Pelemahan Rupiah Hantui IHSG, Indeks Diprediksi Terus Tertekan

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) merosot lebih dari 1% pada akhir sesi I perdagangan hari ini, Kamis (28/6/2018), sejalan dengan pelemahan nilai tukar rupiah.
Renat Sofie Andriani | 28 Juni 2018 13:43 WIB
Karyawan melintas di antara monitor pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (16/3/2018). - ANTARA/Sigid Kurniawan

Bisnis.com, JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) merosot lebih dari 1% pada akhir sesi I perdagangan hari ini, Kamis (28/6/2018), sejalan dengan pelemahan nilai tukar rupiah.

IHSG merosot 1,64% atau 94,69 poin ke level 5.692,87 pada akhir sesi I, setelah sempat rebound saat dibuka di zona hijau dengan kenaikan 0,07% atau 4,03 poin di level 5.791,58. Pada perdagangan Rabu (27/6), IHSG berakhir di zona merah dengan pelemahan 0,65% atau 38,10 poin di level 5.787,55.

Sepanjang perdagangan hari ini, IHSG bergerak pada level 5.662,93 – 5.801,35. Sebanyak 67 saham menguat, 340 saham melemah, dan 180 saham stagnan dari 587 saham yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.

Seluruh sembilan indeks sektoral IHSG menetap di zona merah dengan tekanan utama sektor industri dasar (-3,37%), tambang (-2,02%), dan properti (-1,97%).

Bersama IHSG, mayoritas indeks saham lainnya di Asia Tenggara juga memerah siang ini, dengan indeks FTSE Malay KLCI (-0,04%), PSEi Filipina (-1,31%), dan SE Thailand (-0,45%). Adapun indeks FTSE Straits Times Singapura naik 0,12%.

IHSG diprediksi masih akan tertekan pada perdagangan hari ini akibat minimnya katalis positif.

Tim Analis Samuel Sekuritas Indonesia memaparkan bursa Amerika Serikat (AS) ditutup melemah pada perdagangan Rabu (27/6) seiring ketidakpastian baru mengenai sikap AS terhadap investasi China di perusahaan teknologi Amerika.

Bursa merespons negatif pernyataan yang dsampaikan penasihat ekonomi Gedung Putih Larry Kudlow dalam sebuah wawancara di Fox Business Network.

Menurut Kudlow, rencana yang diumumkan Trump tentang penggunaan panel tinjauan keamanan nasional yang diperkuat untuk menghadapi potensi ancaman akuisisi teknologi AS oleh China, bukan berarti menunjukkan sikap lunak terhadap China.

Sementara itu, sentimen pengetatan kebijakan moneter Amerika Serikat (AS) serta antisipasi pasar terhadap kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia, masih mendominasi pekan ini.

“Tren melemahnya rupiah masih akan membayangi pergerakan IHSG. Selain itu, pasar menantikan hasil RDG BI yang berlangsung 27 – 28 Juni 2018 ini,” jelasnya, seperti dikutip dari riset hari ini.

Nilai tukar rupiah terpantau melemah 105 poin atau 0,74% ke level Rp14.284 per dolar AS pada pukul 10.11 WIB, pelemahan untuk hari ketiga berturut-turut.

Dilansir dari Bloomberg, rupiah bergerak ke level terlemahnya sejak Oktober 2015 saat kekhawatiran perang dagang global memicu investor untuk menjual mata uang Garuda bahkan ketika Bank Indonesia (BI) diprediksikan untuk menaikkan suku bunga acuannya pada hari Jumat.

Menurut 23 dari 29 ekonom dalam survei Bloomberg, BI akan menaikkan suku bunga acuan BI 7-day reverse repo rate (BI 7DRRR) menjadi 5% dalam pertemuan kebijakan yang berakhir Jumat (29/6/2018).

“Bank sentral telah melakukan intervensi dalam hal penjualan dolar dan pembelian obligasi lokal di pasar sekunder untuk mendukungnya [rupiah], lebih hawkish dari yang kita duga. Namun pasar masih di bawah tekanan,” kata Guillermo Osses, head of emerging-market debt di Man GLG, seperti dikutip Bloomberg.

Menurut Evan Lie Hadiwidjaja, head of equity research di PT Sinarmas Sekuritas, IHSG kemungkinan akan memperpanjang pelemahannya hingga perdagangan Jumat (29/6/2018).

 

Tag : IHSG
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top