KINERJA KUARTAL I/2018: Ini Alasan Kinerja Bisi International (BISI) Tertekan

Emiten produsen benih PT Bisi International Tbk. menyebut kenaikan biaya produksi menekan kinerja perseroan sepanjang awal tahun ini. Kenaikan biaya tersebut disebabkan oleh cuaca basah yang terjadi selama JanuariMaret 2018.
Dara Aziliya | 29 Mei 2018 15:33 WIB
Direktur Utama PT BISI International Tbk. Jemmy Eka Putra (ketiga dari kiri) tengah memaparkan hasil kinerja perseroan selama 2017, pada hari ini Senin (28/5/2018). Tahun lalu, penjualan Bisi mencapai Rp403,3 miliar, naik 24,74% dibandingkan tahun sebelumnya. - Bisnis/Dara Aziliya

Bisnis.com, JAKARTA – Emiten produsen benih PT Bisi International Tbk. menyebut kenaikan biaya produksi menekan kinerja perseroan sepanjang awal tahun ini. Kenaikan biaya tersebut disebabkan oleh cuaca basah yang terjadi selama Januari—Maret 2018.

Berdasarkan laporan keuangan yang dipublikasikan perseroan, emiten dengan kode saham BISI tersebut membukukan penjualan bersih sebesar Rp483,19 miliar, naik tipis 0,5% dibandingkan penjualan yang dicapai perseroan selama kuartal I/2017 (yoy) sebesar Rp480,536.

Beban pokok penjualan mengalami peningkatan lebih tinggi yaitu 25,92% (yoy) menjadi Rp397,22 miliar pada kuartal I/2018, sehingga laba bruto BISI pada periode tersebut tergerus 47,93% ke level Rp85,97 miliar.

Kondisi tersebut menyebabkan laba periode berjaan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk pun tergerus cukup dalam yaitu sebesar 56,9% menjadi Rp32,83 miliar pada kuartal I/2018, dari kuartal I/2017 yang sebesar Rp76,17 miliar.

Direktur Utama Bisi International Jemmy Eka Putra menyampaikan selama Januari—Maret 2018, musim hujan lebat membuat kebun-kebun milik sendiri dan mitra perseroan terus dalam kondisi basah. Kondisi ini menyebabkan margin perseroan terpangkas tajam.

“Biaya produksi kami pada kuartal I/2018 naik sangat tinggi, sehingga margin turun cukup besar. Awal tahun ini, hujan cukup lebat sehingga dengan biaya produksi per hektare tetap, produksi benih kami lebih kecil dari yang diharapkan,” ungkap Jemmy dalam paparan publik di Jakarta, Senin (28/5).

Jemmy menjelaskan pada tahun ini perseroan optimistis nilai penjualan tetap dapat tumbuh 20% atau berada di tingkat yang sama dengan tahun lalu. Menurutnya, potensi pasar benih jagung dan hortikultura dalam negeri masih cukup besar, apalagi kebijakan pemerintah di sektor ini suportif.

Perseroan mengandalkan varietas baru yaitu BISI 220 untuk dapat meningkatkan penjualan pada tahun ini. Selain itu, Jemmy mengungkapkan pada tahun ini BISI akan mendapat limpahan penjualan dari perusahaan yang diakuisisi perseroan pada tahun lalu.

Sebagaimana diketahui, pada 2017 BISI mengakuisisi PT Branita Sandhini, entitas yang sebelumnya merupakan produsen benih Grup Monsanto. Dengan akuisisi tersebut, perseroan memperoleh pabrik baru dengan kapasitas 13.500 ton per tahun.

“Transaksi akuisisi tersebut telah selesai pada Desember 2017. Tahun ini kami akan memasarkan langsung empat produk perusahaan tersebut dengan merek BISI. Kontribusi penjualan Branita Sandini terhadap total penjualan BISI tahun ini sebesar 6%, dan akan menjadi 11% pada 2019,” ungkap Jemmy.

Berdasarkan data perseroan, 55% pendapatan entitas anak PT Charoen Phokphand Indonesia Tbk tersebut disumbangkan oleh lini benih jagung hibrida, disusul lini pestisida sebesar 37%-38%, sedangkan sisanya disumbangkan oleh penjualan benih sayuran.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
pt bisi international tbk.

Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Top