp3.400 per saham dengan konsensus analis pada kisaran Rp3.600 per saham,” jelasnya.

Tag : acset indonusa
Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top