Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

IHSG Tertekan, Eastspring Andalkan Produk Offshore

Tren negatif yang terjadi pada pasar saham nasional selama beberapa bulan terakhir memaksa PT Eastspring Investments Indonesia untuk sedikit mengubah strategi.
Tegar Arief
Tegar Arief - Bisnis.com 04 Juli 2018  |  14:23 WIB
Karyawati berkomunikasi di dekat monitor pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (3/7/2018). - JIBI/Nurul Hidayat
Karyawati berkomunikasi di dekat monitor pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (3/7/2018). - JIBI/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA -- Tren negatif yang terjadi pada pasar saham nasional selama beberapa bulan terakhir memaksa PT Eastspring Investments Indonesia untuk sedikit mengubah strategi.

Untuk saat ini, perseroan mengandalkan produk reksa dana saham syariah offshore atau penempatan portofolio saham di luar negeri. Produk tersebut adalah Eastspring Syariah Equity Islamic Asia Pacific USD.

Chief Investment Officer Eastspring Indonesia Ari Pitojo menjelaskan kondisi pasar yang bergejolak seperti sekarang merupakan momentum tepat untuk melakukan divestasi aset, yakni dengan masuk ke pasar saham di luar negeri.

"Ini bisa menjadi alternatif investasi karena penempatan sahamnya tidak di Indonesia, tapi di berbagai negara di kawasan Asia Pasifik," katanya di Jakarta, Rabu (4/7/2018).

Ari menerangkan masuk ke reksa dana offshore akan lebih menjaga imbal hasil investasi. Pasalnya, pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam beberapa bulan terakhir cukup tertekan sehingga mempengaruhi return reksa dana.

Ada 13 negara yang dijadikan tujuan investasi reksa dana syariah offshore ini. China menjadi negara dengan porsi terbesar yakni 27,36%, Korea Selatan sebesar 20,26%, serta Taiwan sebesar 10,87%.

"Keunggulannya yang utama selain lebih stabil adalah saham-saham di negara-negara itu juga banyak yang di sektor IT, terutama perusahaan internet yang ini di Indonesia belum ada," ungkapnya.

Reksa dana yang menggunakan mata uang dolar AS ini memang cukup diandalkan oleh Eastpring Indonesia. Per akhir Mei 2018, total dana kelolaan produk ini mencapai US$21,95 juta.

Sementara itu, perseroan masih wait and see untuk pasar lokal kecuali di sektor komoditas yang diprediksi masih akan mampu melanjutkan kenaikan hingga beberapa bulan ke depan.

Di sisi pasar obligasi pun, kinerja dalam jangka pendek diperkirakan masih cukup tertekan. Namun, untuk jangka panjang instrumen ini masih bisa diandalkan oleh investor dan manajer investasi.

"Secara umum untuk semua aset kelas memang posisinya lebih menunggu. Artinya, menunggu untuk mendapatkan pengembalian yang lebih baik," lanjut Ari.

Secara total, Eastpring Indonesia telah menerbitkan 8 reksa dana yakni 2 reksa dana saham, 3 reksa dana pendapatan tetap, 1 reksa dana pasar uang, dan 2 reksa sana syariah.

Tiga produk yang menjadi unggulan adalah Eastspring IDR Fixed Income Fund dengan Asset Under Management (AUM) senilai Rp5,97 triliun dan Eastspring Investments Cash Reserve dengan dana kelolaan Rp4,22 triiun.

Produk selanjutnya adalah Eastspring Investments Value Discovery dengan AUM mencapai Rp3,13 triliun.

Adapun total dana kelolaan perseroan per akhir Maret 2018 tercatat mencapai Rp84 triliun.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

reksa dana eastspring
Editor : Annisa Margrit

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top