Pasokan Singkong Kurang, Budi Starch & Sweetener (BUDI) Kesulitan Pacu Produksi

Kesulitan bahan baku membuat PT Budi Starch & Sweetener Tbk. (BUDI) memiliki keterbatasan untuk mendongkrak volume produksi dan penjualan pada 2018. Alhasil, perseroan hanya membidik pertumbuhan pendapatan sebesar 5% pada tahun ini.
Hafiyyan | 25 Mei 2018 09:14 WIB
Karyawan beraktivitas di dekat monitor pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (23/5/2018). - JIBI/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA--Kesulitan bahan baku membuat PT Budi Starch & Sweetener Tbk. (BUDI) memiliki keterbatasan untuk mendongkrak volume produksi dan penjualan pada 2018. Alhasil, perseroan hanya membidik pertumbuhan pendapatan sebesar 5% pada tahun ini.

Direktur Budi Starch & Sweetener Mawarti Wongso menyebutkan, manajemen memprediksi kenaikan pendapatan pada 2018 sebesar 5%, atau Rp2,63 triliun. Tahun lalu, pendapatan perseroan mencapai Rp2,51 triliun, naik 1,7% yoy.

Pada 2017, perusahaan merealisasikan penjualan tapioka 450.000 ton dan produk pemanis 70.000 ton. Dari sisi nilai pendapatan, tapioka berkontribusi 73%, produk pemanis 22%, dan sisanya pendapatan lain.

“Pendapatan 2018 diperkirakan tumbuh 5%, tetapi lebih karena harga jual, bukan volume penjualan. Komposisi pendapatan masih sama, dua per tiga dari tapioka, sepertiga sweetener,” ujarnya.

Per Maret 2018, penjualan tapioka sejumlah 80.000 ton, dan produk pemanis 21.000 ton, turun sekitar 10%--15% dari periode yang sama tahun sebelumnya. Pendapatan perusahaan pun terkoreksi 7,05% yoy menjadi Rp597,56 miliar dari kuartal I/2017 senilai Rp642,94 miliar.

Mawarti menyampaikan, kesulitan memacu produksi ialah karena berkurangnya bahan baku singkong, sehingga harga umbi tersebut meningkat. Singkong mencakup 85% dari komponen biaya bahan baku secara keseluruhan.

Oleh karena itu, perusahaan berupaya mencari pemasok singkong di wilayah selain Lampung, seperti Jawa Timur dan Jawa Tengah. Dia pun optmistis kinerja BUDI dapat bertumbuh seiring dengan peningkatan konsumsi masyarakat Indonesia.

BUDI juga sudah merampungkan akuisisi satu pabrik tapioka di Lampung. Namun, pabrik berkapasitas 60.000 ton per tahun ini baru dapat beroperasi penuh pada semester II/2018 karena masih dalam tahap pembenahan. 

Sebelumnya, perseroan memiliki 15 pabrik tapioka dengan total kapasitas 825.000 ton per tahun. Adapun, pabrik produk pemanis ada 4 dengan kapasitas produksi hampir 300.000 ton per tahun.

Mawarti menambahkan, BUDI mengalokasikan capex Rp120 miliar pada 2018 untuk perawatan peralatanan dan mesin. Sumber dana kombinasi internal dan eksternal.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
pt budi starch & sweetener tbk (budi)

Editor : Ana Noviani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Top